
Aku tidak bisa mengeluarkan Layar Virtualku, sepertinya PBB telah telah memasang penangkal anti Layar Virtual agar para Pemburu tidak melakukan pemberontakan.
Beberapa Prajurit TNI membawa rombongan Pemburu dari Indonesia menuju Pintu Dunia Bawah Antartika. Jantungku langsung deg-degan melihat Pintu Dunia Bawah yang bersinar putih menyilaukan itu.
“Setelah memasuki Pintu Dunia Bawah, kalian akan bisa lagi menggunakan Sihir kalian dan nasib Bumi bergantung pada kalian, semoga saja kalian bisa membunuh Bos Monster—maka Dunia akan kembali normal. Selamat berjuang! Semangat!” teriak Prajurit TNI itu dan kami hanya menjawab yel-yelnya itu dengan acuh tak acuh, karena bayang-bayang kematian lebih menakutkan bagi para Pemburu.
Satu persatu para Pemburu melangkahkan kaki ke Pintu Dunia Bawah, begitu juga denganku, tiba-tiba Aku sudah berada di hamparan padang rumput yang sangat luas dan ada satu Kastil kuno kira-kira satu kilometer dari titik kemunculan Pemburu.
Aku yakin di Kastil itulah Bos Monster berada, tetapi kenapa ia tidak menyerang kami? Apa menunggu semua Pemburu berkumpul lebih dulu agar kami bisa dilenyapkan sekaligus? Cih, apakah inilah akhir kehidupanku.
“Zul, apa yang harus kita lakukan? Tampak semua Pemburu kebingungan?” Farhan bertanya padaku.
“Untuk saat ini kita tunggu instruksi dari Pemburu Level 100 yang ditunjuk oleh PBB sebagai pimpinan misi ini, kita harus bekerjasama dengan mereka agar bisa mengalahkan Bos Monster.” Aku berpikir hanya itulah yang bisa kami lakukan saat ini.
“Bang Zul!” sapa seseorang dari belakangku, suara ini mirip dengan suara Nabila dari Guild Javanese Soldier.
“Hai, Nabila! Kita bertemu di sini hehehe ... sayang sekali kita tak bisa karaokean bareng. Padahal kita sudah membuat janji saat kembali dari Raja Ampat kemarin,” sahutku menyapanya juga.
“Tak apa, mau bagaimana lagi tiba-tiba keadaan berubah seperti ini,” sahut Nabila dengan senyum manisnya. “Oh, ya, setiap Pemburu akan dikelompokkan berdasarkan Level mereka, jadi Pemburu Level rendah akan menjadi tim support dan Level tinggi akan berada di barisan depan!” katanya lagi.
__ADS_1
“Oh, baguslah Zul, kita akan berada dibelakang hahahaha ...." Farhan tertawa terkekeh-kekeh, karena senang tidak berada di barisan depan melawan monster Level 100.
Aku tersenyum masam, “tetapi Aku harus berada di barisan depan Han, karena aku ditugaskan khusus untuk mengalahkan Bos Monster oleh Divisi Supranatural Mabes Polri secara rahasia dan akan diawasi oleh beberapa Pemburu top dunia juga, karena ini sudah kesepakatan bersama pemerintah Indonesia dengan PBB—Kehebatan Dukun Zul, juga telah sampai ke telinga mereka!”
“Apaaaaaa?” Farhan terkejut, karena ia mengikutiku terus—berharap Aku menggunakan Item Teleportasi nanti apabila terjadi keadaan yang memaksa para Pemburu untuk keluar dari Pintu Dunia Bawah Antartika ini. “Cih, sepertinya kita memang ditakdirkan memiliki nasib berbeda, Zul. Ah, semoga saja kau bisa mengalahkan Bos Monster sialan itu agar aku bisa bertani saat Dunia kembali normal.”
Wajah Farhan tampak seperti mau menangis saja dan Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Aku sudah membeli dua Item Santet, karena Divisi Supranatural memberikan aku 100.000 Koin Emas tambahan, karena aku mengatakan tidak memiliki Koin Emas. Sepertinya Sarah tidak menceritakan pada mereka kalau dia sudah memberikan aku 100.000 Koin Emas juga beberapa hari yang lalu.
