
Silvi baru pulang setelah mengantar putrinya ke sekolah, dia harus pulang karena harus mengambil sesuatu dulu sebelum ke toko dan tempat catering.
tapi saat dia melewati di suatu desa, dia melihat masih banyak orang yang sedang menyaksikan dua mobil pemadam kebakaran sedang berjibaku memadamkan api.
bahkan terlihat para petugas itu masih melakukan pendinginan terhadap rumah yang di terbakar itu.
tapi dia tak terpengaruh jadi dia memilih pergi saja, toh bukan urusannya juga.
dia sampai di tempat catering ternyata masih ada beberapa pesanan yang masih di buat.
"apa perlu bantuan?" tanya Silvi yang baru datang
"tidak usah mbak,duduk saja karena aku yakin jika kita semua tak butuh bantuan karena tinggal satu pesanan, karena sesuai perintah mbak sekarang kita batasi pesanan," kata Vidi pada kakak perempuannya itu.
"adik pintar, setelah ini kita bisa menyiapkan semua pesanan lain dan besok bisa lanjut kerja, atau bagaimana jika aku buka waralaba, kalian semua bisa memiliki warung, dan bisa memiliki penghasilan lebih besar tapi tentu dengan mengambil semua bahan jualan dari sini, dan Vidi serta ibu yang akan menjadi penanggung jawab untuk pusat di sini, bagaimana?" tanya Silvi.
"tidak usah lah mbak, kami mah suka begini saja, karena kami tau bagaimana capeknya jaga warung," kata para pegawai Silvi.
mendengar jawaban itu, Silvi hanya tersenyum bagaimana tidak bagaimana mereka menolak saat di tawari pekerjaan bagus seperti ini.
"ya sudah kalau kalian lebih memilih kerja disini," jawab wanita itu tersenyum.
tak terasa sudah pukul satu siang, Silvi pun pamit untuk menjemput putrinya Via yang memang baru selesai sekolah.
dia pun mengendarai motor miliknya karena suaminya Khairi yang membawa mobil untuk bekerja.
__ADS_1
sesampainya di sekolah ternyata Via sedang mengikuti kegiatan Pramuka yang wajib di ikuti seluruh siswa.
jadilah Silvi menunggu sambil menikmati pentol kuah yang jualan di depan sekolah, "mbak nunggu putranya selesai sekolah ya, kelas berapa memangnya?" tanya ibu penjual pentol itu.
"kelas dua SD Bu, apa lama kegiatan seperti ini, kok anehnya tidak ada pemberitahuan di grup wali murid ya?" tanya Silvi yang sebenarnya tak masalah.
tapi dia takut jika putrinya itu kelaparan atau uang sakunya habis karena dia tak membawakan bekal tadi karena kesiangan.
"tidak lama kok Bu, masih muda kok anaknya sudah kelas dua, dulu nikah muda ya?"
"iya Bu, maklum sudah ketemu jodohnya," jawab Silvi yang tak mau makin runyam.
karena dia melihat para anak-anak itu berpanas-panasan akhirnya dia beli teh dingin banyak dan roti.
kemudian dia langsung membawanya ke para siswa yang sedang melakukan kegiatan.
"mama!!" teriak bocah itu.
Silvi memberikan ciuman jarak jauh, akhirnya para pembina pun membagikan roti dan minuman itu sebelum melanjutkan kegiatan.
Silvi kembali duduk di tempat ibu penjual pentol kuah itu yang merasa senang karena mendadak jualannya habis karena di beli Silvi.
"oh ya Bu, anda ini baik sekali, tapi beruntunglah saya ingat benar ada seorang gadis kecil yang selalu menunggu jemputan yang selalu telat, sepertinya itu Tante nya kadang neneknya, non itu selalu duduk di sini dengan saya," kata ibu pedagang itu.
"benarkah, ibu tau nama gadis itu," tanya Silvi.
__ADS_1
"temennya panggil Silvia gitu Bu, ya Allah meski putri orang kaya ya Bu, tapi saya kasihan dengan dia Bu, karena pernah tantenya lupa jemput dia nunggu di sini sambil hujan sampai jam setengah tiga sore padahal pulang jam dua belas, itupun waktu pertama kali sekolah," kata ibu penjual itu membuat Silvi kaget.
"benarkah Bu, kenapa bisa seperti itu..." lirih Silvi yang mendengar dan menjadi sangat sedih.
"sepertinya karena hujan deras, dan saya dengar setelah itu gadis kecil itu jatuh sakit," kata ibu penjual itu.
Silvi pun tak tahan mendengarnya, hingga tanpa sadar dia meneteskan air mata sedih.
setelah beberapa waktu ternyata para murid itu keluar, Via yang tau mamanya sudah menunggu lari dari lapangan.
melihat jalanan sangat ramai, Silvi langsung bangkit dan lari agar putrinya itu tak menyebrang jalan sembarangan.
beruntung Silvi lebih dulu menyebrang jalan dan memeluk putrinya itu, " mama!!"
"aduh putri mama kok cemong begini, mau pulang dulu ya," kata Silvi membersihkan wajah Via.
"tapi Via mau beli pentol Bu Anik dulu ya," kata gadis itu yang di izinkan oleh Silvi.
penjual pentol itu kaget melihat Via yang terlihat begitu senang dan terus bergandengan tangan dengan mama barunya.
"ibu mau pentol, oh ya ini nama baru Via, dan aku pernah cerita kan," kata gadis itu dengan bahagia.
penjual itu pun hanya tersenyum saja, sedang Silvi juga terlihat sangat baik.
"maaf ya Bu," kata Silvi tersenyum merangkul pedagang itu.
__ADS_1
"ya Allah saya merasa bersalah karena telah ngomong yang tidak-tidak," kata pedagang itu kaget.