Silvi (Jadilah Ibuku)

Silvi (Jadilah Ibuku)
maafkan aku


__ADS_3

Khairi sangat tak enak dengan Silvi, pasalnya dia tak menyangka jika putrinya itu minta izin seperti itu, pasalnya dia tak ingin jika Silvi tak nyaman saat berada di dekatnya.


Tapi tanpa di duga wanita itumalah terlihat lebih santai dan bisa tersenyum dengan putrinya.


"Boleh aku antar makanan ini keluarga mu, dan tolong temani Silvia ya, karena sebentar lagi ada suster yang akan menyuntiknya," kata pria itu.


"Iya mas," jawab Silvi yang mengizinkan.


Khairi pun menghampiri ruangan dari pak Sutrisno, dia masuk saat pak Sutrisno sedang di suapi oleh istrinya.


"Assalamualaikum pak, ini kue dan teh hangat untuk kalian dan maaf putri kalian sedang ada di ruangan putriku," kata Khairi.


"Waalaikum salam, bukankah anda yang duduk di samping hakim?"


"Iya Bu, dan saya merasa buruk saat itu, karena melihat orang yang harusnya menjaga putrinya malah berdiri di samping musuhnya, dan meninggalkan putrinya seorang diri," kata Khairi tegas.


"Apa maksud anda," kata Bu tri bingung dengan ucapan Khairi.


"Kalau saya boleh jujur, saya menyukai putri kalian dari dia praktek kerja lapangan, tapi satu ucapannya membuat saya sedih, dia memilih mengikuti permintaan orang tuanya yang sudah menjodohkan dia, tapi Tuhan berbaik hati hingga mempertemukan kami lagi, perasaan itu tak berubah tapi sekarang saya tak pantas untuk putri anda, jadi saya mohon tolong jangan sakiti lagi,karena bagi dia kalian adalah dunianya," kata Khairi dengan wajah serius.


Pak Sutrisno dan Bu Tri diam, bagaimana mereka berdua begitu bodoh.


Jika dulu mereka tak memaksa putrinya menikah dengan pria yang menghancurkan putrinya pasti dia sekarang bahagia dengan pria tampan yang tampak gagah itu.


"Iya dia seorang janda, itulah banyak pandangan miring ya," kata pak Sutrisno.


"Kenapa anda tak mengerti, bukan karena dia janda, melainkan karena dia itu sangat baik dan saya juga sudah punya anak, jadi tak pantas untuknya yang masih sendiri, dan tolong berhenti berpikiran buruk pada putri anda, karena dia itu sudah terlalu banyak terluka," kata Khairi yang memijat kepalanya.


"Ya sudah, pasti sekarang putri saya sudah bangun, saya permisi," kata Khairi yang meninggalkan kamar itu


Tapi dia kaget saat melihat sepupunya sedang berdiri di depan ruangan putrinya.


"Kenapa kamu berdiri di sana, ayo masuk," ajak pria itu.

__ADS_1


"Kenapa putri mas bisa begitu dekat dengan gadis itu, apa mas mengenalnya, jika Ita boleh bantu aku mengenal dan mendekatinya," mohon Satrio.


"Kamu gila, jika orang tua mu tau, kamu bisa habis di hajar mereka," kata Khairi kaget.


"Aku tak peduli, aku mencintai dia saat pertama kali melihatnya, di itu ah... sudah di ungkapkan," kata Satrio yang begitu berharap.


"Dia adalah gadis baik, dia dulu pernah praktek di tempat ku bekerja,dan beberapa bulan lalu aku bertemu lagi dengannya saat dia mengajukan gugatan cerainya,jadi dia itu janda, apa kamu masih mau mengenalnya,"


Tanpa di duga Satrio mengangguk, Khairi pun tak bisa mengatakan apapun,karena pemuda itu seperti tak mendengar ucapannya.


"Ingat dia itu sedikit sensitif terhadap orang lain, jadi jangan membuatnya tidak nyaman ya," kata Khairi.


"Iya mas aku mengerti," jawab pemuda itu dengan sangat senang.


