Sistem Dukun

Sistem Dukun
Duel Sengit


__ADS_3

“Lu terlalu percaya diri, Zul. Lihatlah siapa yang datang!” ancam Jimmi dengan seringai tipis diwajahnya.


Aku merasa ada kilatan petir dari arah luar bandara dan sepertinya sangat berbahaya, sehingga dengan cepat aku membeli item perisai besi yang langsung kutancapkan di lantai.


Boommm!


Sambaran petir yang sangat kuat menghantam perisai besi dihadapanku.


“Huh ... kalau terkena sambaran petir itu, bisa gosong dibuatnya itu hehehe ... ternyata bala bantuan dari Penyihir anime datang. Okeh, sang Wibu ini akan melawan kalian berdua!” Aku mengejek mereka, walaupun sebenarnya tadi sempat panik.


Lawanku adalah Pemburu dengan sihir Petir dan Angin. Aku pakai senjata apa yang cocok melawan mereka, ya? Mumpung aku sedang banyak Koin Emas, sesekali pemborosan tak apalah.


Mungkin Sihir Es sangat cocok dan patut dicoba.


Aku membeli item Tombak Ice Storm, yang dalam deskripsi produknya mengatakan Tombak itu dapat mengeluarkan badai Es yang sangat kuat. Dan untuk item kedua, seperti biasa Aku membeli Lightning Step untuk mempercepat pergerakanku serta Armor Naga Surgawi untuk meredam damage yang mengenai tubuhku.


Untuk keseluruhan item, aku menghabiskan 350 Koin emas, karena tumbal untuk Armor Naga Surgawi dan Tombak Ice Storm sangat mahal.


“Ayo maju kalian, akan aku tunjukkan kekuatan Pemburu yang sebenarnya, bukan kekuatan idol seperti kalian,” ejekku.


Para penggemar fanatikku langsung memberikan komentar dukungan. Malah mereka terlalu fanatik, sehingga beberapa diantara mereka malah berkomentar rasis.


Sungguh sangat disayangkan, karena aku sebenarnya tidak membenci kedua negara asal mereka, tetapi aku benci kedua Pemburu ini, karena mereka memukulku hingga sekarat saat di SPBU Rimba Panti.


“Ayo kita bunuh saja dia Hotaru, tuan Saga pasti akan senang bila kita mencincang tubuhnya!” seru Jimmi yang sudah sangat marah, karena mobil Bugatti Divo miliknya jadi barang rongsokan.


“Baik, ayo!” sahut Hotaru langsung menggunakan panah Petir menyerangku dan Jimmi menyerang dengan Pedang angin.


Ini sedikit merepotkan, karena Aku harus menghindari panah Petir Hotaru, dilain sisi Jimmi juga menyerang secara langsung.


Mobil Bugatti Divo milik Jimmi langsung terkena sambaran anak panah yang mengandung petir yang sangat mengerikan, sehingga Bugatti Divo itu langsung hancur berkeping-keping.


Wah, mengerikan!

__ADS_1


Aku membeli item Teleportasi untuk memindahkan mobil dobel kabin Nissan Navaraku. Aku tak ingin ia bernasib sama dengan Bugatti Divo milik Jimmi.


Jimmi menebasku, tetapi Aku menangkisnya dengan Tombak Ice Storm, yang langsung mengeluarkan badai Es, tetapi Jimmi menahannya dengan badai topan dan dukungan yang sangat solid dari Hotaru, sehingga aku terkena sambaran Petir.


“Sial! Sakit bro!”


Aku mundur beberapa langkah, untung saja Damage-nya diserap oleh Armor Naga Surgawi, tetapi statusnya langsung turun 50%, berarti aku tak boleh terkena serangan lagi.


“Tak ada cara lain, aku akan menunjukkan kehebatan Dukun dari Indonesia—yang merupakan paranormal terbaik di dunia." Aku menyeringai menatap Jimmi dan Hotaru.


“Sombong! Mau mati saja masih belagu!” sahut Jimmi.


“Ayo kita selesaikan Jimmi, dia sudah terkena sambaran Petir, gua yakin pertahanan tubuhnya sudah melemah,” kata Hotaru, karena regenerasi luka pada Pemburu itu berjalan lambat, sehingga tak mungkin aku cepat pulih menurut perkiraannya.


Aku membeli dua puluh item Teleportasi sekaligus dan menghabiskan 200 Koin Emas atau setara dengan 20 juta rupiah.


“Rasakanlah dinginnya Tombak Ice Storm ini!" Aku menggunakan item Teleportasi pertama dan muncul di belakang Hotaru, hingga dia terkejut.


“Penjara Petir!”


“Hotaru!”


