
“Dukun Zul, Anda kami kepung! Angkat tangan keatas dan jangan lakukan pergerakan apapun!” Suara pengeras suara dari luar Rusunawa dan Polisi dari Divisi Supranatural bersenjata lengkap segera masuk—Aku sangat panik dan berusaha mengaktifkan Item Teleportasi untuk kabur, tetapi Sistem Dukun sudah tak berfungsi lagi, karena mereka telah mengaktifkan alat yang membuat Layar Virtual tak berfungsi.
Cih, ada apa lagi ini? Padahal baru saja Aku ditahan beberapa hari yang lalu, masa ditahan lagi.
“Apa salah saya, Pak?” Aku protes tetapi tiba-tiba seorang Polisi menembak sesuatu yang membuatku langsung merasa kantuk dan tak tahu apa yang terjadi setelah itu, selain terakhir kalinya aku mendengar suara Sarah yang menangis.
***
Aku merasa kepalaku sedikit pusing dan ketika melihat sekeliling—Aku menyadari telah pernah ke tempat ini. Ke mana lagi, kalau bukan di ruang interogasi Divisi Supranatural Mabes Polri.
Nasib-nasib! Kenapa mereka menangkapku sih, padahal aku sudah berbuat baik dan tidak mencari masalah dengan Pemburu lain, bahkan aku berdamai dengan musuhku; Saga dan kawan-kawannya.
Aku menjambak rambutku, karena merasa sakit kepala memikirkannya dan tiba-tiba Penyidik Polisi yang dulu memeriksaku kembali muncul dengan seutas senyum tipis diwajahnya.
Aku memasang wajah masam dan dia langsung duduk dihadapanku.
“Halo, Zul. Kita berjumpa lagi? Apakah kamu sudah menghubungi Pengacara Alena Sitorus, belum?” Penyidik Polisi itu berbasa-basi, padahal sudah jelas mereka menangkapku dengan cara membuatku jatuh pingsan, bagaimana caraku menghubunginya.
Aku mendengus dingin dan berkata, “Tidak perlu bertele-tele, katakan saja apa mau Divisi Supranatural sehingga menangkapku. Pasti ada maunya, kan? Karena aku tak melanggar hukum apapun?”
Penyidik Polisi itu tersenyum. “Melakukan perjalanan ke negara lain, memasuki Pintu Dunia Bawah tanpa izin Assosiasi Pemburu setempat dan melakukan Perburuan secara ilegal. Bukankah itu pelanggaran, Dukun Zul!”
__ADS_1
Aku diam saja, ternyata interpol telah meminta Divisi Supranatural Mabes Polri untuk menangkapku gara-gara aku berburu ke Pintu Dunia Bawah Songkhla, Thailand itu.
“Bagaimana dengan Sarah?” Aku mengalihkan pertanyaan, karena aku penasaran apakah ia ditangkap juga. Sebelum aku jatuh pingsan, aku masih mendengar Surah menangis, yang berarti ia tidak dibuat pingsan sepertiku.
“Dia di ruangan berbeda dan jangan khawatir ia akan baik-baik saja. Namun, sebenarnya kamu ditangkap bukan gara-gara Perburuan di Songkhla, Thailand,” kata Penyidik Polisi itu, sehingga aku terkejut mendengarnya. “Pintu Dunia Bawah di Antartika sudah tak bisa dibendung lagi, Bos Monster yang merupakan induk dari semua monster yang muncul di seluruh Dunia telah selesai melakukan evolusi terakhir. Sekarang seluruh Monster yang ada dalam Pintu Dunia Bawah itu memiliki Level yang sama dengannya dan mereka segera melakukan invasi penuh pada Bumi—tentu Anda dapat membayangkan apa yang akan terjadi ....” Penyidik Polisi itu berhenti tersenyum.
“Apa hubungannya denganku?” Aku berpura-pura tidak mengerti, walaupun sebenarnya dugaanku seluruh Pemburu akan dikirim ke sana untuk menghentikan monster keluar dari Pintu Dunia Bawah Antartika itu.
