Sistem Dukun

Sistem Dukun
Hobgoblins


__ADS_3

“Hobgoblins!” Sarah terkejut melihatnya. “Mereka adalah Goblin yang berevolusi menjadi lebih besar dan kekuatannya sepuluh kali lebih kuat dari Goblin biasa!” Sarah memberikan penjelasan.


Pantaslah dari awal kami hanya bertemu dengan Goblin, ternyata Pintu Dunia Bawah ini khusus monster Goblin—Aku yakin kami akan bertemu Goblin jenis lain lagi.


Aku mengeluarkan Drone kamera dan melakukan live streaming.


“Halo gaeesssssss! Ketemu lagi dengan gua, Dukun Zul dan gua ditemani oleh istri tercinta ....” Aku mengarahkan Drone kamera pada Sarah.


“Hai, saya istri Bang Zul!” sapa Sarah malu-malu.


“Apaaaaaaa? Pantaslah dia tak ikut konferensi pers tadi malam saat tim Saga akan bertolak ke provinsi Jambi, ternyata ia telah menikah dengan Dukun Zul!”


“Woi, jangan-jangan Lo menyantet Sarah, ya? agar mau nikah sama Lo!”


“Betul-betul!”


Situasi dalam kolom komentar channel YouTubeku mulai heboh. Ada yang mendukung hubungan kami dan banyak juga yang nyinyir.


Bukannya mengomentari monster dihadapan kami, mereka malah sibuk membahas tentang Sarah. Hadeh, ada-ada saja nih, para netizen.


Aku tak menengok lagi kehebohan di channel YouTubeku dan mengaktifkan kembali Sihir Tanah, sehingga aku menjadi manusia batu.



“Jangan serang dulu Sarah, aku ingin mencoba melawannya. Sepertinya Hobgoblins memiliki fisik yang kuat dan Kapaknya itu cukup mengerikan, sehingga aku ingin mencoba sekuat apa tubuh batuku ini.” Aku langsung melempar batu besar kearah Hobgoblins yang menatap tajam padaku.



“Humano rudo!” umpat Hobgoblins itu menebas batu yang kulempar hingga hancur berkeping-keping.


“Dia sepertinya sangat marah! hahaha ....” Aku tertawa terkekeh-kekeh mengejeknya.


“Dia mengatakan Bang Zul, manusia kurang ajar. Itu bahasa Galisia!” sahut Sarah.


Oo, ternyata Hobgoblins yang ini cukup cerdas juga. Berbeda dengan Goblin level rendah sebelumnya—yang hanya tertarik dengan kecantikan Sarah, sehingga mereka terus menyerang kami, walaupun sudah tahu akan kalah.

__ADS_1


Aku mengayunkan lenganku dan meninju Hobgoblins yang langsung mengayunkan Kapaknya juga.


Boommm!


Lenganku hancur berkeping-keping, tetapi anehnya aku tidak merasakan sakit dan pecahan batu-batu yang berserakan itu kembali menyatu ke tubuhku—kemudian lenganku kembali tumbuh.


Levelku sepertinya masih terlalu rendah, sehingga gampang dihancurkan oleh Hobgoblins ini. Apakah aku membeli item senjata saja?


Ah, tak perlu. Aku hanya perlu merebut Kapak besar miliknya itu.


Aku melempar bongkahan-bongkahan batu yang dengan mudah dihancurkan oleh Hobgoblins, tetapi itu hanya untuk membuatnya sibuk saja.


Saat ia sedang lengah, aku langsung meninju wajahnya—sehingga ia mundur beberapa langkah, tetapi itu belum cukup untuk melukainya. Sepertinya perbedaan level kami yang terpaut jauh, cukup berpengaruh.


“Sarah!” Aku memberikan instruksi agar ia memanah Hobgoblins—Aku menyerah, kalau pun dilanjutkan tidak akan berpengaruh apa-apa, yang ada malah dapat capeknya saja.


Swushh!


Anak panah dengan yang dilapisi dengan kobaran api melesat dengan cepat dan menancap di kening Hobgoblins itu. Kemudian ....


Boommm!


“Sayang sekali! Kau menghancurkan Kristal monster-nya, Sarah!” Aku menyimpan tubuh Hobgoblins ke dalam inventori Layar Virtualku.


“Cuma itu titik lemahnya Bang Zul. Karena bagian tubuh yang lainnya akan beregenerasi kembali walaupun telah dihancurkan,” sahut Sarah.


Aku akhirnya mengerti titik lemah mereka ada di kepala. Kami pun melanjutkan menelusuri Dungeon dan kembali bertemu Hobgoblins.


