Sistem Dukun

Sistem Dukun
Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

“Apakah kamu ingin hidup dan balas dendam atas semua penghinaan yang telah kamu terima? Kalau iya, Sistem Dukun akan menyembuhkanmu lagi dan nikmatilah permainan keduamu!” Tiba-tiba suara aneh kembali muncul dalam benakku, ini seperti saat aku hampir mati setelah dihajar habis-habisan oleh Saga dan antek-anteknya.


Apakah aku akan mengulang lagi kesalahan yang sama, apabila aku hidup lagi?


Apa aku lebih baik mati saja?


Namun, aku masih penasaran. Kenapa harus Sarah yang selalu muncul dalam kebahagiaan dan kesengsaraanku? Aku harus mencari tahu jawabannya.


“Aku bersedia!” seruku dengan lantang, sehingga Sistem Dukun menyembuhkan luka-lukaku dan aku mengikuti sosok Sarah yang memasuki Pintu aneh dihadapanku.


Aku terkejut tak kala melihat sosok putih berkilau duduk di singgasana, dengan mahkota emas di kepalanya. Aku tak bisa melihat dengan jelas siapakah sosok aneh itu, tetapi sosok yang menyerupai Sarah langsung bertekuk lutut dan memanggilnya Raja Yang Agung.


Sosok Agung itu membuka matanya dan menatapku, sehingga aku merasa tubuhku terasa seperti ditimpa benda yang sangat berat dan aku langsung jatuh terbaring di lantai.


Ini mengerikan!


Siapa dia sebenarnya? Mengapa tubuhku terasa seperti dikoyak-koyak dan Sarah tidak menoleh kebelakang, seperti tidak perduli apa yang terjadi padaku.


“Liciana, kenapa kamu membiarkan manusia terpilih itu menginjakkan kaki dihadapanku?” Sosok yang Agung itu bertanya pada sosok yang mirip dengan Sarah itu.


“Aku telah membunuhnya Raja kami Yang Agung,” sahut Liciana. “Mungkin dia mendapat berkah lagi, sehingga diberikan kesempatan untuk melihatmu Raja kami Yang Agung!” Luciana berkata tanpa menatap wajahnya.


“Aku bersedia untuk mati, tetapi aku ada pertanyaan. Apakah engkau adalah Sarah yang kukenal?” Aku menyela pembicaraan mereka.


Sosok yang Agung itu diam saja dan Liciana menoleh kepadaku, kemudian berkata, “Aku adalah perwujudan cinta dan kebencian, sehingga kamu melihatku dengan sosok nama yang kau sebutkan itu. Kalau kau tidak memiliki sosok orang yang kau cintai sekaligus kau benci, maka kau hanya melihatku seperti cahaya saja.”


Aku terkejut, berarti dia bukan Sarah dan sosok Agung ini hanya kulihat sebagai cahaya terang saja—yang berarti aku tak bisa membayangkan siapa Dia sebenarnya?


Pikiranku berkecamuk, kedua makhluk ini terlalu kuat untuk kuhadapi sebagai manusia lemah. Apakah item Santet berhasil membunuh mereka. Namun, aku juga terkejut, tak ada lagi Koin Emas yang masuk pada Layar Virtualku; yang berarti semua Pemburu diluar Kastil telah lenyap dan Aku tak bisa menyelamatkan mereka.

__ADS_1


Sial!


Kalau begini, aku akan mencoba peruntungan untuk terakhir kalinya, semoga saja semua ini berhasil dan aku tidak akan menyesal apabila ikut mati—yang penting rencana ini berhasil.


Aku langsung menggunakan item Santet pada kedua sosok aneh dihadapanku. Namun, tidak terjadi apa-apa pada mereka.


Aku kebingungan, ternyata perjuangan ini tak ada gunanya. Semua sia-sia saja. Hah, aku menghela nafas dalam-dalam dan pasrah menyerahkan nyawaku pada mereka. “Lakukanlah sekarang, aku sudah tidak memiliki penyesalan!" Aku berkata pada mereka.


Keduanya berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti dan sosok yang mirip dengan Sarah menghampiriku dan berkata, “Awalnya manusia yang memanggil kami ke bumi dan mereka kemudian berkhianat dengan menculik salah satu dari makhluk ciptaan Raja Yang Agung. Mereka mungkin mengira dengan menyalin kekuatan kami, maka mereka bisa melawan kami. Namun, hanya dengan satu persen kekuatan yang Dia berikan—kalian sudah kelabakan dan pemimpin manusia mengatakan akan menghapus kekuatan yang mereka curi itu asalkan kami bersedia meninggalkan bumi. Makanya, mereka sengaja mengirim kalian yang telah mendapatkan kekuatan sihir menghadapi kami, tetapi Raja Yang Agung menyukai tindakan kepahlawanan yang kamu lakukan dengan menyelamatkan sebagian dari manusia yang menjadi tumbal atas perjanjian damai ini, dan Dia memutuskan untuk mengembalikanmu. Semoga hari-harimu menyenangkan!”


