Silvi (Jadilah Ibuku)

Silvi (Jadilah Ibuku)
ibu satu anak


__ADS_3

Malam hari terlewati dengan tenang, karena Khairi tau jika ini saat untuk libur dan memberikan istrinya itu istirahat.


Dan saat tamu bulan merah selesai baru dia bisa menikmati istrinya lagi, sedang untuk saat ini semuanya berhenti dulu.


Silvi tetap bangun sangat pagi, dia membuat sarapan dan bekal untuk suami dan putrinya.


Dan Khairi juga ikut mengubah gaya hidupnya yang awalnya suka makan yang tak sehat.


Kini harus mengikuti setiap arahan dari istrinya itu, terlebih Silvia sangat ketat akan hal seperti itu.


"Kalian sudah selesai sholat subuh, mau sarapan atau bagaimana?" tanya Silvi yang memang sudah selesai memasak.


"Tapi sepertinya putri kita ini sudah tak bisa menahan kantuknya lagi," kata Khairi yang melihat putrinya itu sudah terbaring di atas sajadah.


"Ya sudah biarkan saja mas, oh ya apa di sini ada pedagang sayur, tolong antar ke sana ya," kata Silvi.


"Ikut...." kata Via yang membuka matanya.


Akhirnya mereka pun melakukan jalan Santai bersama, menuju ke seorang pedagang sayur yang sudah terkenal di perumahan.


Meski pedagang itu tak bisa masuk ke perumahan, setidaknya itu bisa membantu para penghuni di dalamnya.


Beruntungnya blok rumah Khairi ini termasuk claster mewah jadi ada di bagian depan perumahan.


"Mama... boleh minta jajan?" tanya via.


"Boleh dong, tapi tak boleh yang di goreng," kata Silvi tersenyum.


"Ya... terus jajanan apa dong ma," kata gadis itu bingung.


"Nanti mama tunjukkan, ayah..." kata Silvi yang melihat suaminya itu ingin menyalakan rokok.


"Maaf..." kata Khairi yang ingat jika di dekat putrinya tak boleh merokok.


Mereka sedang duduk sambil menghitung mobil yang lewat, "kak Via mau klepon apa Klanting, atau mau pukis saja?" tawar Silvi pada putrinya itu


"Enak yang mana yah?" tanya Via yang memang tak pernah makan jajanan tradisional.


"Enak semua, kalau Via suka manis ambil klepon dan Klanting, tapi kalau suka roti ambil pukis, ayah mau dong pukis yang kacang ma," kata Khairi menghampiri istrinya yang sedang memilih belanjaan.


"Ambil sama yang coklat siapa tau Via mau," kata Silvi.


Ternyata benar saja gadis kecil itu sangat suka dan klepon yang membuatnya kaget karena ada gila merah di dalamnya.

__ADS_1


"Enak ma,"


"Baguslah," jawab Silvi.


Akhirnya dia selesai belanja dan bersiap untuk pulang bersama anak dan suaminya.


"Mama tadi masak sarapan apa?"


"Masak sayur asem dan rempah daging, dan ada ayam goreng juga kok," jawab Silvi


"Yah... padahal semua temen ku bekalnya itu nugget ayam yang di TV-TV itu loh ma,"


"Kebanyakan makan yang instan gak baik kak," kata Khairi yang menyahut.


"Memang mama bisa buat nugget sendiri, via mau dong," mohon gadis itu.


"Baiklah, besok bawa bekal nugget ya, sekarang kak via bawa bekal yang sudah mama buatkan, di jamin nanti pasti suka dan tak malu kok," kata Silvi merangkul putrinya itu.


Akhirnya kedua orang itu bersiap untuk ke kantor, bahkan Khairi terlihat gagah dengan seragam yang di kenakan.


"Hentikan.... mas bisa telat," protes Silvi yang terus mendapat serangan ciuman bertubi-tubi.


"Tak mau, rasanya aku belum siap untuk masuk kantor lagi," katanya dengan memelas.


Sedang Silvi hanya tersenyum, "sudah ayo keluar dan ajak putrinya itu berangkat juga, nanti biar aku yang jemput,"


Setelah sarapan, yang cukup mengejutkan bagi Khairi karena putrinya yang biasanya susah di minta makan sayur.