Jimmi terkejut melihatnya, ia tak tahu kapan Aku telah muncul dibelakang Hotaru, padahal jarak kami cukup jauh.


“Seribu Pedang terbang!” Jimmi merapal mantra Sihir angin dan Hujan Pedang langsung melesat ke arahku. “Itu belum cukup! Badai Tornado!” Mantra Sihir keduanya itu malah menghisap seluruh mobil yang terparkir di parkiran bandara Soekarno-Hatta itu.


“Onii-chan ....” Aku muncul di belakang Jimmi. “Eh, salah! Oppaaaaaa makan ini!” ejekku menusuk punggung Jimmi dengan Tombak Ice Storm.


“Lightning Slash!” Hotaru menangkis tusukan Tombak Ice Storm-ku dan Jimmi langsung berbalik badan melakukan gerakan menebas. Namun, aku lagi-lagi menghilang.


Aku muncul seratus meter dari mereka—berdiri diatas tumpukan mobil yang berserakan oleh Sihir Jimmi tadi.


Jimmi dan Hotaru tampak panik, mereka pasti tak menyangka aku bisa menghilang dan sekarang mereka tak berani menyerang duluan.

__ADS_1


Komentar di channel YouTubeku makin tak kondusif, mereka terlalu memujiku dan mengatakan aku adalah Pemburu yang terhebat di dunia. Ini sama saja mereka telah menggaungkan peperangan dengan fans Pemburu nomor satu dunia yang memiliki satu milyar subscribers, jauh lebih rendah dariku yang cuma seratus juta saja—itupun hampir setengahnya adalah haters.


Aku memasang kuda-kuda Silat dan bersiap melakukan Teleportasi menyerang mereka. Namun, tiba-tiba Polisi bandara Soekarno-Hatta muncul mengepung kami.


“Kepada Pemburu yang sedang bertarung di area parkiran bandara, kami memerintahkan kalian berhenti dan menyerah dengan mengangkat kedua tangan ke atas!”


Aku langsung mengangkat kedua tanganku dan menyeringai menatap Jimmi dan Hotaru yang memasang wajah masam.


Ah, sayang sekali. Aku tak bisa melukai mereka, tetapi ini sudah mempermalukan wajah tim Saga. Entah, bagaimana reaksi kampret itu saat mengetahui kabar ini.


Polisi bersenjata lengkap mendekatiku dan langsung memborgol tanganku, mereka mengaku dari Divisi Supranatural Mabes Polri yang khusus menangani Pemburu.


Penangkapan kami ditayangkan langsung oleh beberapa stasiun televisi. Kami seperti seperti teror¡s saja, dikepung dari segala arah.


***


Aku dibawa kedalam ruang interogasi dan dipersilahkan untuk menghubungi pengacara untuk mendampingiku. Namun, aku belum memiliki pengacara pribadi selama ini, sehingga aku menghubungi Farhan.


“Akhirnya Lo telpon gua juga kampret! Mana uang gua!” umpat Farhan dan aku sudah tahu sih, akan jadi begini. Karena aku terlalu sibuk kemarin dan tidak teringat dengannya.


“Santai saja, Han. Carikan aku pengacara hebat, jangan yang magang dan harus bisa mengeluarkan aku dari tahanan sekarang juga!” sahutku.


Farhan terdiam sejenak, mungkin ia terkejut mendengarnya.


“Kenapa kau tak kabur, Zul. Bukannya kau bisa menghilang!” katanya lagi, tiba-tiba logatnya telah berubah lagi. Itulah kalau anak kampung merasa jadi anak kota. “Apaaaaa! Kau malah bertarung di parkiran bandara hahahaha ....” Farhan malah tertawa terkekeh-kekeh.


Aku mendengar suara pertarunganku tadi, mungkin Farhan langsung mencari informasi di internet, kenapa aku bisa ditangkap polisi.


“Bisa tidak? Kalau tidak bisa aku akan lama-lamain mengirim uangmu,” kataku jengkel diejek olehnya.


“Sabar Zul, aku akan menghubungi beberapa rekanku untuk meminta mereka merekomendasikan Pengacara hebat untukmu,” sahut Farhan masih dengan tertawa terkekeh-kekeh.


“Jangan lama-lama, nanti penyidiknya jengkel, karena mereka hanya menyediakan waktu sejam saja untuk memintaku mendatangkan pengacara.” Kali ini Aku berbicara dengan nada serius, sehingga Farhan berhenti tertawa. “Masalah biaya, katakan saja pada Pengacara itu boleh dalam bentuk Koin Emas atau Item monster, suka-suka dia saja!” Aku hanya ingin cepat-cepat keluar.

__ADS_1


“Baiklah, Aku akan mengabarimu segera setelah mendapatkan Pengacara hebat,” sahut Farhan.


__ADS_2