Jadi mereka pun masuk bersama, dan Silvi kaget melihat sosok pemuda yang tadi sempat membuatnya tidak nyaman.


"Silvia sudah di suntik, ibu pamit mau ke ruangan sebelah ya," kata Silvi yang ingin pergi.


"Jangan ... temani Silvia,"


Silvi membisikkan sesuatu hingga membuat gadis itu ceria lagi, dan gadis kecil itu membiarkan sosok Silvi pergi.


"Tunggu Silvi, aku ingin bicara sebentar dengan mu," kata Khairi yang menahan tangan wanita itu.


Keduanya pun keluar dari ruangan, Satrio melihat sepupunya itu terlihat santai bisa berbincang dengan Silvi.


Tapi aneh saat Silvi berdekatan dengan orang lain, dia tampak tak nyaman dan panik.


"Iya mas ada apa?"


"Silvi, aku ingin meminta sesuatu tapi jangan marah ya, ada seorang pria ingin berkenalan dengan mu," kata Khairi.


"Siapa, pria tak sopan itu?" tanya Silvi.

__ADS_1


"Dia memang sangat antusias dan dia bilang dia menyukai diri mu dari pertama dia melihat mu," kata Khairi.


"Biarkan dia berusaha, lagi pula kami baru bertemu tadi pagi kenapa begitu cepat, tapi kenapa ada orang yang tak sadar keadaan," kata Silvi yang langsung meninggalkan Khairi.


Entahlah sekarang hati Silvi begitu bingung, kenapa rasanya begitu sesak mendengar Khairi ingin mengenalkan dia dengan pria itu.


Dia pun menuju ke kamar milik ayahnya, dan melihat adiknya sedang belajar.


Dia memilih duduk di dekat ranjang ayahnya, sambil terlihat bimbang bahkan tatapan matanya juga kosong.


"Ada apa Silvi, apa ada yang menganggu mu?" tanya pak Sutrisno.


"Tidak ayah, aku tidak apa-apa," jawab Silvi mencoba tersenyum


Tak terasa sudah seminggu terlewati, dan sekarang mereka harus pulang.


Dan sebelum itu Silvi mengunjungi kamar milik Silvia putri Khairi. saat dia masuk dia menyalami ibu dan ayah Khairi.


Karena di kecil masih tidur, "ada apa nduk,"


"Saya mau pamit Bu, ayah saya sudah pulang, dan saya ingin memberikan boneka ini pada Silvia, karena mungkin saya tak akan bertemu lagi dengannya," kata Silvi.


"Aduh Silvia masih tidur, tapi kamu ini siapa, kenapa begitu dekat dengan Silvia padahal gadis itu selalu mengamuk saat ayahnya dekat dengan seorang wanita, memang apa yang kamu lakukan, apa kamu melakukan ilmu hitam pada ayah dan anak itu," kata seorang wanita yang sudah setengah baya.


"Astaghfirullah Bu, saya masih punya Allah, kenapa saya harus melakukan itu, saya tulis sayang pada Silvia," kata Silvi yang meremas boneka yang dia bawa.


"Sepertinya kamu tak bisa punya anak ya, karena biasanya yang jawab begitu itu orang yang gak bisa hamil, pasti mandul ya," kata wanita itu tanpa henti.


"Maafkan saya, saya sudah di tunggu oleh keluarga saya, ibu titip boneka beruang ini dan hadiah untuk Silvia ya," kata Silvi yang langsung pamit pergi.


Luka yang dia coba sembuhkan kini kembali menggangga memang salah jika wanita yang gagal dalam pernikahan dan belum punya anak menyayangi anak orang lain.


Dia pun bergegas pergi bersama orang tuanya, sedang Satrio yang baru satu kantin melihat Silvi pergi.

__ADS_1


Dia pun merasa kesal karena sudah seminggu ini hubungannya dengan Silvi berjalan di tempat tanpa kejelasan.


Padahal dia sudah mengirimkan bunga dan semua hadiah, bahkan dia mengirimkan pesan lewat Instagram agar wanita itu membacanya.


__ADS_2