
“Ayo mundur! Kita tak akan sanggup mengalahkannya dengan kekuatan sekecil ini!” Aku berkata pada empat Pemburu Level 100 yang berusaha menarik perhatian Bos monster itu.
“Ah, sialan! Kalian benar-benar nggak berguna!” umpat Reynaldi meninggalkan ruangan Bos Kastil abad pertengahan Eropa tersebut.
Keempat Pemburu Level 100 memilih diam saja, sedangkan tim Gatot Kaca sangat terpukul dengan kehilangan Roy dan Nabila terus menangis karena takut mati.
“Apa yang harus kita lakukan tuan Zul?” tanya Reynaldi.
“Anda hanya perlu meminta bala bantuan dan membawa Pemburu atau orang yang memiliki beladiri. Kalau bisa ahli berpedang atau tombak untuk mengeroyoknya.”
Reynaldi menjambak rambutnya, ia tak menyangka; kemenangan yang sudah didepan mata harus tertunda.
“Baiklah, aku akan meminta Mafia Elang Timur mengirim lebih banyak Pemburu dan tuan Zul serta tim Gatot Kaca boleh kembali ke Jakarta, sedangkan kalian berempat tetap di sini menemaniku menunggu kedatangan bala bantuan.” Reynaldi menendangku dari kelompok berburu bos monster ini.
Aku tidak menolak, lagi pula hasil dari mengalahkan dua Kesatria berbaju Jirah berlevel 100 itu sudah lumayan. Dapat 20.000 Koin Emas atau setara dengan Rp2.000.000.000 yang merupakan hasil yang fantastis, walaupun aku menghabiskan tumbal sebanyak 300 Koin emas atau setara 30 juta rupiah. Namun, Sistem Dukun secara otomatis mengambil 10.000 Koin untuk cicilan hutangku, sehingga aku hanya mendapatkan sisa 9700 Koin Emas atau setara dengan 970 juta rupiah.
“Kalau begitu aku akan pulang lebih dulu, jangan lupa komisinya, ya?” Aku menyeringai menatap Reynaldi yang mengkerut kan keningnya saat menatapku. Dia tahu aku sudah mengalahkan dua Kesatria berbaju Jirah dan aku tak membagikan hadiah untuk anak buahnya yang tersisa atau kompensasi bagi yang tewas.
Aku mendapat hadiah penuh, karena tidak membuat tim dengan kelompok Reynaldi maupun Guild Javanese Soldier melalui Layar Virtual, sehingga otomatis aku dihitung bergerak sendiri, begitu juga dengan mereka, kecuali kami mengalahkan Bos Monster, maka otomatis semua akan dibagi rata oleh sistem.
“Kita pulang bersama saja tuan Zul, kami sebenarnya berangkat dengan pesawat pribadi dan satu kursi telah kosong—daripada pulang sendirian, mungkin penerbangan ke Jakarta dari Sorong sudah tak ada, karena biasanya itu berangkat pagi," kata Draken8, ketua tim Gatot Kaca.
Sebenarnya aku akan menggunakan item Teleportasi, tetapi mereka sudah mengajakku. Jadi, tak enak rasanya untuk menolak ajakan mereka.
“Baiklah, terimakasih sudah mau mengajakku.”
“Yah, kita ‘kan sama-sama Pemburu, sudah sewajarnya saling membantu,” sahutnya lagi.
Aku tak menyangka, tim Gatot Kaca sebenarnya cukup baik juga, atau mungkin karena aku telah menyelamatkan Nabila—mengingat saat pertama kali berjumpa dengan mereka, aku seperti dianggap musuh saja.
__ADS_1
Notifikasi dari Layar Virtualku muncul dan aku mengkliknya. Namun, aku sedikit kecewa, Reynaldi hanya mengirim 100 juta saja untuk bayaranku. Padahal aku tadi berkontribusi besar, saat mengalahkan Kesatria berbaju Jirah itu dan memberikan masukan strategi juga.
Cih, dasar Mafia sialan! Serakah sekali.
“Bang Zul, t-terimakasih sudah menyelamatkanku,” kata Nabila dengan gugup.
“Ah, kita ‘kan, Tim. Sudah sewajarnya kita saling melindungi,” sahutku berhenti menatap Layar Virtualku. “Ternyata Nabila sangat cantik juga. Apa ia sengaja dipilih agar ada maskot cantik dalam tim mereka,” gumamku baru menyadari kecantikannya, karena tadi terlalu fokus bertarung.
“Kata Pemburu lain Anda sangat arogan dan sengaja memprovokasi Guild besar. Namun, tenyata menurutku tidak demikian!” sela Wicaksono, Pemburu dengan sihir air itu.