Semua Pemburu akan menjadi satu tim di sini, sehingga semua Koin Emas yang dihasilkan dari membunuh Monster akan dibagi rata. Kelihatan sangat adil, tetapi bagiku yang mengandalkan tumbal Koin Emas untuk membeli Skill—itu sangat tak adil, kalau bisa semua Koin Emas mengalir padaku agar Aku bisa menggunakan Item Santet berkali-kali, tetapi menurut Penyidik Polisi dari Divisi Supranatural—itu tidak mungkin dilakukan, karena tak ada bisa mengontrol Sistem Layar Virtual—walaupun mereka bisa menonaktifkan Sistem aneh itu.
Dua belas jam kemudian, belum ada tanda-tanda pergerakan monster dari Kastil itu dan tak ada juga Pemburu yang datang dari portal Pintu Dunia Bawah Antartika, seperti seluruh Pemburu dari seluruh dunia telah dikumpulkan di sini.
Aku maju ke depan dan memilih bergabung dengan Pemburu Level 100 dari Indonesia agar bisa bekerjasama dengan mudah, karena aku tak bisa bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya. Tak mungkin aku membuka Google terjemahan dulu saat berkomunikasi dengan mereka, yang ada monsternya keburu membacok kami.
“Kau Dukun Zul, kan?” sapa Pemburu Level 100 yang berada disebelahku.
“Ya, saya Dukun Zul, hahahaha ....” Aku menjabat tangannya.
“Saya Komarudin dari Guild Siliwangi Fighter, senang bekerjasama dengan Anda!” sahutnya dengan senyum lebar, seperti tak ada rasa takut terpampang dari wajahnya.
__ADS_1
“Saya Markus dari Cendrawasih Papua Fighter, senang bertemu dengan kalian juga!” Markus menjabat tangan kami dan beberapa Pemburu dari Indonesia lainnya saling berkenalan, kami memutuskan membentuk grup kecil bersama agar lebih solid bekerjasama mengalahkan para monster nanti.
Aku membuka Layar Virtualku dan melihat berita apa yang sedang viral hari ini.
Aku terkejut, ternyata bukan berita tentang dikirimnya para Pemburu ke Pintu Dunia Bawah yang sedang viral saat ini. Namun, yang viral adalah Perburuan terhadap sisa-sisa Pemburu yang bersembunyi karena tidak mau ikut ke Pintu Dunia Bawah Antartika. Mereka langsung ditembak mati di tempat dan menurut artikel itu Divisi Supranatural telah memiliki alat pelacak yang mampu mendeteksi keberadaan para Pemburu.
Sungguh sial nasib mereka dan kebanyakan yang diburu itu adalah para anggota Mafia dan di Jakarta sendiri terjadi kontak senjata dengan para Mafia itu—karena mereka telah mengantisipasi kemungkinan hal ini akan terjadi, sehingga seluruh Mafia diseluruh Dunia bersatu melawan pemerintah, tetapi mereka tetap kalah jumlah.
Aku lagi-lagi terkejut saat melihat artikel yang memuat korban dari pihak Mafia Elang Timur, yang menampilkan tubuh kaku Reynaldi ditumpukkan truk yang membawa mayat para Mafia itu.
Apakah Saga akan bernasib sama dengan mereka juga, ya?
Aku langsung mencari artikel tentang Mafia Banteng88 dan ternyata mereka kabur ke Sumatera dan melakukan serangan gerilya dari hutan belantara pegunungan bukit barisan.
Saat aku ingin mencari artikel lain, tiba-tiba portal Pintu Dunia Bawah Antartika menghilang dan semua Pemburu terkejut melihatnya.
“Hei, apakah Bos Monster ini mampu mengontrol Pintu Dunia Bawah ini?” Markus tampak ketakutan.
“Sepertinya begitu, aku takut kita akan berakhir di sini,” sahut Komarudin memandangi Kastil dihadapan kami yang tiba-tiba gerbangnya terbuka dan aura mencekam keluar dari sana.
__ADS_1
Aku memicingkan mata dan menarik nafas dalam-dalam, mereka bukan lagi monster. Namun, seperti malaikat pencabut nyawa saja—kakiku terasa lemas melihatnya.