
Aku makan cukup banyak, karena jarang-jarang makan makanan yang enak begini, apalagi saat masih bekerja di SPBU Rimba Panti, huh ... nyeseknya—setiap hari makan telor atau pakai garam saja agar bisa menghemat biaya.
“Apakah kamu sudah tahu informasi yang beredar belakangan ini?” bisik Farhan.
Aku geleng-geleng kepala dan penasaran informasi apakah yang ia maksud. Apalagi ia tidak menggunakan bahasa gaul ala anak Jakarta lagi, berarti ia sedang memasuki mode serius.
“Kabarnya semua Pemburu akan dipaksa mengikuti Kompetisi Pemburu tahunan yang akan diadakan di sini dan ....” Farhan melirik sekeliling kami, merasa tidak akan ada yang mendengar ucapannya. Diapun berkata, “Semua peserta kompetisi itu akan dipaksa pergi ke Antartika dan apabila ada yang kabur, maka mereka akan diburu—kemudian dilenyapkan, bahkan orang terdekat yang melindungi mereka juga akan dieksekusi mati dengan melabelkan mereka sebagai pelaku makar dan sedang merencanakan kegiatan teror¡s.”
Aku terkejut mendengarnya, ternyata dugaanku benar. Mereka tengah mempersiapkan penghapusan Sistem Layar Virtual dan mengembalikan dunia ke peradaban normal.
“Lalu apa yang terjadi pada kita setelah menutup Pintu Dunia Bawah Antartika itu?”
Aku penasaran, apakah pemerintah dunia akan memberlakukan senjata yang dikatakan oleh penyidik Polisi dari Divisi Supranatural Mabes Polri dapat menghilangkan Sistem Layar Virtual.
Farhan geleng-geleng kepala, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami. Namun, aku tahu ia sebenarnya berharap saat perburuan nanti—aku membawanya bersamaku, karena aku memiliki Sistem Dukun yang bisa menggunakan Item Teleportasi untuk berpindah tempat.
“Kau carilah informasi yang lebih detail, kalau memang kita dipaksa ikut berburu ke Pintu Dunia Bawah Antartika, maka aku akan berusaha mencari cara agar kita bisa kabur dari sana!” Aku menenangkan kepanikan Farhan.
“Janji ya, Zul. Aku tak akan meminta bonus lagi padamu dah, yang penting aku bisa keluar dari sana hidup-hidup dan menjadi petani saja di kampung hehehe ....” Farhan tertawa masam.
Sarah tak merespon pembicaraan kami, ia masih menikmati makanannya. Cih, makin suram saja masa depanku ini. Padahal aku baru saja gencatan senjata sementara dengan Saga. Namun ada lagi bahaya yang mengintai.
“Hei, Aku sudah menyimpan sebagian besar uangku di sebuah bang di Panama,” kata Farhan lagu dengan senyum lebar.
__ADS_1
“Eh, kok di sana? Kenapa tidak di Swiss saja?” Aku keheranan.
“Di Swiss terlalu mencolok, karena setiap transaksi yang tertuju ke negara itu akan diawasi oleh PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), mendingan ke Panama lebih aman; asalkan pengirimannya secara bertahap. Kau ingat tidak kasus Panama Papers beberapa tahun yang lalu, di mana banyak pejabat dan pengusaha yang menimbun harta mereka di sana, tetapi kasus itu lenyap begitu saja tanpa ada tersangkanya! hehehe ....” Farhan tertawa terkekeh-kekeh.
Aku berpikir sejenak.
“Tidak semudah itu, Zul!” Aku menyanggah ucapannya. “Yang ingin melenyapkan kita adalah pemerintah seluruh dunia, yang berarti aset seluruh Pemburu akan diambil alih berkat kerjasama antar negara. Justru yang paling aman adalah membeli tanah atau bangunan dengan hak milik keluarga, tetapi itupun jangan banyak-banyak agar tidak mencolok, atau menimbun emas di suatu tempat tersembunyi.”
Farhan tampak khawatir, karena ia sudah terlanjur mengirim sebagian besar uangnya ke sebuah Bank di Panama.
“Sudah lupakan saja itu. Kan, masih ada waktu beberapa bulan lagi sebelum kompetisi, kamu bisa mengambilnya kembali. Nah, sekarang apakah ada Pintu Dunia Bawah yang terbuka?”
