
Monster Kesatria berbaju Jirah itu sangat hebat, baik beladiri atau berpedang mereka, belum lagi tenaganya yang sangat kuat membuatku terpental.
Aku memikirkan item apa yang cocok untuk mengalahkan mereka. Apalagi tim Gatot Kaca malah bertindak sangat hati-hati, sehingga nyaris mereka lebih banyak melakukan serangan jarak jauh yang tak berguna sama sekali.
“Hei Sistem Dukun adakah item rekomendasi untuk mengalahkan mereka?”
“Sistem Dukun merekomendasikan item Santet, hanya dengan sekali gunakan; musuh sekuat apapun akan mati!”
“Itu sih, item bikin bangkrut! Harganya saja 100.000 Koin Emas atau setara dengan sepuluh milyar rupiah. Kalau tidak kepepet, aku tak akan membeli item itu!”
Dalam situasi seperti ini, Sistem Dukun malah bercanda. Reynaldi juga terlalu meremehkan Pintu Dunia Bawah ini, malah hanya membawa sedikit Pemburu saja.
“Bos! Apakah kita mundur saja?” tanya Pemburu Level 100 pada Reynaldi.
“Mundur!” Reynaldi menaikkan alis matanya. “Tak ada yang boleh keluar, sebelum kalian mengalahkan Bos Monster itu. Gua tak peduli, kalian mati atau nggak, karena kalian dibayar untuk mengalahkan mereka!”
Reynaldi memarahi Pemburu Level 100 itu, sehingga aku mulai curiga. Jangan-jangan Guild Javanese Soldier itu bagian dari Mafia Elang Timur, seperti Guild Harimau Andalas yang merupakan bagian Mafia Banteng88.
“Selain Item Santet, tak ada item lain yang direkomendasikan. Karena semua efek sihir tak akan menimbulkan damage pada mereka. Sistem Dukun menyarankan Anda memaksimalkan potensi item Lightning Step saja.” Suara seperti Google voice Sistem Dukun muncul di pikiranku.
Ah, sial! Tak ada cara lain, selain langsung hantam saja!
Aku mengaktifkan Item Lightning Step—mempercepat gerakanku yang langsung muncul dihadapan Kesatria berbaju Jirah itu.
Kali ini aku membungkukkan sedikit badan dan mendorong Perisai besi kearah Kesatria berbaju Jirah yang menebas Pedangnya padaku.
Trang!
Dia menebas Perisai besiku itu dan aku terdorong mundur beberapa langkah. Namun, ini adalah kesempatanku.
“Makan ini!” Aku melempar Perisai besi itu kearahnya dan Kesatria berbaju Jirah itu bergerak kesamping mengelaknya.
Itu dia!
Aku melihat celah, kemudian menebas punggungnya dan Kesatria berbaju Jirah itu langsung terbelah.
__ADS_1
Waw ....
Ternyata, Pedangku ini sangat tajam, mampu menembus baju jirahnya. Hehehe ... Aku sudah tahu cara mengalahkan mereka.
“Dukun Zul, berhasil mengalahkan monster itu!” seru Nabila terkejut melihatku.
“Ternyata untuk mengalahkan mereka, dibutuhkan gerakan cepat.” Draken8 menganalisa caraku mengalahkan Kesatria berbaju Jirah itu. “Ayo kita lakukan gerakan yang sama!” kata Draken8 pada anggotanya.
Aku datang membantu anak buah Reynaldi yang kini tinggal dua Pemburu lagi. Mereka benar-benar dihancurkan dengan mudah.
“Cepat mundur, biarkan aku yang mengambil alih!”
“Terimakasih tuan Zul,” sahut mereka senang. Hampir saja mereka bernasib sama dengan rekan-rekannya yang telah tewas lebih dulu.
Sebenarnya aku tak peduli dengan nasib para Mafia itu. Namun, aku ingin terlihat baik di mata Reynaldi atau Guild Javanese Soldier karena saat ini kami sedang menjalin hubungan baik sebagai mitra bisnis.
Aku melakukan cara yang sama dan mengalahkan Kesatria berbaju Jirah yang menghancurkan anak buah Reynaldi itu. Cara yang sama juga berhasil diterapkan oleh tim Gatot Kaca dan Keempat Pemburu Level 100.
“Hebat-hebat! Gua nggak salah membawamu kemari tuan Zul.” Reynaldi bertepuk tangan, karena dengan strategi yang kulakukan, kami dengan mudah mengalahkan Kesatria berbaju Jirah itu.
