Sistem Dukun

Sistem Dukun
Rencana Gagal Mafia Banteng88


__ADS_3

Ada dua orang di dalam kamarku, tiga orang menunggu di luar pintu. Berarti aku harus membunuh yang berada di luar lebih dulu, setelah itu menangkap yang berada di dalam.


Aku menggunakan item Teleportasi dan muncul di hadapan ketiga Pemburu Level 80-an itu. Mereka terkejut dan belum sempat bereaksi aku sudah memenggal leher mereka, sehingga tak ada tetangga yang mendengarnya. Karena sudah larut malam, kebanyakan mereka sudah tidur atau sedang nonton TV di dalam kamar masing-masing.


Aku membuka pintu kamarku dan melempar item asap yang dapat membuat pingsan ke dalam.


Mereka panik, tiba-tiba asap tebal muncul dan berusaha berlari ke arah jendela. Namun, terlambat; mereka terlanjur menghirup asap itu.


Hahahaha ... macam-macam dengan Mbah Dukun! Ya, beginilah jadinya. Aku bergumam dan menyeret ketiga tubuh teman mereka yang kubunuh.


Cih, terpaksa aku membersihkan darah yang berceceran di lantai.


Pertama-tama aku menyiram air dan mengepelnya. Sungguh kerjaan yang merepotkan.


“Darah apa itu Bang?” tanya seorang wanita dengan pakaian kantoran. Mungkin ia sedang lembur sehingga pulang larut malam.


“Biasalah ... darah monster.” Aku menjawab tanpa menoleh kearahnya. “Dia datang kemari meminta daging monster dan aku asal pencet Layar Virtualku saja; eh, ternyata aku memberikan kepala monster padanya. Yah, beginilah jadinya,” kataku lagi.


Wanita itu tak pergi, mungkin ia tak percaya dengan ucapanku. Ah, sial! Bagaimana kalau ia menelpon polisi? Bisa ketahuan aku membunuh orang misterius itu.


Pikiranku melayang ke mana-mana? Dan sulit berpikiran jernih. Apa aku bunuh dia juga bila melapor pada Polisi.


Tidak-tidak! Itu perbuatan kriminal.


“Dukun Zul!”


“Lo Dukun Zul, kan?" teriak wanita itu seperti melihat idol idamannya saja. “Lihat wajah Lo mirip dengan gambar ini!” Ternyata ia mencari di google tentang Dukun Zul, makanya ia diam saja dari tadi.


“Ah, beres juga.” Aku sudah selesai membersihkan darah yang berceceran di lantai. Para tetangga yang mendengar teriakkan wanita itu—keluar dari kamar masing-masing. “Ya, aku memang Dukun Zul dan baru pindah dua hari yang lalu.” Aku menjawab pertanyaan wanita itu.


“Eh, baru tahu gua, ternyata punya tetangga Pemburu hebat,” kata Lelaki umur empat puluhan tahun yang menggendong anaknya umur empat tahun.


“Betulkah?” Istrinya ikutan keluar dari kamar mereka.


Suasana menjadi ramai dan terpaksa aku menyapa mereka satu persatu. Aku tetap tak bisa tenang, takut efek item asap itu berakhir dan membangunkan dua orang misterius di dalam kamarku.

__ADS_1


“Ternyata lo memang ganteng, Bang. Sungguh bodoh Pemburu Sarah meninggalkanmu dan memilih Saga yang sombong itu," kata Wanita kantoran tadi. “By the way ... Gue Laura dan tinggal persis disebelah lo hehehe ....” Dia tertawa.


“Panggil Aku Zul saja.” Aku kemudian mengeluarkan daging monster kelinci imut bakar dari Layar Virtualku dan memberikannya pada tetangga satu persatu.


”Terimakasih, Zul. Ini adalah monster Level tinggi, aku pernah sekali memakannya saat acara meeting di kantor,” sahut bapak-bapak yang menggendong anak itu.


Tetangga lain sangat terkejut mendengarnya, karena awalnya mereka mengira daging monster kelinci itu adalah monster Level rendah.


“Terimakasih, Zul. Daging semahal ini lu berikan pada kami. Lu sangat baik, dah!” Ibu-ibu yang lain ikutan berterimakasih.


Setelah menerima daging monster kelinci itu, mereka segera kembali ke kamar masing-masing, karena sudah tak sabar ingin memakan daging mahal itu.


Aku bernafas lega, mereka akhirnya membubarkan diri. Kecuali Laura yang masih senyum-senyum menatapku.


“Mbak Laura-nya tidak kembali masuk ke kamarnya? Entar suaminya marah lo.” Aku mengusirnya secara halus tetapi ia tetap senyum-senyum saja.