Aku tertawa mendengarnya. “Sebenarnya yang diucapkan mereka itu benar. Sekarang aku tak berulah, karena terikat kerjasama dengan Reynaldi. Coba kita bertemu di Pintu Dunia Bawah random, mungkin aku akan menyusahkan kalian!” sahutku—membuat anggota tim Gatot Kaca itu tersenyum masam.
Kami terus berbincang-bincang dan hubungan diantara aku dengan mereka bertambah akrab. Bahkan kami bertukar kontak juga, mana tahu di masa depan bertemu lagi.
Dari Raja Ampat kami naik Helikopter yang telah di sewa oleh Reynaldi menuju Kota Sorong. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju bandara Soekarno-Hatta.
***
“Atur saja jadwalnya!” sahutku, tetapi anggota tim Gatot Kaca lainnya langsung tertawa mendengarnya.
“Cie ... cie ... Nabila PDKT, nih, ya?” ejek Draken8.
“Wah ... wah ... aku bagaimana dong, padahal sudah menemani dari nol dan tiba-tiba ada yang tampan langsung beralih. Ini namanya keadilan sosial bagi warga good looking,” ejek Wicaksono sehingga mereka kembali tertawa terkekeh-kekeh.
Aku hanya bisa senyum-senyum menatap mereka, sedangkan Nabila tampak malu menutup wajahnya.
Kami pun berpisah, karena mereka langsung dijemput manajemen Guild Javanese Soldier dan aku segera menuju parkiran bandara mengambil mobilku.
Aku melihat seseorang dalam mobil Bugatti Divo yang harganya kisaran 86 milyar itu adalah Jimmi, Pemburu dari tim Saga Guild Harimau Andalas yang ikut memukulku saat di SPBU Rimba Panti dulu.
__ADS_1
Aku menyeringai, kemarin aku membaca artikel online bahwa dia sedang berada di Korea Selatan, kampung halamannya dan tidak menyangka bajing@n ini akan terpisah dari kawanannya.
Saat ini ia sedang asik menelpon seseorang, sehingga dia tak memperhatikan Aku.
Aku berpikir tindakan apa yang cocok, ya? Membunuhnya di sini itu tak etis dan akan terekam kamera CCTV bandara.
Yah, aku berikan hadiah kecil saja dan aku membeli item Palu Raksasa. Hehehe ... makan ini.
Aku mengayunkan Palu raksasa itu ke bodi Bugatti Divo itu, sehingga langsung ringsek sekita.
“Hei, kurang ajar!” umpatnya dari dalam mobil dan hendak keluar, tetapi aku langsung menghancurkan pintu mobil Bugatti Divo itu. “Gua bunuh lo, sialan!” Jimmi menggunakan Sihir angin keluar dari kaca depan mobil mewahnya itu.
Aku langsung menghantam kepalanya sehingga tersungkur ke lantai parkiran bandara itu dan wajahnya berlumuran darah, tetapi ia adalah Pemburu Level tinggi, sehingga langsung beregenerasi.
Jimmi kemudian mengusap wajahnya dan ia sangat marah.
“Hei, apakah wajahmu itu hasil operasi plastik? Kok, baik-baik saja dihantam palu besar ini,” ejekku dengan seringai menjengkelkan.
“Lu Dukun Zul? Mantan tunangan Sarah!” Jimmi tampak terkejut. “Oo, sepertinya lu tak tahu siapa yang lu lawan, ya? Baiklah gua akan menghukummu mewakili Bos Saga.” Dengan percaya dirinya Jimmi mengeluarkan Pedang dari Layar Virtual-nya.
“Oo, peliharaan Saga ternyata bernyali juga!” Aku kemudian mengeluarkan Drone kamera sengaja memperlihatkan pertarungan kami ke channel YouTubeku.
“Hei, kenapa Oppa Jimmi bertarung dengan Dukun Zul? Ah, aku bingung dukung yang mana!”
“Aku tetap dukung Dukun Zul!”
“Dukun Zul ini terlalu arogan, dia merasa paling kuat. Padahal cuma Pemburu Level 40. Bisa apa dia dihadapan Oppa Jimmi!”
“Hancurkan Pemburu impor itu!”
__ADS_1
Kolom komentar channel YouTubeku kembali memanas dan seperti biasa ada dua kubu yang muncul. Satu pendukung fanatikku yang selalu membelaku walaupun mereka tak tahu apakah Aku yang salah atau tidak. Sedangkan kubu kedua adalah mereka yang dari awal tak suka denganku dan penggemar berat Jimmi, tiba-tiba membentuk aliansi menggiring opini publik.
Aku tersenyum melihat keributan itu. Ya, kalau tak ribut tak asyik juga. Karena dengan keributan itulah aku menjadi terkenal hehehe ....