
Menik benar tak melakukan apapun selain melayani dan melayani kegiatan panas yang di inginkan pria yang sudah membawanya selama hampir setengah tahun itu.
Menik sudah selesai memasak sayur tumis sawi putih dan lauknya telur ceplok di masak kecap.
"terima kasih, aku di sini selalu di berikan makanan yang cukup baik, oh ya di tambah lagi servis memuaskan dari mu," kata Mulyadi.
"iya mas, tapi bisakah kita ke kota saja, aku takut jika di sini seperti ini, aku janji tak akan meninggalkan dirimu, tapi aku tak mau terus di sini, lagi pula mas pasti juga capek jika harus bolak balik ke sini saat ibu mas memanggil mas pulang," kata wanita itu
"tidak!! pria yang dulu ku kira suamimu itu saja mengajak mu tinggal di gubuk reot agar tak di ketahui orang, apalagi sekarang kamu sudah normal, aku tak mau jika itu terjadi," kata Mulyadi marah..
"maaf mas, seharusnya aku tak mengatakan itu, tapi aku benar-benar kesepian di sini," kata Menik
"aku tak percaya dengan wanita, karena aku terus mendapatkan sakit hati dari wanita," kata Mulyadi yang membuat Menik terdiam.
setelah makan, Mulyadi menikmati rokoknya di depan rumah, dia sendiri hanya takut jika Menik berubah.
wanita itu sekarang sangat pos dan mengikuti semua keinginannya. dia takut jika nanti mereka pindah mrnik berubah.
karena bagi Mulyadi sosok Menik ini membuatnya ingat dan merasa jika ada Silvi lain di sampingnya.
__ADS_1
Menik pun hanya bisa menghela nafas sambil membereskan rumah, dia tak mau menentang sosok Mulyadi.
karena pria itu yang membuatnya sembuh seperti saat ini, tapi dia kadang juga merasa aneh, bagaimana bisa mereka yang terus berhubungan tapi dia tak hamil.
meski mentruasi nya sekarang tak datang, bahkan selama dua bersama dengan pria itu.
Mulyadi membawa jamu untuk mrnik minum, "minumlah, agar tubuh mu segar, maaf tadi aku membentak mu,"
"iya mas aku juga minta maaf, padahal mas sudah bilang berkali-kali untukku ingat selalu mengikuti perkataan mu," jawab Menik yang minum jamu tradisional itu.
Mulyadi menyeringai, setidaknya untuk saat ini mereka bahagia, untuk kedepannya dia lihat saja nanti.
di tempat lain Silvi sedang bermalas-malasan karena kehamilannya ini benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.
"Bu Silvi mau di buatkan sesuatu?" tanya mbok Jum
"tidak usah deh mbok, tapi sebenarnya aku lagi pingin makan tahu isi goreng panas dengan sambel petis," kata Silvi yang dari tadi sedang duduk menikmati tontonan televisi
"baiklah mbok buatkan, nanti sekalian buat Snack saat nak Via pulang sekolah," kata mbok Jum
__ADS_1
"terima kasih ya mbok, maaf jika aku merepotkan," kata Silvi.
"ibu ini ngomong apa, ini memang sudah menjadi tugas saya sebagai seorang pembantu di rumah ini," kata wanita itu yang langsung ke dapur di bagian belakang.
Khairi yang sedang berada di kantornya, tiba-tiba merasakan ingin makan rujak buah.
tapi tak mungkin dia keluar karena ini ham kerja, jadi dia menitipkan pesanannya itu pada office boy.
saat office boy itu membagikan makanan pesanan pegawai, semuanya salfok dengan rujak buah dengan nanas potong juga.
"siapa yang pesan rujak, memang ada yang hamil ya di kantor," tanya salah satu pegawai.
"ini pesanan pak Khairi, ya makan rujak buah gak harus hamil juga ya kan," kata office boy itu yang memang mendapatkan bonus lebih dari Khairi.
dia pun bergegas memberikan pesanan pria itu, meski sudah makan masakan buatan istrinya.
tapi dia masih menikmati rujak buah itu, bahkan dia sangat lahap menyantapnya.
setelah beberapa waktu, tahu isi pun matang dan Silvi langsung memakannya dengan lahap.
__ADS_1
dia habis tiga buah, dan setelah itu dia berangkat untuk menjemput putrinya.
meski sebenernya dia itu merasa lelah, tapi ya mau bagaimana lagi ini sudah tugasnya jadi seorang ibu.