
Setelah pernikahan dan sedikit resepsi yang di adakan tak terlalu mewah.
Semua sudah pulang kembali ke rumah masing-masing, begitu pun Silvi yang kini di boyong oleh suaminya tinggal di rumah milik Khairi.
Meski awalnya Silvi menolak karena takut mengingatkanku Khairi pada mantan istrinya.
Tapi nyatanya rumah itu rumah baru, karena dulu saat istri Khairi masih hidup mereka lebih memilih tinggal bersama orang tua Khairi.
"Mas ini beneran rumah kamu, sepertinya terlalu besar deh untuk kita yang cuma bertiga," kata Silvi.
"Tidak kok ini sengaja, kan aku mau punya banyak anak dari mu," kata pria itu yang membuat Silvi malu.
"Tapi mas, apa mas lupa jika aku itu tak bisa memiliki anak selama menikah dengan mantan suamiku, takutnya aku juga akan mengecewakan mas Khairi," kata Silvi sedih.
"Ya sudah aku tak masalah tentang itu, karena kita sudah memiliki Via," jawab Khairi yang tampak tenang.
Akhirnya keduanya pun menata baju di kamar utama rumah itu yang memang paling luas bahkan ukuran ranjangnya saja king size.
Meski tak tingkat, tapi rumah khairi sangat luas, bahkan di garasi ada dua mobil yang terparkir.
Setelah mandi mereka berdua duduk menikmati waktu siang ini, karena di rumah hanya mereka.
Sebab Via sudah di culik oleh om bocah itu. karena pria itu takut jika keponakannya itu akan mengganggu orang tuannya.
Silvi tampak duduk tak tenang, sedang Khairi yang memang sudah tak sabar mendekat harus sabar.
Karena dia tak mau membuat istrinya itu ketakutan atau bahkan trauma.
Karena pemaksaan atau mungkin ada yang tidak bisa di ungkapkan oleh Silvi.
"Mas... aku ingin kamu melihat sesuatu, seharusnya aku menunjukkan ini sebelum menikah agar kamu tak kecewa, tapi maafkan aku .." kata Silvi yang melepaskan kemeja yang dia kenakan
Dengan memunggungi suaminya, Khairi kaget melihat bekas luka yang fotonya pernah dia lihat di berkas pengajuan perceraian.
"Ini luka itu, luka yang di buat pria biadab itu?" tanya Khairi tak percaya.
"Iya, ini luka yang membuat ku tak bisa menerima lagi, dan setelah satu setengah tahun, akhirnya luka ini sembuh meski harus meninggalkan jejak buruk," kata Silvi.
Khairi memeluk istrinya itu, dan tak sengaja tangan Khairi menyentuh benda kenyal dan lembut itu.
Silvi awalnya kaget, tapi dia sadar jika dia sudah menikah dengan Khairi.
Dia menoleh dan mulai berciuman dengan suaminya itu, tak hanya itu Khairi langsung mengendong istrinya ke kamar.
Siang itu, dia menyalakan AC paling dingin agar di kegiatan panas mereka ini tak menjadi kebakaran.
__ADS_1
Keduanya pun mereguk cinta dalam h***at yang sudah terpendam selama ini.
Bahkan Khairi tak menyangka masih sangat sempit, entah pria goblok macam apa yang meninggalkan wanita sebaik Silvi.
"Kamu hanya tau gaya konvensional?"
"Tentu tidak, aku di cekoki film oleh para pegawai ku sebelum menikah," kata Silvi yang kini mengambil alih.
Akhirnya keduanya selesai dan langsung tertidur pulas karena lelah, Silvi tak menyangka akan bisa sebahagia ini saat bersama Khairi pria yang tepat.
Dia berdoa semoga dia bisa memberikan momongan pada pria itu.
Sedang di tempat mantan suami Silvi, pria itu merasa bodoh saat tau sekarang Silvi sudah menikah.
Dan perempuan itu kini juga sudah sukses menjadi seorang pengusaha catering dan Frozen food.
"Lihat kan sekarang tadi, jamuntuh goblok, kenapa membuang wanita sepintar Silvi dalam mencari uang demi ****** yang sekarang meninggalkan mu hah.." Marah Bu Narsi.
