
Dokter pun keluar dari ruang operasi, dan mengatakan jika semua baik-baik saja, dan beruntung benturan di kepala Silvi tak menyebabkan wanita itu mengalami hal yang buruk.
Orang tua Silvi baru saja tiba, mereka kaget melihat semua keluarga Khairi ada Adi rumah sakit
"Maaf bagaimana kondisi Silvi?"
"Dia baik pak, tapi mungkin perlu waktu sebulan untuk pemulihan, dan saya yang akan menanggung semuanya, karena dia mengalami semua ini karena menyelematkan putri saya,"
Bu Tri yang melihat Silvia masih sesenggukan pun menghampiri gadis kecil itu.
"Apa kamu Silvia, gadis cantik yang selalu membuat Silvi tersenyum," kata Bu Tri.
"Maksudnya Bu?" tanya Bu Wati bingung.
"Iya, Silvi pernah bilang, pertama kali melihat gadis itu dia merasa jika begitu bahagia, dan kedua kalinya bertemu saat dibtunah sakit saat dia sakit, entahlah kenapa rasanya hatinya ikut sakit saat melihat gadis kecil itu terbaring tak berdaya,"
"Ibu...."
"Jangan menangis lagi ya nduk, doakan saja ibu Silvi," kata Bu Wati.
Akhirnya mereka bisa menjengguk Silvi di ruang rawat, karena wanita itu sudah di pindahkan dari ruang intensif.
Khairi pamit harus pulang karena kondisi putrinya juga cukup menghawatirkan.
Jadi dia akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak melukai Silvia.
Hari berganti hari, dan beruntung setelah seminggu perawatan intensif, kondisi Silvi sudah sangat baik.
Bahkan wanita itu sudah terlihat pilih meski tetap harus melakukan beberapa pemeriksaan.
Tapi Silvi menjalani semuanya dengan baik, sudah seminggu tapi belum ada tanda-tanda dari Khairi datang menjenguknya.
"Apa dia pria tak bertanggung jawab, kenapa sampai sekarang tak datang menjenguk ku ya," kata pak Sutrisno.
"Ayah, mas Khairi itu bukan hanya pegawai PNS pemerintah, dia itu juga memiliki usaha, jadi wajar jika dia sibuk," jawab Silvi.
Tanpa di duga yang di bicarakan datang, "apa aku membuat kalian merasa sedih, karena tingkah ku yang hilang begitu saja, maaf ya karena saya sibuk sebab ini akhir tahun," kata pria itu.
__ADS_1
"Iya nak, maaf kamu pasti mendengar ucapan yang tidak-tidak, karena kami kira kamu sudah melupakan Silvi," kata pak Sutrisno.
"Ayah ini bilang apa, sudahlah aku ingin segera pulang karena pekerjaan ku pasti akan sangat kacau balau karena dua orang yang bekerja di tempatku itu bisa salah buat bumbu," kata Silvi yang khawatir pada cateringnya.
"Tenang saja nduk, ibu yang mengawasi semuanya sendiri, jadi ayah dan adik mu yang bergantian jaga selama ini," kata Bu Tri.
"Terima kasih dan maaf aku sangat merepotkan," jawab Silvi.
"Tidak kok, kamu tidak merepotkan." jawab keduanya.
"Ya sudah, nak Khairi titip Silvi ya, ibu dan ayah harus pulang, karena sudah harus bawa semua baju kotor, dan tolong ya," kata Bu Tri yang tersenyum.
Kedua orang itu pergi meninggalkan rumah sakit, meninggalkan kedua orang itu,Silvi pun merasa tak enak jika harus ke kamar mandi.
"Mau jalan-jalan?" tanya Khairi
Pria itu mengulurkan tangannya pada Silvi, tanpa di duga Silvi meraih tangan pria itu.
Silvi pun turun dan dia berjalan dengan di peluk oleh Khairi, mereka kini duduk di depan ruang rawat.
Wanita itu terlihat sangat putih saat terkena sinar matahari, "indah..."
Bahkan mereka bertatapan dengan cukup lama, dan tanpa sadar tangan Khairi mendekat dan menyentuh pipi wanita itu.
Tanpa terduga Silvi meneteskan air mata, "kenapa kamu menangis dek?"
"Kenapa aku merasa tak bisa bahagia ya mas, aku hanya ingin di cintai, tapi kenapa aku harus mengalami semua ini.."
Mendengar itu Khairi langsung memeluk Silvi dan langsung memeluk pinggang pria itu.
"Kamu pasti bisa bahagia dek,"
"Siapa yang akan mencintai wanita seperti aku mas, aku ingin bahagia..." tangis Silvi.
Khairi ikut begitu sakit merasakannya, keduanya saling menangis sambil berpelukan hingga membuat beberapa orang yang lewat bingung.
Tapi setelah puas, mereka malah saling tertawa bersama, dan di sinilah Silvi merasa sangat nyaman dengan Khairi.
__ADS_1
"Lapar gak habis nangis?" tanya Khairi.
"Iya sih, tapi aku ingin makan bubur ayam," kata Silvi.
"Sepertinya belum boleh, mending makan bubur beras tadi, karena tadi yang aku sendiri yang buat loh," kata Khairi yang mengajak Silvi masuk kembali ke dalam kamar.
"Baiklah aku mengerti, mau coba bubur buatan pak PNS ini," kata Silvi
Sedang di rumah, Silvia sedang memohon kepada neneknya untuk melakukan panggilan video call pada ayahnya.
"Mak... Via mohon, aku ingin melihat ibu Silvi dan ayah dong," mohon gadis itu
"Gak boleh, nanti ibu sedang istirahat jangan-jangan," kata Bu Wati.
"Mak..."
Bu Wati langsung membuka ponselnya dan mulai memanggil putranya itu.
Khairi memberikan ponselnya pada Silvi, "ibu!! maaf!!" teriak gadis itu yang langsung histeris.
"Tenang sayang, ibu sudah lebih baik nanti kalau pulang Via yang jemput ya," kata Silvi.
"Iya ibu, terus ibu itu siapa yang suapin?" tanya Via.
"Ayah dong," kata Khairi yang langsung memunculkan kepalanya yang menempel pada Silvi.
"Ih ayah... Via juga mau di suapi, ayah pilih kasih sama ibu nih,"
"Kan ibu istimewa," kata Khairi tertawa.
Beruntung Silvi itu menempatinya kelas satu jadi dia tak menganggu atau terganggu dengan pasien lain.
"Jadi kapan ayah dan ibu menikah, ibu mau kan jadi ibu Via," jaya gadis kecil itu.
"Apa..." kaget Silvi.
"Tunggu ibu khilaf karena mana mau kalau ibu tak khilaf dengan ayah, ha-ha-ha,"
__ADS_1
"Sayangnya ayah gak peka, padahal tinggal lamar doang loh," kata Silvi.
Itu membuat Khairi melihat ke arah Silvi, "apa mas tak penasaran kenapa aku bisa begitu dekat dengan ku," tanya Silvi.