“Baru juga keluar dari Gunung Kerinci, kok kamu ngebet banget pengen kaya! Apakah Sarah menuntutmu agar serakah?” canda Farhan, sehingga Sarah berdehem sembari memelototi Farhan.
“Masalahnya bukan itu!” Aku sedikit panik. “Aku masih memiliki hutang yang cukup banyak pada Sistem Dukun. Apabila aku tidak bisa membayar hutang yang tersisa, aku takut saat Sistem Layar Virtual menghilang, Aku juga ikut lenyap!”
Aku tersenyum masam.
“Sudah jangan terlalu khawatir begitu, ini cuma perkiraanku saja. Doakan saja tidak sampai begitu!” Aku menenangkan situasi.
Sarah menatapku dengan linangan air mata dan aku segera menyeka air matanya, walaupun dari sebelah terdengar helaan nafas panjang, mungkin Farhan yang masih jomblo terusik melihat adegan kemesraan kami.
“Jadi, berapa sisi hutang Bang Zul, itu?” tanya Sarah.
__ADS_1
“75.000 koin emas!” sahutku sambil menghela nafas panjang dan menatap lurus keluar restoran.
“Hahaha ... ternyata cuma segitu, toh. Sarah kira jutaan Koin Emas." Sarah tertawa dan langsung membuka Layar Virtual-nya, “Sekarang cepat bayar! Jangan tunda-tunda lagi," kata Sarah masih dengan senyum manisnya.
Aku terkejut mendengarnya dan membuka Layar Virtualku. Ternyata ia telah mentransfer 75.000 Koin Emas dan Aku baru teringat, dia adalah Pemburu wanita paling berprestasi di Indonesia.
“Apalagi? Jangan bilang Bang Zul berhutang juga pada Mafia!” Sarah cemberut menatapku.
Aku tersenyum dan langsung membayar hutangku pada Sistem Dukun, jadi ... rasanya seperti terlahir kembali saja. Bayang-bayang kematian yang mengintaiku sepanjang waktu akhirnya berakhir.
Namun, aku teringat Sistem Dukun memiliki item yang sangat kuat, tetapi harganya sangat mahal.
“Ada apalagi?” Sarah tahu aku sedang memikirkan sesuatu.
“Boleh pinjam 100.000 Koin Emas tidak? Untuk jaga-jaga bila bertemu musuh yang sangat kuat, maka aku akan membeli item Santet. Itu bisa membunuh apa saja, mungkin akan berguna saat di Pintu Dunia Bawah Antartika nanti,” kataku pelan sembari menggaruk kepalaku yang tidak gatal—aku takut Sarah marah.
“Hmm, kalau aku mentransfer sebanyak itu, maka aku akan miskin. Karena hanya sepertiga asetku yang bisa kuambil dari Guild Harimau Andalas. Namun, untuk Abang ... kuberikan saja, toh ini demi kelangsungan hidup kita juga,” sahut Sarah langsung mentransfer seratus ribu Koin Emas lagi.
Farhan melongo mendengarnya, “Gila kau Zul, istrimu kau peras. Kau meminta satu triliun rupiah lagi.” Dia geleng-geleng kepala.
“Inilah namanya cinta sejati Han, rela berkorban demi suami tercinta!” Aku bercanda, tetapi Sarah memelototiku sembari memberikan cubitan yang membuatku menjerit, karena cubitan itu mengandung energi yang sangat kuat.
Para pelanggan restoran langsung menatap kami, tetapi mereka tidak berani menegur karena mereka mengenaliku dan Sarah yang sedang viral hari ini—karena kami menikah diam-diam dan Sarah keluar dari Guild Harimau Andalas.
__ADS_1
Setelah merasa puas makan di Restoran seafood favorit Sarah, kami pun berpisah dengan Farhan. Suasana hatiku sedang berbunga-bunga sekarang, karena tak menyangka Sarah rela memberikan semua harta berharganya padaku.
Aku kemudian menuju Serpong, Tangerang Selatan untuk menemui Reynaldi—melakukan transaksi penjualan item yang kami dapatkan dari Pintu Dunia Bawah Gunung Kerinci.