"Sudah Bu, kenapa memarahi Yadi, kamu juga salah memperlakukan menantu mu kayak pembantu dan memeras hartanya untuk menghidupi kita," tegur pak Nardi
"Diam pak, jangan bicara padaku, karena aku tak ingin bicara padamu," kata Bu Narsi yang sekarang bingung karena butuh uang besar.
"Bisakah kalian diam, kepala ku mau pecah rasanya," kata Yadi yang tak bisa berpikir jernih.
"Kamu mau mati dengan memintaku melakukan itu, goblok ya," marah Yadi.
Dia benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa adiknya memikirkan ide gila itu.
Sedang pukul empat sore, Silvi kaget saat merasakan sesuatu yang membuatnya terbangun.
"Mas ..."
"Maaf aku membangunkan mu, adikku tak sabar mau masuk lagi," kata Khairi benar-benar tak ada puasnya.
Tak hanya itu, pukul lima sore keduanya baru keluar rumah, dan Silvi merasa beruntung karena rumah suaminya itu memiliki robot pembersih pintar.
"Kopi mas," kata Silvi memberikan kopi itu pada suaminya.
"Terima kasih, biasanya jam segini ada pedagang macam-macam lewat, kamu suka jajan kan?" tanya Khairi.
"Tentu, tapi jajanan yang biasa di jual di SD-SD gitu," jawab Silvi.
"Ya kebetulan biasanya jam segini ada penjual tahu bulat, pentol bakar atau pentol kuah, pecel lewat pas jam lima begini biasanya," kata Khairi yang hapal
"Kok mas bisa tau," tanya Silvi heran.
__ADS_1
"Menurut mu kenapa?"
Silvi yang mengerti hanya tersenyum, tentu saja karena putrinya itu, hingga membuat pria sibuk ini hapal jam jajanan lewat.
Benar saja tak berselang lama ada pedagang tahu bulat lewat, Silvi tak menghentikannya karena memang tak ingin.
Tapi dia langsung bangkit saat melihat penjual pentol bakar, dia membeli dua puluh ribu dan tak lupa gorengan.
Sedang Khairi membeli pecel sayur dan kerupuk puli yang memang sudah jarang di temukan.
Setelah itu mereka kembali masuk kedalam rumah dan menikmati camilan yang di beli.
Sedang Via sudah membuat heboh satu rumah kakek neneknya karena jam itu waktunya dia ngemil.
"Ayo ke minimarket om, tadi om sudah janji mau bawa via ke minimarket saat mau ikut menginap di rumah sini," kata bocah itu dengan manja.
"Iya iya... ya tuhan bocah ini, tapi ingat tak boleh beli coklat dan eskrim," kata pemuda itu yang tak bisa melawan keponakannya.
"Om jahat..." kata Via marah.
"Sudah sudah kita berangkat, ayo mas Luqman," ajak istri pria itu.
"Yey... Tante Nisa yang terbaik," kata Via yang langsung panutan pada kakek neneknya.
"Via ingat jangan merepotkan Tante dan om mu ya, titip Via ya nduk nanti uang jajannya biar ibu ganti," kata Bu Wati yang tau kondisi putra ketiganya itu
"Tidak usah Bu, kalau begitu kami permisi," jawab Nisa yang langsung pergi dengan via dan suaminya.
Mereka sampai di minimarket dan Via langsung mengambil keranjang berwarna kuning khas minimarket itu.
Setelah itu dia mengambil semua yang dia inginkan, mulai dari susu dan camilan.
Bahkan sampai hampir penuh, saat membayar Luqman sedikit was-was karena dia hanya bawa uang tiga ratus ribu.
Tanpa di duga,setelah di total Via mengeluarkan uang dari tadi kecil yang di bawanya.
"Apa itu Via?" tanya Nisa.
"Ini uang saku dari mama Silvi, tadi mama bilang Via tak boleh merepotkan Tante dan om, jadi via harus bayar jajan Via sendiri," jawab gadis itu mengulurkan uang seratus lima puluh ribu.
Luqman dan Nisa pun tak menyangka jika kakak iparnya itu sudah menerapkan kedisiplinan untuk putri sambungnya.
"Terima kasih sudah berbelanja," kata kasir.
"Terima kasih Tante," kata Via yang sekarang terlihat lebih sopan.
__ADS_1