Sistem Dukun

Sistem Dukun
Menjual Item Pada Reynaldi


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian, kami sampai di perumahan Bumi Serpong Damai atau biasa dipanggil BSD. Reynaldi menyuruhku datang ke rumah pribadinya saja—tidak bertemu di Bar seperti sebelumnya, mungkin ia takut Aku menghancurkan tempat pertemuan kami lagi, hanya gara-gara aku tak suka dengan layanan di sana.


“Totttt!”


Aku mengklakson dari luar pagar rumah Reynaldi yang tampak minimalis, tetapi sangat mewah dan ada kolam renang serta kolam kecil berisi ikan koi. Hmm, seperti rumah impianku saja, bahkan Sarah tampak terpesona melihat kemegahan rumah Reynaldi ini, tetapi kami belum bisa membuat rumah seperti ini karena mempertimbangkan keselamatan kami juga.


Anak buah Reynaldi membuka pintu gerbang dan mempersilahkan kami masuk.


“Malam tuan Zul,” sapa anak buah Reynaldi—anggota Mafia Elang Timur itu.


“Ya, mana si gendut? Kenapa ia tak ada kabar akhir-akhir ini?” sapaku juga.


“Hehehe ... Bos sedang sibuk, mungkin tuan Zul sudah tahu, akhir-akhir ini suasana ibukota sedang bergejolak,” sahutnya lagi—yang maksudnya itu adalah gesekan antar Mafia yang menjurus pada saling serang dalam skala kecil. Kalau dibiarkan bisa menjadi tragedi Singapura jilid dua.


“Oo, pantaslah ia takut keluar. Takut ada yang menyentil keningnya hahahaha ....” Aku tertawa terkekeh-kekeh.


“Siapa yang berani menyentil gua. Biar gua rebus tu orang!” Tiba-tiba Reynaldi keluar dari rumahnya. “Hahaha ... mari masuk tuan Zul ... oh, Nona Sarah ternyata juga ikut. Selamat, ya atas pernikahan kalian. Serasa mimpi saja kalian menikah!” Reynaldi tertawa terkekeh-kekeh juga.


Aku dan Sarah keluar dari mobil, kemudian mengikutinya masuk kedalam rumahnya.


“Silahkan duduk!” seru Reynaldi. “Sudah makan? Biar gua pesan makanan dari restoran terdekat atau minum bir saja?” katanya lagi.


Aku geleng-geleng kepala dan berkata, “Cukup air mineral saja. Kami baru makan seafood di Pluit tadi.”


“Ooh, ya sudah.” Reynaldi mengambil air mineral dari kulkas di samping sofa tempat kami duduk. “Silahkan!” Dia menaruh dua botol kecil air mineral merk Kaqua.

__ADS_1


Aku langsung membuka tutup botolnya dan menenggak air mineral itu. Karena sudah merasa haus dari tadi, tetapi Aku malas berhenti sebentar ke mini market atau warung pinggir jalan.


“Aku ada barang bagus lagi nih, tetapi kalau bisa bayarannya adalah item Armor kualitas tinggi—yang bisa menahan Damage besar lah, masalah harga aku percaya saja padamu. Kan, kita partner bisnis, kurasa kamu tak akan mengecewakan aku.”


Reynaldi tersenyum dan matanya lebih sering melirik Sarah yang asyik main ponsel sejak memasuki rumahnya ini. Kalau dia tidak rekan bisnisku sudah kucongkel matanya.


“Gampang itu, besok anak buahku akan mengantar barangnya ke rusunawa tuan Zul,” sahut Reynaldi. “Kabarnya tuan Zul sudah berdamai dengan Saga, ya?” Dia malah kepo juga tentang masalahku dengan Saga.


Aku mengerutkan kening dan tak menyangka informasi itu sudah bocor keluar. Apakah Prabu Abimanyu sengaja membocorkannya? Namun, apa untungnya membocorkan informasi ini.


“Damai kan, lebih enak. Buat apa bermusuh-musuhan, bikin kita terjerat saja dan tidak bisa bebas—seperti kau contohnya!” Aku menunjuk wajahnya.


Reynaldi tersenyum masam.


