Sistem Dukun

Sistem Dukun
Rencana Menjual Monster


__ADS_3

“Baiklah keluarkan semua hasil buruan kita. Kau bergabung saja dengan timmu agar tak mencurigakan.”


Aku menyimpan seluruh daging kelinci imut bakar itu ke inventori-ku, karena lumayan tidak perlu membeli makanan lagi.


“Hei, bagi dua hasilnya ya, Zul! Kan, lu sudah dapat Koin emas dari sistem—masa lu monopoli lagi hasil penjualan monster ini.” Farhan sebenarnya enggan tinggal di sini, tetapi ia harus kembali ke timnya, kalau tidak Guild-nya atau Guild Asosiasi Pemburu Mahakam akan curiga, kenapa bisa lorong yang mereka lalui telah dibabat habis hingga ke monster Level 81, dengan kekuatan timnya saat ini, itu mustahil sekali.


Mereka akan menyadari keanehan ini setelah menonton YouTube Dukun Zul, setelah menganalisa lorong yang ia lalui. Namun, itu butuh waktu, beberapa hari kedepan Dukun Zul belum ketahuan telah menjarah Pintu Dunia Bawah tersebut.


Aku menyeringai menatap Farhan yang memasang wajah cemberut. Bukannya imut, malah tampak jijik—kecuali ia adalah Pemburu wanita baru lain ceritanya.


“50:50 tapi Kristal monster untukku, karena semua aku yang mengerjakan, bahkan hingga bagian penjualan pun aku. Kau hanya terima transfer saja. Bagaimana? Adilkan!”


Farhan mendengus dingin, ia merasa aku terlalu banyak mendapatkan bagian. Namun, bila dibandingkan hasil pemberian dari Guild-nya tawaran yang kuberikan jauh lebih besar.


“Iya, sekarang bawa aku ke lorong tempat timku berburu,” sahut Farhan kecus.


Aku memasukkan ratusan monster berbagai level itu ke inventori-ku dan mengantar Farhan ke timnya, selanjutnya aku berteleportasi ke dalam mobilku yang terparkir di depan Pintu Dunia Bawah.


“Hehehe ... sepertinya mereka tidak curiga dengan mobilku ini. Mungkin mereka mengira ini milik Guild si Farhan, padahal kalau dipikir-pikir buat apa pakai mobik ke sini. Karena hanya dengan Kapal atau Helikopter saja jalan yang bisa dilalui.” Aku bergumam memperhatikan tim Guild Asosiasi Pemburu Mahakam yang memasuki Pintu Dunia Bawah.


Beberapa Pemburu dengan Level lumayan tinggi masih berjaga-jaga di depan Pintu Dunia Bawah. Mungkin untuk mencegah Guild lain memasuki Pintu Dunia Bawah itu.


Aku langsung menggunakan item Teleportasi dan kembali ke Jakarta atau muncul di halaman Rusunawa tempat tinggalku.


Beberapa orang terkejut melihat tiba-tiba mobil muncul di area parkir dan Aku tersenyum melambaikan tangan pada mereka.


“Du-dukun Zul!” teriak gadis berpakaian SMA, teriakannya seperti melihat idol idamannya saja, membuatku malu.


“Eh, iya ....” Temannya ikutan berteriak dan mengeluarkan smartphone untuk mengambil video. “Gua ketemu dengan Dukun Zul, di depan rusunawa!” Dia melakukan live streaming di media sosialnya.


“Dukun Zul, Anda mau ke mana?” tanya siswi SMA itu.


“Aku tinggal di sini. Apakah kalian tinggal di sini juga?” Aku menyahut dengan senyum hangat dan mereka tampak senang.


“Kita juga tinggal di sini, berarti kita tetanggaan, dong. Kenapa kita tak tahu, ya?” Mereka tampak bingung.


“Hahaha ... Aku baru tinggal dua hari di sini. Kenalkan aku Zulkarnain, panggil saja Bang Zul atau Om Zul, terserahlah.” Aku menyalami mereka.


“Oppa Zul sajalah hehehehe ....” Siswi yang sedang live streaming itu bercanda.

__ADS_1


Aku berpikir sejenak dan tertawa. “Level berapa kalian saat ini?” Sebagai tetangga aku berencana memberikan mereka hadiah kecil.


“Gua Level 20!”


“Gua Level 21!”


“Oo, begitu ....” Aku membuka Layar Virtualku dan mereka saling berpandangan, heran dengan tindakanku. “Kalian juga buka Layar Virtual, mau bonus Koin emas untuk naikin level nggak, nih?” Mereka kelihatan bengong.


