
Sisilia masih memegang erat tanganku walaupun Reynaldi telah pergi. Yah, wajar sih, ia masih trauma dengan kejadian malam ini.
“Kita juga akan pergi. Di mana kau tinggal?” tanyaku berdiri dan Sisilia tersadar dari lamunannya, kemudian segera melepas tangannya dari lenganku.
“Aku tinggal di Pasar Rebo, Dukun Zul!" jawabnya sambil menundukkan wajahnya.
“Oo, mari kuantar pulang dan satu lagi jangan panggil aku Dukun Zul, panggil saja Zul.”
“B-baik Zul. Terimakasih telah menolongku, entah bagaimana caranya aku membalas kebaikanmu ini.” Sisilia memain-mainkan jari tangannya tanpa melihatku.
Aku hanya tersenyum dan berjalan keluar dari Bar Elja, tiba-tiba notifikasi Layar Virtualku muncul. Ternyata Topan mengirim 500 juta rupiah yang katanya uang dari Layar Virtual Vrey.
Hmm ....
Aku tersenyum, mereka merekayasa kematian Vrey cukup sempurna. Padahal siapapun pasti tahu kalau Reynaldi bekerjasama dengan Vrey, itulah kenapa ia memilih pertemuan ini diadakan di Bar Elja.
Jangan-jangan Sisilia sebenarnya akan diberikan oleh Vrey untuk Reynaldi. Namun, mereka kurang beruntung malam ini karena bertemu denganku.
Aku mentransfer 450 juta pada Sisilia dan mengambil 50 juta sebagai upah menyelamatkannya hehehe ....
“Z-Zul ini ....” Sisilia terkejut melihat notifikasi Layar Virtual-nya. “B-banyak sekali!” Dia hampir menangis lagi melihatnya.
“Itu uangmu yang diambil oleh Vrey, kok. Jadi, tak perlu berterimakasih, gunakanlah uang itu dengan baik,” sahutku dan kami telah sampai di parkiran mobil.
“Tuan Zul,” sapa Reynaldi dari mobil mewahnya. “Gua duluan, ya!”
Aku melambaikan tangan, tetapi tiba-tiba Lamborghini Aventador milik Vrey langsung ringsek seperti kerupuk karena aku membeli item peremuk tangan monster.
Reynaldi tampak terkejut, ia tahu itu pasti kerjaanku. Namun, tak bisa berbuat apa-apa karena saat ini kami adalah rekan bisnis, tak mungkinlah ia akan menyinggungku.
__ADS_1
“Tadi itu Anda yang melakukannya ‘kan, Zul?” tanya Sisilia setelah duduk di kursi mobil dobel kabin Nissan Navaraku.
“Buat apalagi mobil mewah itu? Toh, pemiliknya sudah mati!” Aku tersenyum dan menginjak pedal gas. “Sampai jumpa di Raja Ampat, dut!” Aku melambaikan tangan pada Reynaldi yang tersenyum masam.
***
Kami memasuki perumahan di kawasan Pasar Rebo dan saat kami berhenti di depan rumah Sisilia, ternyata sudah ada beberapa petugas kepolisian yang berkumpul di sana.
“Apa yang terjadi, Pak?” tanya Sisilia.
Aku juga turun karena penasaran, mungkin telah terjadi sesuatu pada orangtuanya—apalagi ia berurusan dengan Mafia, mereka tak akan melepaskannya dengan mudah.
“Anda siapa?” tanya Polisi itu.
“Saya anak pemilik rumah ini?” sahut Sisilia cemas.
“Oh, Anda pasti Nona Sisilia,” kata Polisi itu tersenyum ramah. “Beberapa orang tidak dikenal datang merampas harta berharga orangtua Anda. Mobil, Motor, Tv, Kulkas dan lain-lain dibawa oleh mereka. Namun, kami tidak mengetahui apa motif mereka sebenarnya, apakah murni perampokan atau orang tua Anda pernah berurusan dengan Mafia. Karena polanya sangat mirip dengan aksi mereka biasanya,” ujarnya lagi.
Sisilia berbohong pada Polisi itu, mungkin ia tak ingin para Mafia akan membalas dendam bila mengadukan mereka, walaupun Topan sudah membunuh Bos mereka. Namun, para organisasi gelap itu tidaklah sederhana, bila Bos mereka mati, makan akan ada anggota lain yang menggantikannya.