Dia segera menenteng Pedangnya yang sangat besar. Mungkin jika aku yang menentengnya, maka aku tak akan sanggup mengangkatnya saking beratnya.
“Apa yang akan kita lakukan tuan Zul?” tanya Reynaldi.
“Aku tidak tahu, mungkin kita bisa melakukan cara yang tadi. Atau kita keroyokan bersama-sama saja,” jawabku—walaupun sebenarnya aku kurang yakin cara yang sama akan berhasil mengalahkannya.
“Kalau begitu, silahkan Anda duluan saja Dukun Zul!” seru Roy dengan seringai tipis diwajahnya.
“Ah, aku tak berani. Lagi pula aku hanya tamu undangan di sini. Jadi, sudah sewajarnya kalian yang lebih dulu bergerak.”
Dikiranya aku seperti mereka yang mau diatur-atur. Kalau pun situasi mendesak, aku akan kabur dengan item Teleportasi. Itu sudah hukum rimba, menyelamatkan diri masing-masing saat kau tak sanggup berbuat apa-apa lagi.
“Hei, sombong sekali kau Dukun Zul!” bentak Roy marah dengan jawabanku. “Bukannya kamu bisa menganalisa kelemahan lawan setelah melawannya sekali?”
Ya, memang betul apa yang dikatakannya, tetapi lawannya adalah Bos! Sungguh konyol, Pemburu Level 40 sepertiku berhadapan langsung melawannya.
__ADS_1
Hmm, aku naik 5 Level setelah mengalahkan dua Kesatria berbaju Jirah tadi.
“Hei, tahan emosimu Roy!” bisik Draken8, tetapi aku masih mendengar bisikanya. “Bos Reynaldi saja bersikap sopan padanya. Jadi, jangan sampai bos Reynaldi memarahimu!”
Roy hanya bisa menggerutu dan menatap sinis padaku.
Reynaldi berdiskusi dengan empat Pemburu Level 100, tindakan apa yang akan mereka ambil, sedangkan aku ikut-ikutan saja—keputusan apa yang akan mereka ambil nanti.
“Sepertinya kita harus serang bersama-sama, karena tak ada pilihan lain. Lagi pula strategi yang dibuat tuan Zul tadi sudah bagus menurutku,” kata Reynaldi.
Anggota tim Gatot Kaca hanya bisa pasrah dengan keputusan Reynaldi. Karena mereka tak yakin bisa mengalahkan Bos Monster yang memiliki Level jauh lebih tinggi dari mereka.
“Ayo kita serang! Dia sudah mendekat!” seru Draken8 menyemangati anggota tim Gatot Kaca. Namun, wajah mereka malah tampak panik dan ketakutan.
“Serang!”
Keempat Pemburu Level 100 dan anggota tim Gatot Kaca mengepung Bos Monster Level 100 itu, sedangkan aku tidak maju dan memilih mengamati pertarungan mereka.
Bos monster itu mengayunkan Pedangnya dan melakukan tebasan berputar 360°, sehingga mereka langsung terpental dan Roy yang tidak ikut menyerang langsung dihampiri Bos monster.
“J-jangan mendekatiku!” teriak Roy hendak kabur. Namun, Bos monster itu melompat kearahnya dan menusuk punggung Roy hingga tembus ke perutnya.
Roy membelalakkan mata dan air matanya mengalir deras menatap kami yang tak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
“Roy!” Nabila berteriak histeris, tubuhnya terasa lemas dan duduk di lantai ketakutan menatap Bos monster yang berjalan kearahnya. “T-tolong aku Draken8!” Dia menoleh kebelakang, tetapi tim-nya sudah mundur sangat jauh.
“Cepat lari!” teriak Draken8.
“A-aku tak bisa! T-tolong aku!” Nabila menangis histeris, ia tak bisa menggerakkan kakinya—akibat terlalu takut.
Aku menjadi kasihan melihat wanita menangis begitu dan aku berkata pada Pemburu Level 100, cepat gunakan sihir terkuatmu untuk mengalihkan perhatiannya!”
Keempat Pemburu itu mengira mereka yang dikatakan olehku dan Keempat Pemburu itu menyerang secara bersamaan.
Sihir Api, Angin, Petir dan Tanah sekaligus menyerang Bos monster, kemudian aku mengambil kesempatan itu menarik Nabila agar menjauh, sedangkan serangan gabungan dari keempat Pemburu Level 100 itu lenyap begitu saja saat mengenai Bos Monster.
__ADS_1