Sistem Dukun

Sistem Dukun
Pintu Dunia Bawah Songkhla, Thailand


__ADS_3

Keesokan paginya, Aku dan Sarah bersiap-siap menuju Songkhla, Thailand. Sarah sudah berpakaian lengkap, layaknya Pemburu profesional, berbeda denganku yang mengenakan celana jeans dan kaos distro saja. Karena aku selalu mengandalkan item sekali pakai dari Sistem Dukun.


“Permisi, tuan Zul!”


Suara laki-laki dewasa mengetuk pintu kamarku dan aku segera membuka pintu. Entah siapa yang tiba-tiba datang mencariku itu.


“Ya, ada apa, Pak?”


Ternyata yang datang adalah pria kekar dengan rambut cepak dan ia adalah Pemburu Level 75. Dia juga membawa kotak aneh ditangannya, apa jangan-jangan bom lagi? Aku langsung waspada.


“Saya diutus oleh Bos Reynaldi mengantarkan paket ini tuan Zul,” jawabnya dengan seutas senyum tipis.


Aku bernafas lega, ternyata bukan musuh dan aku langsung menerima kota itu. “Terimakasih, Pak!” seruku dengan senyum lebar, karena senang pesananku langsung di kirim Reynaldi—padahal aku memesannya baru tadi malam.


“Apa itu Bang Zul?” tanya Sarah penasaran.


Hmm, apakah ia tidak mendengar percakapanku dengan Reynaldi semalam ya, gara-gara asyik bermain ponsel.


“Armor, agar Abang tak perlu beli item lagi di Sistem Dukun!” sahutku langsung membuka kotak itu.


Hmm, Reynaldi terlalu norak memilih warna. Masa dia membelikan Armor dengan warna merah, terlalu mencolok sekali.


“Langsung pakai Bang, biar kita langsung berburu saat sampai di sana!” seru Sarah, tetapi Aku melihat jelas disudut bibirnya ia tersenyum—ingin mengejek warna Armorku ini.


Aku mengenakan Armor itu dan mengaktifkan Item Teleportasi menuju Songkhla, Thailand. Dalam sekejap mata kami sudah sampai di titik koordinat lokasi Pintu Dunia Bawah yang diberikan Reynaldi semalam.


Kami mengintip ke dekat Pintu Dunia Bawah itu dan ada Militer Thailand bersenjata berat sedang berjaga-jaga, sepertinya Pintu Dunia Bawah itu telah diambil alih pemerintah—karena insiden menghilangnya tim Pemburu Level tinggi yang cukup berprestasi di Thailand.

__ADS_1


Aku membeli item kamuflase agar tidak terdeteksi keberadaan kami, karena tiba-tiba ada banyak mobil militer yang mendekat.


“Sepertinya para Guild terbesar di Thailand mengirim tim terbaik mereka untuk berpartisipasi dalam perburuan ini,” bisik Sarah dan aku pun mengangguk setuju.


Mereka berbicara dalam bahasa Thailand sehingga aku tak mengerti apa yang mereka katakan. Namun, anggota militer yang berjaga di depan Pintu Dunia Bawah segera menyingkir barikade yang menutup Pintu Dunia Bawah itu.


Para tim Pemburu segera memasuki Pintu Dunia Bawah dan Aku juga menarik tangan Sarah mengikuti mereka masuk. Namun, sensor pendeteksi milik militer Thailand berbunyi karena kami tidak memiliki identitas Pemburu Assosiasi Pemburu Thailand.


Mereka tampak panik dan menggunakan sensor pendeteksi musuh, sehingga aku langsung membawa Sarah segera masuk ke dalam Pintu Dunia Bawah.


“Hampir saja!”


Sarah menghela nafas panjang setelah kami berada di titik aman Pintu Dunia Bawah dan Aku melihat ada Lima belas lorong yang mengarah kesegala arah, yang berarti tidak semua lorong menuju ruangan Bos Monster.


“Ayo kita duluan masuk!” seruku memilih lorong selatan dan melesat dengan kecepatan tinggi. Kami tidak melawan monster Level rendah agar keberadaan kami tidak tersusul oleh tim Pemburu Thailand.


Para monster berbentuk manusia hewan ini tak menyadari keberadaan kami berkat Item kamuflase, tetapi item itu tidak akan berfungsi bila kami sengaja melawan mereka, karena spesifikasi item ini hanya untuk pengintaian saja.


Tak lama kemudian, kami bertemu dengan monster manusia rubah ekor sembilan seperti dalam mitologi Asia timur.


Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca dan bentuk tubuhnya yang aduhai, malah membuatku tergoda dan sesuatu dibawah milikku langsung bereaksi.


Aku berjalan mendekatinya dan untungnya Sarah mencubit pinggangku, sehingga Aku menjerit keras.


“Sakit sayang ....” Aku cemberut, tetapi malah Sarah yang lebih cemberut lagi.


“Abang telah terkena sihir pesona. Sepertinya Rubah jelek ini dapat membuat lelaki terpikat padanya,” kata Sarah menatap tajam pada monster manusia rubah ekor sembilan itu.

__ADS_1


Apakah Sarah cemburu pada Monster ini, padahal sudah jelas Monster ini sangat cantik. Kalau dilihat dari berbagai sudut pandang, semuanya oke—kecuali telinganya, hidung dan ekornya yang tetap seperti Rubah. Namun, itu terlihat menggemaskan, malah tak tega rasanya ingin membunuhnya, tetapi ia tetaplah monster dan tak mungkin manusia dan monster bisa hidup berdampingan.


Tanpa aba-aba dariku Sarah langsung menembakkan anak panah kearah monster Rubah ekor sembilan itu. Namun ia bisa mengelak dan memilih kabur ke bagian terdalam Dungeon ini.


“Sepertinya mereka sangat cerdas, berbeda dengan monster Goblin yang kita lawan di Gunung Kerinci.”


Aku akhirnya mengerti kenapa tim pertama yang menemukan Pintu Dunia Bawah ini tak pernah kembali, mereka telah dijebak oleh monster yang mirip manusia hewan ini.


“Hati-hati Sarah, sepertinya mereka ingin menjebak kita!” Aku memperingati Sarah agar bertindak hati-hati.


Sarah mengangguk dan aku menghidupkan Drone kamera, tetapi aku tidak menyapa para Viewerku kali ini dan cuma mengirim komentar, menulis garis besar tentang Pintu Dunia Bawah yang kami masuki. Para Viewerku sudah sabar ingin melihat monster manusi hewan yang berpikiran cerdas itu.


Kami memasuki ruangan yang seharusnya dihuni oleh monster Level 71, tetapi yang anehnya tak ada monster di sana. Begitu juga di ruangan yang paling dalam—yang seharusnya di huni oleh monster Level 72, 73, 74, 75, 76, 77, 78 dan 79.


Ini aneh, apakah mereka berkumpul di ruangan Bos Monster dan bersiap melawan kami secara bersamaan. Tentu Aku dan Sarah tak sanggup melawannya, kecuali aku mengorbankan banyak item dari Sistem Dukun. Itu sih, sama saja rugi besar, bukan untung malah jadi buntung dan dapat lelahnya saja.


“Bang, Sarah khawatir!” bisik Sarah yang berjalan perlahan-lahan dibelakangku.


“Iya tenang saja, aku telah meminta para Viewerku untuk menonton live streaming dari tim Pemburu Thailand, apakah mereka sudah bertarung dengan monster manusia hewan ini,” sahutku dan muncul komentar dari Viewer channel YouTubeku yang menulis kalau tim Pemburu Thailand juga mengalami nasib yang sama, bahkan monster Level satu ikut kabur ke bagian terdalam Dungeon.


Aku memutuskan kami berhenti melangkah ke bagian terdalam. Kalau monster Level satu juga ikut kabur, berarti bila ada tim Pemburu Thailand yang memasuki lorong selatan—maka, sebentar lagi monster Level satu hingga Level 69 akan melewati kami, sehingga aku tersenyum.


“Kenapa bang Zul tersenyum?” Sarah tampak keheranan.


“Hehehe ... tariklah anak panahmu Sarah, dari belakang kita akan datang kawanan monster!” sahutku yang langsung membeli Item Lightning Step dan senjata Kerambit yang merupakan pisau melengkung yang merupakan senjata tradisional Minangkabau dan menyebar ke berbagai daerah di Nusantara, Malaysia dan Filipina. Aku juga membeli Skill Sihir Petir untuk dipadukan dengan kedua Kerambit ditanganku. Aku harus merelakan tumbal 500 Koin Emas atau setara 50 juta rupiah.


Dungeon ini tiba-tiba bergemuruh dan tepat dugaanku kalau mereka akan mundur juga. Namun, sayang sekali—kami telah mengetahui rencana kalian wahai monster licik hehehe ....

__ADS_1


__ADS_2