Aku kembali melawan Hobgoblins level 76 dan meminta Sarah untuk tidak ikut campur. Karena yang sebelumnya telah membuat malu reputasi Dukun Zul di mata viewer channel YouTubeku—di mana Dukun sakti terhebat di Indonesia itu malah meminta bantuan istrinya untuk mengalahkan monster yang hanya Level 75.


Aku yakin kali ini tak akan kalah, karena sudah memiliki Kapak besar milik Hobgoblins Level 75 tadi, sementara lawanku ini memakai senjata Pedang besar dan tameng besi.


Pertama aku melemparnya dengan batu besar dan langsung mengaktifkan Item Lightning Step yang dari awal sudah kupakai. Jadi, sia-sia bila tidak dipakai, apalagi harganya cukup mahal—kalau dirupiahkan, kisaran dua juta.


Hobgoblins level 76 itu menebas batu besar yang kulempar dan aku tiba-tiba muncul dihadapannya—kemudian mengayunkan Kapak ke bagian perutnya, tetapi ia langsung mundur beberapa langkah.

__ADS_1


Dia cukup cerdas juga, mampu memprediksi arah seranganku.


“Bagaimana Bang Zul? Apakah perlu aku bantu lagi? Kita sudah lama di ruangan ini, takutnya Pemburu dari Guild Harimau Andalas menyusul kita,” kata Sarah yang sudah bosan menonton pertarunganku dengan Hobgoblins level 76 ini.


“Tenang saja Sarah. Aku yakin beberapa gerakan saja ia pasti akan kalah!” sahutku berkilah—padahal aku sebenarnya kesulitan mengalahkannya.


Karena tak ingin kelihatan lemah di mata Sarah dan Viewer channel YouTubeku, akhirnya aku memutuskan menggunakan item Teleportasi dan muncul dari atas Hobgoblins yang tidak tahu aku akan muncul dari sana.


“Rasakan ini!” Aku membelah kepala Hobgoblins itu dan Kristal monster yang ada di kepalanya ikut terbelah dua.


Hobgoblins itu langsung ambruk dan aku mendapatkan Pedang besar lagi. Item yang lumayan, karena tidak seperti item Dukun Zul yang hanya sekali pakai—item yang ditinggalkan oleh monster bisa dipakai berkali-kali, kecuali hancur saat pertarungan, itu lain lagi ceritanya.


“Bagaimana aku hebat kan?”


Namun, Sarah tidak kagum dan malah geleng-geleng kepala. “Hebat dari mana, Bang Zul malah menggunakan item Teleportasi. Katanya ingin menghemat Koin Emas. Eh, malah berbohong—padahal tinggal bilangan Sarah saja, kalau kerepotan melawan Hobgoblins ini.”


Aduh, Sarah berkata terlalu jujur, sehingga para Viewer channel YouTubeku mengetahui bahwa aku menggunakan cara curang untuk menang. Beberapa menghujatku dan sebagian tetap mendukungku, tetapi masa bodoh sajalah, yang penting menang.


“Baiklah, aku tidak akan menggunakan item Teleportasi lagi, bila tidak terdesak!” sahutku sambil memasukkan tubuh Hobgoblins level 76 ke dalam inventori Layar Virtualku.


“Huh, palingan Bang Zul berbohong lagi,” kata Sarah—tak percaya dengan ucapanku.


“Percaya sajalah!” Aku menggodanya, sehingga para jones di channel YouTubeku mengumpatiku. Bukannya bertarung mengalahkan monster, eh malah mesra-mesraan tulis mereka di kolom komentar.


Aku senyum-senyum sendiri membaca komentar kocak mereka dan kami melanjutkan masuk lebih dalam lagi.


Hobgoblins level 77 telah menunggu kami di ruangan lembab, di mana rembesan air berjatuhan dari sela-sela lubang Dungeon.


Hobgoblins itu menatap kami, ia sedang memakan kaki—yang mungkin adalah Goblin level rendah. Sungguh kanibalisme yang sangat mengerikan.


“Bang Zul tidak melawannya?” tanya Sarah, karena diam saja dan hanya memandangi Hobgoblins itu memakan rekannya.


“Tempat ini sangat basah, dengan tubuh Golem seperti ini akan menyulitkanku untuk bergerak leluasa. Bunuh saja dia!” sahutku—padahal sebenarnya aku tak yakin bisa mengalahkannya.


Sarah menarik anak panahnya dan sekali tembak saja, Hobgoblins level 77 itu tewas seketika.

__ADS_1


__ADS_2