“Sudah jelas, semua Pemburu akan dikirim ke sana. Namun, kau memiliki Sistem Layar Virtual yang sangat unik. Kamu bisa kabur dengan Teleportasi, makanya kami harus segera menangkapmu sebelum mengumpulkan mobilisasi Pemburu, karena kami yakin kamu akan kabur.” Penyidik Polisi itu menyeringai menatapku. “Sekarang kami punya kartu andalan untuk mengekangmu, dan kamu pasti sudah tahu—siapa yang akan kami kekang, kan?”
“Apakah itu Sarah?” Aku menebak.
“Betul sekali!” sahutnya. “Apabila kamu kabur saat dikirim ke Pintu Dunia Bawah Antartika, maka kami akan membunuh Sarah dan mengatakan ia gugur di Antartika. Jadi, misi kali ini Pemerintah sangat berharap dengan kemampuan Sistem Layar Virtual-mu yang sangat unik itu. Pemerintah menjamin, setelah keluar dari Antartika—kalian akan bebas tanpa khawatir akan kami tangkap lagi. Bahkan Pemerintah akan memberikan kalian kompensasi besar. Bagaimana, Zul?”
Cih, sialan!
“Baiklah, kalian atur saja. Aku akan menuruti perintah kalian!” sahutku sembari menghela nafas panjang.
“Kalau begitu, datanglah ke acara Kompetisi Pemburu yang diadakan hari Sabtu besok dan bertingkahlah seolah-olah tak terjadi apa-apa padamu hari ini. Kami yakin para fans fanatikmu akan mempertanyakan penangkapan dirimu. Sekarang itu tanggung jawabmu menenangkan mereka,” kata Penyidik Polisi itu tersenyum lebar. “Apalagi? Kenapa kau masih duduk di situ? Apa kamu ingin dipenjara saja atau dihukum mati?” Dia mengejekku.
“Apakah aku boleh bertemu dengan Sarah?” sahutku karena takut kami tak akan bisa bertemu lagi bila aku dikirim ke Pintu Dunia Bawah Antartika
__ADS_1
“Dia itu penjamin agar kamu melakukan misi dari Pemerintah. Jadi, selama misi ini berjalan, kamu tak akan bisa bertemu dengannya lagi—bahkan menelponnya atau chatting dengannya juga tak bisa. Sudah pergi sana! Jadilah anak baik dan jangan mempersulit kami lagi!"
Penyidik Polisi itu melambaikan tangan—menyuruhku meninggalkan ruangan interogasi itu.
Aku langsung keluar dengan kepala menunduk, rasanya dunia ini tak adil. Baru saja aku menjalani kehidupan bahagia bersama Sarah, kini kami dipisahkan lagi dan Aku dipaksa memasuki jalan menuju neraka.
Cih, Sial!
“Hei, buat apa kamu keluar dari pintu itu? Gunakan sihir anehmu itu kembali ke Bekasi!” seru Penyidik Polisi yang menjengkelkan itu.
Aku tak menoleh kebelakang dan langsung menggunakan item Teleportasi, kemudian muncul di kamarku yang sudah berantakan.
“Apa yang terjadi Zul?"
Para tetangga ternyata memandangi kamarku dari garis polisi di pintu masuk yang telah dirusak oleh tim Polisi yang menyerbu tadi.
“Saya melakukan pelanggaran dengan melintas batas negara tanpa menggunakan Paspor, sehingga interpol memerintahkan penangkapanku, tetapi sudah tak apa. Saya telah membayar denda hehehe ... maaf, ya Pak, saya telah membuat keributan dan mengganggu kenyamanan kalian.” Aku menundukkan kepalaku—memohon maaf.
“Ah, tak perlu meminta maaf begitu. Lain kali hati-hati saja bila berburu. Patuhi aturan yang dibuat pemerintah,” sahut bapak-bapak yang berusia paling tua.
Aku hanya tersenyum masam dan segera memperbaiki pintu yang rusak serta melepas garis polisi di depan pintu.
__ADS_1
Aku menghubungi Farhan, memintanya untuk membantuku mencari emas batangan dan aku juga berencana menyimpan uang dalam jumlah besar di Bank swasta untuk mengelabuhi pantauan pemerintah.
Situasi di seluruh Dunia saat ini sangat mencekam bagi para Pemburu, karena mau tak mau mereka akan dikirim ke Antartika dan Aku yakin harta yang dimiliki para Pemburu akan diambil alih oleh negara masing-masing.