“Ada informasi Pintu Dunia Bawah berlevel Maksimum nggak?” Aku ingin berburu lagi, karena tak enak telah menguras harta milik Sarah. Bukankah harta istri itu bukan milik suami, sementara harta suami otomatis harta istri juga.


“Kalau tinggal Bos Monster, percuma pergi ke sana. Mereka pasti telah mengirim tim Pemburu lebih kuat.” Aku tidak tertarik.


“Justru mereka tunda menutupnya. Karena Pintu Dunia Bawah itu berbentuk Dungeon yang memiliki banyak lorong, sehingga sangat disayangkan kalau cuma menghabiskan satu lorong saja, sedangkan lorong lain tidak diambil. Kan, itu adalah sumber uang bagu kita para Pemburu,” sahut Reynaldi dengan seringai tipis diwajahnya.


Aku tersenyum. “Kirim koordinat lokasinya, kami akan ke sana besok!”


Reynaldi tertawa terkekeh-kekeh dan langsung mengirim koordinat lokasinya. Dia juga menceritakan ada Pintu Dunia Bawah yang muncul di Meksiko, China, Korea, Tajikistan, Mali, Maroko, Jerman, Spanyol dan Antartika. Namun, aku tidak tertarik, karena aku lebih suka dengan Pintu Dunia Bawah yang ada di Thailand, mungkin ke negara yang jauh lain kali saja.


Aku melihat Sarah tampak bosan mendengar pembicaraan kami yang mulai tak jelas, apalagi Reynaldi sangat pandai membual—sehingga tak terasa sudah jam sebelas malam saja.

__ADS_1


“Baiklah dut, kami pulang dulu. Ini sudah larut malam, kami harus istirahat dulu.” Aku beranjak dari tempat duduk dan menyalaminya.


“Hahaha ... lain kali lebih seringlah mampir ke sini bersama Nona Sarah,” sahut Reynaldi tertawa terkekeh-kekeh.


Aku memicingkan mata, karena aku tahu maksudnya itu agar ia bisa menengok wajah Sarah lagi. Namun, maaf dut, aku sudah tahu kau mata keranjang. Cukup sekali ini saja Sarah berjumpa denganmu.


“Ayo, sayang kita pulang!” kataku pada Sarah yang asyik main ponsel.


“Ya,” sahut Sarah langsung berjalan, membuat Reynaldi tersenyum masam karena ia sudah mengulur tangannya untuk bersalaman dengan Sarah. Aku tersenyum lebar melihatnya.


***


Butuh tiga puluh menit dari Serpong, Tangerang menuju Bekasi dan Sarah sudah tidur di dalam mobil, mungkin ia kelelahan saat berburu tadi. Aku tidak mengantuk karena langsung tidur siang tadi—sepulang dari berburu.


Tiga puluh menit kemudian Aku menggendong Sarah menuju kamar kami. Aku tidak menggunakan item Teleportasi, karena merasa itu pemborosan. Bayangkan saja cuma ke kamar masa harus menghabiskan uang dua juta rupiah. Sudah seperti Sultan saja, bakar-bakaran duit sia-sia begitu.


“Tunggu Bang Zul!” seru Laura yang juga baru pulang kerja.


“Kok, pulang larut malam?” tanyaku keheranan.


“Gua baru pulang dari Jepang, habis liburan bersama rekan kantor hehehe ....” Laura tertawa terkekeh-kekeh.


“Wah, bagi dong, oleh-olehnya!” Aku tersenyum menatap Laura.


“Ah, nyesel gua bilang sama Bang Zul, kalau gua liburan ke Jepang.” Laura tampak cemberut. “Gua cuma bawa makanan khas Jepang saja,” katanya lagi mengeluarkan Ramen, Onigiri dan Dorayaki yang langsung kusimpan pada Layar Virtualku.

__ADS_1


Dia menatap Sarah yang kugendong dan Laura tersenyum genit. “Yah, tak bisa enak-enakan dong nanti hehehe ...."


Aku mengerutkan kening mendengarnya, ternyata gadis cantik ini malah berpikiran aneh-aneh dan aku hanya tersenyum saja. Kalau dijawab nanti ia malah bertanya aneh-aneh lagi.


__ADS_2