Sistem Dukun

Sistem Dukun
Menerobos Kastil


__ADS_3

Selama dua puluh empat jam terakhir aku sibuk memindahkan para Pemburu berlevel rendah dan yang terluka, tetapi tindakanku itu mendapat tentangan keras dari Pemburu berlevel tinggi, karena para monster menjadi lebih fokus pada mereka—sehingga makin terasa berat berhadapan dengan para monster itu.


Aku hanya cengar-cengir menghadapi ocehan mereka dan bergabung kembali bersama mereka melawan para monster. Kini hanya tersisa Pemburu Level 80 keatas saja dan Koin Emas yang masuk kubelikan item Santet untuk menghadapi monster Dark Elf yang sangat merepotkan dengan serangan anak panah mereka itu.


Kami tidak mundur walaupun terdesak, setiap Pemburu yang terbunuh dibarisan depan akan digantikan oleh Pemburu dibelakang.


Perburuan seperti ini seperti perang jaman kuno saja. Di mana kedua pasukan berhadapan langsung dan tak akan berhenti sampai ada pasukan yang habis.


Dengan Lightning Step yang dipadukan dengan Sihir Petir aku melewati para monster Manusia Raksasa dan melesat ke arah Kastil, tetapi Pemanah Dark Elf menyadari kedatanganku hingga mereka menembakkan anak panah yang mengunci targetnya, sehingga mau tak mau aku harus menangkis hujan anak panah yang mengarah padaku.


“Cuma ini? Kalian terlalu lemah!” ejekku—walaupun sebenarnya serangan anak panah itu begitu mengerikan. “Lihatlah ini!” Aku mengganti mode Sihir ke Sihir Besi dan membuat tubuhku dipenuhi lapisan besi.


Boommm!


Aku dihantam oleh ribuan anak panah yang dilapisi Sihir Angin. Namun, dengan tubuh besiku ini aku tetap selamat, tetapi masalahnya Aku malah berada dalam lubang sedalam ribuan meter—akibat serangan dari Dark Elf itu.


Aku beralih ke mode Sihir Angin dan terbang ke atas sembari menghindari anak panah yang terus mengejarku. Cih, sungguh menjengkelkan.


“Tornado!” Aku merapal mantra Sihir angin dan putaran angin mengelilingi tubuhku sehingga anak panah itu tak bisa menyentuhku, tetapi karena aku terbang—itu malah menarik perhatian Monster Naga yang langsung menyemburkan api yang sangat besar.


“Mati sana!”


Aku menggunakan item Santet pada Naga yang mendekatiku, sehingga Naga itu hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Aku menoleh kebelakang, ternyata aku telah membuat para monster lebih fokus menyerangku, sehingga para Pemburu lebih mudah mengalahkan para monster. Mereka telah merangsek maju hingga tiga ratus meter dari posisi awal kami tadi.


Saat kami merasa kemenangan akan semakin dekat, tiba-tiba dari Kastil muncul ribuan monster Hobgoblins, sehingga kami dibuat kerepotan lagi.


Ah, sial! Mereka tak ada habisnya.


Aku memutuskan menggunakan item Teleportasi yang langsung muncul dihadapan para Dark Elf, sehingga mereka tampak terkejut.


Aku beralih ke mode Sihir Kayu dan membuat tanaman merambat menyerang mereka. Dengan mudah aku mengalahkan para Dark Elf itu, tetapi sebagian besar lari ke dalam Kastil dan sebagian lagi terbang di udara, karena mereka pengguna Sihir Angin.


Aku tak peduli dengan Dark Elf yang ada diudara dan langsung bergegas masuk ke dalam Kastil aku terus menggunakan item Teleportasi melewati para monster yang menghadangku—agar bisa segera bertemu Bos Monster.


Aku memasuki ruangan tanpa ada monster didalamnya.


Tempat ini seperti istana dengan keramik berwarna bening seperti air, tetapi saat melangkah diatasnya—tak ada riak air.


Setelah berjalan menyusuri ruangan itu aku akhirnya melihat sebuah pintu berukuran raksasa, dengan ukiran motif aneh. Itu adalah simbol-simbol Illuminati, apakah ada konspirasi besar dibalik semua ini?


Aku mendorong pintu itu, tetapi tiba-tiba muncul Sarah dihadapanku.


Aku kebingungan, bukankah kata Komarudin, dia tidak ikut dalam perburuan di Pintu Dunia Bawah Antartika ini? Kenapa ia bisa ada dihadapanku.


“Sa-sarah!” Aku menyapanya, tetapi tiba-tiba ia berurai air mata mendekatiku.

__ADS_1


“Bang Zul, tolong aku!” Sarah makin menangis histeris.


“Eh, ada apa denganmu, Sarah?” Aku mendekatinya dan langsung memeluknya. “Jangan menangis lagi, aku akan menjagamu!”


Namun, tiba-tiba aku teringat dengan ucapan Komarudin, kenapa mereka tak membawa Sarah adalah agar aku lebih fokus mengahadapi musuh, bukan fokus menjaga Sarah agar tidak terluka.


“Sarah! Tetap berada dibelakangku, kita akan melewati pintu raksasa ini dan mengakhiri Perburuan ini!” Aku melangkah mendekati pintu raksasa itu dan mendorongnya. Namun, tiba-tiba aku merasa punggungku terasa sangat sakit.


Ini darah!


Aku melihat di lantai ada cairan berwarna merah dan menoleh ke belakang, Sarah menyeringai menatapku.


Ah, kenapa aku selalu dikhianati? Kenapa harus dia lagi? Apakah memang seperti ini alur yang mereka buat.


Pandanganku mulai buram dan Sarah tampak melangkahi tubuhku, ia mendorong pintu raksasa itu—kemudian sinar putih menyilaukan muncul dari sana, sehingga aku tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di situ.


Emak, ayah, Maemunah dan Iskandar ... maaf. Air mata membasahi pipiku, Aku sangat takut! Aku tak ingin mati di sini. Kenapa dingin sekali, ah ... Aku tak bisa melihat apapun lagi.


Sarah! Sarah!


Semoga kamu baik-baik saja, aku tidak tahu apakah kamu ilusi atau nyata. Aku mencintaimu, walaupun berakhir menyakitkan begini.


Apakah Surga dan Neraka itu ada? Di manakah aku akan berakhir. Kalau aku berakhir di surga, Aku hanya ingin melihat masa laluku dan melihat siapa yang mempermainkan takdir terkutuk ini.

__ADS_1


__ADS_2