“M-mau ... mau!” Keduanya buru-buru mengeluarkan Layar Virtual masing-masing.


“Hmm, Pricilla dan Hanna. Nama yang bagus, Aku akan memberikan masing-masing seratus Koin Emas. Jangan dihambur-hamburkan, ya—lebih baik untuk menaikkan Level. Saat Level kalian sudah 50, kalian bisa datang padaku dan kita berburu bersama.”


200 Koin Emas telah kutransfer, keduanya tampak senang sekali dan langsung memelukku.


Hadeh, aku jadi malu. Entar dikira orang pedofil lagi, “Maaf Pricilla dan Hanna, aku harus kembali masuk ke dalam dulu. Belajarlah yang baik.” Aku langsung menghilang dengan item Teleportasi, entah apa yang mereka pikirkan nanti.


Aku berbaring di kasur empukku, Aku membuka Channel YouTubeku dan banyak yang meminta untuk melanjutkan Perburuan hingga ke ruangan Bos Monster. Namun, aku menulis komentar, bahwa Guild besar mengusirku karena aku aku masuk secara ilegal.


Aku langsung log out dan tak membaca apa tanggapan para Viewerku.


Nah, sekarang aku akan menghubungi Reynaldi, anak ketua Mafia Elang Timur.


Hadeh, dia terlalu banyak membual, membuatku ingin menempeleng kepalanya.


“Sudah tak perlu memuji-muji, Aku tak akan memberikanmu diskon. Di mana kita bisa bertemu?” Aku menyela ucapannya yang panjang lebar itu.


Reynaldi tersenyum masam. “Baiklah tuan Zul, kita akan bertemu di Bar Elja Kebayoran Baru nanti malam pukul sembilan. Saat ini aku sedang berada di Bali sedang ada bisnis dengan—”


“Aku tidak tertarik. Baiklah sampai jumpa nanti malam.” Aku langsung menyela ucapannya dan mematikan Video call kami.


Ternyata Aku masih bisa istirahat dan sekarang aku sudah Level berapa, ya? Aku membuka Layar Virtualku.


Nama Pemburu : Zulkarnain


Level : 35


Sihir : Unknown


Misi : —

__ADS_1


Hadiah : —


Pemasukan : 5380 Koin Emas (5380 Potong Hutang)


Sisa Hutang : 88.940 Koin Emas


Total Pemasukan : 5300 Koin Emas


Dana Dalam Bentuk Rupiah : Rp.100.000


***


Ternyata perburuan tadi lumayan banyak kalau tidak dipotong hutang. Aku mendapatkan satu milyar, tetapi kini tersisa 500 juta saja—tak apalah, yang penting hutangku pada Sistem Dukun Talah menyusut cukup banyak.


Ah, lelahnya ... tidur sajalah.


***


Malam pukul delapan tiga puluh, Aku berangkat dari Bekasi menuju Kebayoran Baru, tempat pertemuan dengan Reynaldi.


Tadi aku menelpon ke kampung, belum ada pergerakan dari Mafia Banteng88. Apa mereka mengganti strategi setelah aku menghancurkan mobil yang mengejarku kemarin. Sarah juga tak menghubungiku lagi setelah itu, mungkin ia kini sibuk dengan Elisa Haryono yang menjadi asisten pribadinya. hehehe ... konyol sekali, putri orang terkaya kedua di Indonesia melakukan pekerjaan itu


Empat puluh menit kemudian Aku memasuki tempat parkir Bar Elja dan seorang Pemburu Level 90 segera menghampiriku. Dia membuka pintu mobilku dengan senyum lebar.


“Tuan Zul, selamat datang! Bos Reynaldi sudah menunggu di dalam,” kata Pemburu itu.


“Oh, terimakasih ....” Aku meliriknya.


“Topan tuan Zul,” sahut Pemburu itu segera.


“Y, terimakasih Topan,” kataku lagi keluar dari Mobil dobel kabin Nissan Navara. “Ini pertama kalinya aku memasuki Bar! Biasalah orang kampung, biasanya ketemu monyet di Rimba Panti hehehe ....” Aku bercanda dan dengan terpaksa Topan ikut tertawa juga walaupun lawakanku tidak lucu, tetapi mau tak mau ia harus tertawa karena aku tamu penting Bosnya.


...*...


...*...


...*...


...~Jangan lupa 👍 Bosque~...

__ADS_1


__ADS_2