Silvi (Jadilah Ibuku)

Silvi (Jadilah Ibuku)
ingatkan mas.


__ADS_3

kedua remaja itu pun pergi, tapi Silvi yang mengenal betul keluarga mantan suaminya merasa khawatir.


"aku yang akan bilang pada bibi, aku juga tak mau jika nasib buruk akan menimpa Nanda sayang," kata Khairi.


"iya mas, cukup aku yang merasakannya, aku bahkan berdoa semoga tak ada wanita yang merasakannya lagi," terang Silvi.


Khairi mengangguk, dia dan istrinya pun masuk dan menikmati waktu bersama.


sedang Nanda dan Reza pulang, tentu sebelum ke rumah gadisnya, Reza mengajak Nanda ke rumahnya.


di rumah Bu Narti tentu saja bersikap baik karena tau siapa gadis yang di pacari putranya itu.


"kalian dari mainnya, padahal ibu masih ingin ngobrol tapi ini dan ayah harus menghadiri kondangan jadi kalian nikmati saja main di sini," kata wanita itu seolah-olah sangat perhatian.


"baiklah Bu, lain kali kalau mau kesini aku akan bilang dulu biar bisa berbincang dengan ibu," kata Nanda itu.


"baiklah, kamu berangkat dulu ya, kalian bisa ngobrol di rumah," kata Bu Narti.


setelah kedua orang tuanya pergi, terlihat Reza langsung dekati Nanda dan mulai mencium bibir gadis itu.


Nanda pun pasrah, tapi dia berusaha untuk menjaga batasan, tapi kali ini gagal karena gencarnya serangan Reza.


akhirnya sore itu Nanda pun takluk di bawah hentakan dan goyangan kekasihnya.

__ADS_1


bahkan gadis yang di jaga betul oleh keluarganya pun tak luput dari keluarga yang entah di sebut apa.


Mulyadi pun punya pikiran lain, dia sebenarnya ingin tinggal di sini selamanya bersama dengan Menik.


tapi dia takut uang miliknya di bank tak cukup, jadi dia memutuskan untuk melakukan pekerjaan terakhir kali.


ya malam itu dia ingin melakukan perampokan sendiri, tentunya dia harus melakukan ritual.


dia berkeliling untuk mencari tempat yang cukup sepi karena ini akhir pekan jadi banyak yang sedang liburan


dia pun menggasak habis harta pemilik rumah mewah, setidaknya ada dua rumah mewah yang menjadi target karena memang longgar penjagaan.


setelah mengambil semua yang berharga, dia pun pergi dengan membawa tas besar miliknya.


tentu dengan mengunakan surat nikah yang dia palsukan, dan para warga juga tak curiga karena surat itu seperti asli.


Mulyadi pun mengakhiri kegilaannya untuk merampok karena harta yang dia miliki sudah terlalu banyak.


bahkan uangnya di bank sudah tak terhitung, sudah dua Minggu Menik tak bertemu dengan pria yang membawanya.


sedang Khairi hari ini mengajak istrinya itu menghadiri acara pernikahan temannya yang ada di desa yang cukup terpencil.


untungnya meski sedang hamil Silvi tak rewel tapi malah Khairi yang makin manja.

__ADS_1


mereka sampai di desa yang terletak di pegunungan, bahkan jalan saja cukup sempit.


tanpa di duga, mereka berdua malah bertemu mulyadi yang juga hadir dalam pesta itu.


melihat hal itu, secara reflek, Khairi berdiri menghadang pria yang ingin mendekati istrinya.


"tenang saja, aku tak akan melukai dirinya, oh ya aku cuma mau bilang, aku sekarang sudah menemukan kebahagiaan ku, jadi tak usah takut, aku tak akan menganggu mu, dan berbahagialah," kata Mulyadi yang kemudian pergi begitu saja.


sedang Silvi dan Khairi bingung, ternyata pria itu sudah tau at mungkin jadi mereka semakin senang karena tak akan ada yang mengusik hubungan mereka lagi.


Silvi dan Khairi sudah merasa bahagia sekarang, keluarga mereka lengkap tinggal menunggu kehadiran bayi yang sedang berada di dalam kandungan ibunya.


Mulyadi sudah selesai mengikuti pesta, jadi dia pamit pulang agar bisa istirahat.


saat sampai di rumah yang dia tinggali, dia melihat ada seseorang yang berada di sana


"hei siapa mau aia di sini, kamu harus tau ini tanah milik ku," marah Mulyadi.


"ah ini saya cuma penasaran," jawab pria itu yang langsung kabur.


Mulyadi pun memutuskan untuk mengajak mrnik pindah rumah dan memulai semuanya dari awal.


Menik akhirnya bisa hidup seperti warga sekitar, dan dia kini di kenal sebagai istri dari Mulyadi.

__ADS_1


dan mereka kini tinggal di desa yang terdekat di gunung itu, dan mereka akdn mulai semuanya di sana.


__ADS_2