Aku ingin mencerna ucapannya, tetapi tiba-tiba ia menjentik keningku dan Aku muncul di kamarku—rusunawa Bekasi Timur.


Aku hidup!


Aku hidup!


Aku membayangkan Layar Virtual dan tiba-tiba muncul, sehingga aku terheran-heran. Bukankah mereka mengatakan telah mengambil kembali semua kekuatan sihir mereka dari Bumi. Apakah Sistem Dukun adalah pengecualian?


Aku menghidupkan televisi dan melihat berita utama yang bertajuk tentang Pintu Dunia Bawah yang telah hilang dari penjuru dunia, serta ratusan ribu Pemburu Level rendah kembali dengan selamat, tetapi kekuatan sihir mereka telah hilang.


Aku bernafas lega, ternyata Farhan dan Nabila baik-baik saja, mungkin hanya Farhan yang memiliki sedikit cacat pada tubuhnya, karena tangannya hancur diserang oleh monster.


Aku meninggalkan rusunawa dan tidak menggunakan kekuatan Sistem Dukun untuk sementara, takut ada pihak yang mendeteksinya—kemudian Aku menjadi bahan perburuan semua pihak yang menginginkan kekuatan Sistem Dukun.


Aku memutuskan kembali ke kampung, sudah tak ada gunanya tinggal di sini. Lebih baik menjalani kehidupan sederhana saja di sana, lagi pula aku masih memiliki simpanan emas.


Sarah!


Aku teringat dengannya, tetapi ia adalah anggota Divisi Supranatural Mabes Polri—mungkin lebih baik kami tak bersama, entah kenapa aku merasa akan membuatnya dalam bahaya saja bila tetap bersamaku. Kalau saja sosok misterius itu tidak mengungkapkan kalau ia bukan Sarah, bisa saja sekarang aku akan membunuh Sarah karena telah mempermainkan takdirku selama ini.

__ADS_1


Ibukota sudah normal kembali, seperti tidak terjadi peristiwa besar saja. Bandara Soekarno-Hatta juga ramai dikunjungi oleh para penumpang pesawat.


Aku menyeduh kopi panas sembari memperhatikan lalu lalang pengunjung. Ya, seperti orang yang melamun saja, karena disebelahku duduk pria paruh baya yang sedang asik dengan smartphonenya, sedangkan disebelahku lagi adalah mahasiswa yang sedang asik juga dengan laptopnya, seperti sedang mengerjakan tugas—hanya aku yang memperhatikan lalu lalang pengunjung.


“Bang Zul!”


Suara lembut dan familiar itu terdengar ditelingaku. Ah, kenapa ia tiba-tiba muncul lagi, apakah permainan takdir akan terulang kembali.


Aku menoleh pada sosok wanita dengan linangan air mata membasahi wajahnya, ia sedang membawa koper besar dan selembar tiket pesawat ditangannya.


Aku terdiam sejenak dan bingung mau berkata apa? Ini sungguh canggung sekali, apakah aku akan dibawa ke Mabes Polri untuk diinterogasi karena hanya aku Pemburu yang kembali dengan selamat setelah Pintu Dunia Bawah menghilang selamanya dari bumi. Mereka pasti menanyakan, bagaimana caranya aku bisa keluar dari sana.


Aku tersenyum dan melambaikan tangan.


“Hai, Sarah! Aku ....”


Entah apa yang harus kukatakan, kenapa aku malah gugup sekali. Namun, tiba-tiba Sarah memelukku erat dan menangis sesenggukan.


Aku menarik nafas dalam-dalam, sepertinya rencanaku untuk menjauhinya gagal. “Sarah ... mari kita pulang ke rumah!" Aku berbisik dan mencium keningnya—yang masih menangis sesenggukan, tanpa berkata apa-apa.


...~Tamat~...


***


Terimakasih untuk para Pembaca setia Sistem Dukun dan menemani perjalanan “Dukun Zul” yang telah berhasil menutup Pintu Dunia Bawah terakhir, walaupun sebenarnya ada konspirasi besar dibalik semua itu.


Atas dukungan kalian juga, Dukun Zul menempati peringkat ketiga 😁😁😁


__ADS_1


__ADS_2