Penyidik dari kepolisian itu mencatat apa yang dikatakan oleh Sisilia dan menjawab, “Orangtuamu baik-baik saja. Untung saja saat perampokan itu mereka sedang keluar rumah. Namun, menurut penyelidikan kami, Anda pernah berhutang satu milyar rupiah pada lembaga keuangan dan mengalami gagal bayar. Kami curiga masalah ini ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa keluargamu,” selidik Polisi itu.
“Bapak sepertinya salah lihat data. Temanku ini sudah melunasi hutang-hutangnya pada Finance itu.” Aku menyela ucapannya. “Sisilia, coba tunjukkan datanya pada Pak Polisi.” Aku mengedipkan mata padanya.
Sisilia tampak ragu-ragu, tetapi tak punya pilihan lagi dan tiba-tiba email masuk dari Finance tempatnya meminjam uang. Sisilia membaca email itu dan ternyata hutangnya benar-benar dinyatakan lunas.
“Ini Pak, saya sudah tidak memiliki hutang,” katanya dengan senyum lebar—dia sangat senang sekali, bahkan tidak peduli lagi dengan kasus perampokan di rumahnya. Karena orangtuanya baik-baik saja, barang-barang yang hilang masih bisa dibeli dan ia bisa memulai hidup baru lagi tanpa tekanan dari mafia Celeng Hitam.
Polisi itu memperhatikan email yang ditunjukkan oleh Sisilia dan mengangguk, ternyata dugaannya menghubungkan kejadian ini dengan hutang-hutang Sisilia salah.
__ADS_1
“Terimakasih sudah membantu penyelidikan kami. Kami akan menghubungi Nona Sisilia bila terjadi pengembangan dalam kasus ini,” kata penyelidik kepolisian itu menyalami kami dan meninggalkan rumah Sisilia.
Sisilia menatapku. “Bang Zul, singgah dulu minum teh atau kopi,” ajaknya.
“Lain kali saja Sisilia,” sahutku. “Besok pagi aku harus ke Bandara hehehe ....” Aku tertawa pelan.
Sisilia tiba-tiba mendekat dan mencium pipiku. “Terimakasih atas segalanya, mungkin Bang Zul, tidak akan pernah berjumpa denganku lagi. Itu adalah ungkapan terimakasih dariku,” katanya memicingkan mata sebelah dan berlari ke dalam rumahnya dengan senyum lebar. “Papa ... Mama! Aku pulang!”
“Jangan teriak-teriak tengah malam begini, nanti tetangga marah!” sahut Mama Sisilia dari dalam rumah.
Aku hanya tersenyum memandangi punggungnya dan berbalik masuk ke dalam mobil Nissan Navaraku.
Woi! Aku dicium wanita cantik hahahaha ....
Aku sangat senang, karena ini pertama kalinya aku dicium oleh wanita. Walaupun sebelumnya aku pernah hampir menikah dengan Sarah. Namun, kami hanya berpegangan tangan saja yang paling jauh, itupun jantungku sudah cenat-cenut dan tak bisa tidur semalaman.
Dari Pasar Rebo aku berbelok memasuki jalan tol dan Aku sudah diikuti oleh anak buah Reynaldi sejak tadi. Mereka mungkin takut aku berbalik ke Bar Elja dan menghancurkannya.
Hehehe ... sungguh tindakan yang sia-sia. Mungkin sekarang aku membiarkan kalian, tetapi masih banyak waktu untuk membereskan orang-orang yang mencari masalah denganku.
Hmm ....
Aku kepikiran membuat sebuah peringatan pada Reynaldi agar tidak bermain api. Dia harus tahu kalau berurusan dengan orang naif dan sok Pahlawan sepertiku ini akan berakhir mengenaskan.
Aku memarkirkan mobil di halaman Rusunawa dan orang suruhan Reynaldi itu masih mengintipku. Tunggu ....
Ada yang memasang bom di kamarku, sialan! Dia dari pihak mana ini? Untung saja ada CCTV yang dipasang secara rahasia di kamarku, apakah ini ulah Reynaldi? Itu tak mungkin, karena kami baru memulai bisnis dan dia bahkan mengajakku ke Raja Ampat besok.
Mungkin mereka ini dari Mafia Banteng88, suruhan ayah Saga atau Konglomerat Sadikin maupun Haryono, karena aku mempermalukan anak-anak mereka di acara perayaan yang dilakukan oleh Gubernur Sulaiman.
__ADS_1
Pertama-tama beli item asap yang membuat orang pingsan dan item penjinak bom. Bisa bahaya bila bom itu meledak di rusunawa; kasihan Pricilla dan Hanna nanti