“Boleh photo bersama nggak?" Dia mengeluarkan ponselnya.


“Boleh, kok!” Ternyata gara-gara ini ia tak pergi juga. “Pakai gaya apa, nih?" candaku.


“Ah, itu namanya sudah punya kekasih. Nanti, kamu menyesal loh, meninggalkan yang lama. Karena yang baru itu belum tentu bisa membuat nyaman.” Aku menyela ucapannya.


“Kalau sama Bang Zul, gue iklhas dah, mau diapain saja,” katanya lagi cengengesan.


Aku geleng-geleng kepala mendengarnya dan mentransfer 20 Koin Emas untuknya. “Dah gunakan itu meningkatkan Skill-mu, karena kulihat kau sebenarnya adalah Pemburu juga, walaupun tak bergabung dengan Guild manapun.”


“Eh, terimakasih!” Laura sangat senang. “Gue dulu memang Pemburu, tetapi gue trauma memasuki Pintu Dunia Bawah dan memilih pekerja kantoran saja. Namun, aku juga kadang-kadang membeli Koin Emas juga dari Pemburu lain untuk menaikkan Level. Lumayanlah buat jaga-jaga diri.”


“Betul,” sahutku memasuki kamarku, tetapi Laura malah mengikutiku ingin masuk ke dalam. Namun, aku mendorong keningnya. “Sudah tidur sana, kapan-kapan aku akan mengajakmu berburu bersama. Namun, sekarang aku harus segera tidur, karena besok mau ke Raja Ampat.”


Laura cemberut tak kubolehkan memasuki kamarku, selain berantakan; di dalam ada mayat orang misterius—tentu aku harus merahasiakannya.


“Nggak usah berburu, gue tak suka. Mendingan malam Minggu besok kita karaokean bareng teman-teman gue. Gimana?” teriak Laura dari luar kamarku.


“Oke, kalau aku tak ada kerjaan!” sahutku dari dalam.

__ADS_1


“Cancel saja dulu. Sesekali refreshing lah,” katanya lagi.


“Ya," sahutku lagi agar ia segera pergi.


Hadeh, hampir saja ketahuan. Repot juga menjadi terkenal ini, ke mana-mana sudah kayak idol boyband saja.


Sudahlah, aku akan membangunkan dua orang misterius ini. Untung saja ruanganku ini sudah dipasang kedap suara. Sehingga sekeras apapun mereka berteriak nanti, tak akan ada yang mendengarnya.


Aku mengikat mereka dengan benang sutera laba-laba. Benang ini sangat kuat, dibutuhkan kekuatan Level 100 untuk melepasnya.


“Apa yang terjadi?” Salah satu pria bangun duluan dan matanya terbelalak saat melihat kepala temannya tergeletak di lantai. “Aaaaaa! Tolongggggg!” teriaknya ketakutan.


“Halo bos!” Aku menyapanya dengan seringai tipis. “Apakah kau mau bermain-main denganku?” ejekku menancapkan pisau dapur ke kakinya.


“Tidakkkkkkk! Ampun Dukun Zul! Tolong ampuni Aku!” Dia berteriak lagi dan menangis histeris. Siapapun di posisinya pasti akan melakukan itu dan berharap keajaiban menyelamatkannya.


“Simple saja! Cukup berikan aku nama!”


Dia tampak dilema, di satu sisi takut dibunuh dan di sisi lain juga takut pada orang yang menyuruhnya.


“Oh, sepertinya aku harus memotong kakimu dan kedua tanganmu, tetapi aku harus membangunkan temanmu dulu; supaya ia melihat penyiksaan yang kuberikan padamu.” Aku menyeringai menatapnya. “Dia pasti ketakutan dan memberikan aku sebuah nama. Cukup satu nama saja,” ancamku lagi.


Aku kemudian menendang kepala rekannya sehingga terbangun dari pingsannya. Dia tampak linglung sesaat dan berteriak keras saat melihat kepala rekannya tergeletak di lantai.


“Prawira Abimanyu!” seru laki-laki yang kusiksa pertama itu. “Dia adalah Bos mafia Banteng88 dan juga kepala Guild—”


“Cukup!” Aku menyela ucapannya. “Sudah kukatakan tadi, aku hanya butuh sebuah nama.” Aku kemudian tersenyum dan mengaktifkan Item Teleportasi; memindahkan mereka ke kantor pusat Guild Harimau Andalas.


Itu sengaja kulakukan sebagai simbol ancaman pada mereka, bahwa jangan main-main denganku dan yakin mereka tak akan menyerah begitu saja. Ini baru permulaan, di masa depan akan lebih banyak bahaya yang akan mengintaiku.


...*...


...*...


...*...

__ADS_1


...~Jangan lupa 👍 Bosque~...


__ADS_2