Kini malah terlihat sangat lahap tanpa harus disuruh, "bekal milik kak Via sudah mama taruh di tas, dan ini untuk ayah ya, ingat di makan ya," kata Silvi melepas keduanya pergi.


Akhirnya dia membereskan rumah, karena pembantu yang harusnya datang, belum bisa karena putranya masih sakit katanya.


Jadi Silvi mengerjakan semuanya sendiri, setelah selesai dia juga bersiap untuk ke tempat catering dan toko Frozen food miliknya.


Sesampainya di tempat catering Silvi memarkirkan motornya dan langsung masuk dan sudah di sambut dengan teriakan.


Dia langsung turun ikut membantu produksi karena ada pesanan tumpeng.


Setelah selesai, dia ke toko karena catering sudah ada Vidi dan ibunya.


Dia melihat pembukuan dan kebetulan ada beberapa syok makanan yang baru datang.


Setelah itu dia pun menuju ke bagian rak kulit lumpia, karena sore nanti mau membuat camilan itu untuk suami dan anaknya.

__ADS_1


Silvi tak menyangka jadi seorang ibu satu anak begitu menyenangkan, bahkan dia tak menyangka akan merasakan kebahagiaan ini setelah menikah kembali.


Belum lagi dia memiliki suami yang sangat baik dan penyayang seperti Khairi.


Di sisi lain, ada seorang pria sedang antri di salah satu bank untuk menukarkan uang yang sudah tak laku karena sudah tak beredar.


Beruntung karena uang itu masih termasuk baru, dan dia memilih membuat rekening bank.


Tentu saja rekening baru yang istrinya itu tak tau, karena Mulyadi sedikit kesal karena Dewi ternyata hanya bisa omong besar.


Dan sekarang malah sering memintanya untuk berbaikan dengan dirinya.


Setelah dari bank yang cukup banyak, tapi menghindari kecurigaan dia membaginya dalam empat bank yang dia jadikan tempat penukaran.


Tanpa di duga saat di bank terakhir, dia malah berpapasan dengan Silvi yang sekarang tampak anggun dan cantik dalam balutan gamis syar'i.


Dia tak ingin membuat wanita itu takut, jadi dia pura-pura tak mengenalinya.


"Sepertinya aku bodoh dulu atau memang buta, aku membuang istri sebaik dan secantik kamu, demi Dewi yang bahkan selalu membuat masalah, karena baginya hanya ada uang dan uang," gumam Mulyadi.


Setelah berhasil menukarkan uang yang sebanyak empat ratus juta itu, dia pun memilih berbelanja dan setelah itu akan pergi menuju ke rumah rahasianya.


Tentu saja rumah itu tak ada yang tau, karena di sana ada seorang wanita yang membuatnya senang.


Dari pada harus pulang untuk menemui orang tua, keluarga atau bahkan Dewi istrinya.


Sesampainya di rumah yang berada di atas gunung itu, dia membuka kunci pintu rumah.


Karena tak ada rumah lagi di sekitar sana membuatnya sangat leluasa melakukan apapun.


Lagi pula ini juga rumah dan tanah miliknya yang dia beli dari menipu Silvi.


Dan tak ada yang tau hal ini, Menik sedang duduk di atas karpet saat mendengar suara pintu terbuka.


Ternyata selain menik ada seorang wanita yang di tugaskan untuk menjaga dan membersihkan rumah.


Tentu saja wanita itu mau dan tutup mulut karena bayarannya cukup besar.


"Mas Mulyadi sudah pulang, kalau begitu ibu pulang dulu ya, dan besok ibu datang lagi," pamit wanita itu.


"Iya Bu,"


Menik pun takut karena sekarang dia hanya bersama dengan pria yang membawanya pergi.

__ADS_1


Mulyadi langsung menutup semua jendela dan gorden memastikan rumah menjadi gelap.


Menik pun bangkit dan ingin berjalan ke arah dapur karena dia merasa haus, tapi tanpa terduga dia di tarik ke dalam kamar untuk melayani pria itu.


__ADS_2