
Aku menaiki mobil Lamborghini Aventador milik Alena Sitorus. Awalnya aku terkejut saat ia menghampiri mobil mewah itu. Dia kelihatan sangat elegan saat menyetirnya.
“Bang Zul, bertikai gara-gara Sarah, ya? selidik Alena penasaran.
“Entahlah, Aku dan Sarah sudah lama putus, tetapi Saga dan teman-temannya itu pernah memukuliku hingga babak belur dan setelah kejadian itu Aku sering memprovokasi mereka. Namun, entah kenapa Saga malah sering membawa nama Sarah ketika merasa terpojok,” sahutku dengan senyum masam.
Alena menatapku sesaat dan berkata, “Pantaslah Bang Zul, tadi merasa nyesek banget ‘kan mendengar ucapannya?”
Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya. Karena aku memang sakit hati saat mengetahui kalau mereka telah berhubungan badan, ya ... percuma saja Aku memberikan Sarah item Teleportasi, kalau ujung-ujungnya ia mau ditiduri oleh Saga juga.
“Kita makan di mana, nih?” tanya Alena membuyarkan lamunanku.
“Di mana saja dah, yang penting enak!”
“Beneran?” Alena tersenyum manis menatapku.
“Jangan senyum-senyum, nanti kita mencium tembok!” Aku mengingatkannya agar fokus menyetir mobilnya.
“Ya ... ya, kita makan di Restoran Bebek Bangkok saja yang ada di Mampang Prapatan,” kata Alena lagi.
Aku asyik bermain game online di handphone-ku dan tiba-tiba pesan singkat masuk atas nama Sarah.
Hmm ... mau apalagi dia ini?
Aku mengklik gambar kotak surat dilayar ponselku itu dan ternyata Sarah cuma mengatakan bahwa ia tak pernah tidur dengan Saga. Dia juga mengatakan kalau Saga cuma mau memanas-manasinya saja.
Aku tak tahu harus membalas apa? dan berpikir cukup lama.
Ah, balas saja, “Syukurlah!”
Setelah aku membalas pesannya itu, Sarah tak membalas lagi. Ya, mungkin ia sedang sibuk atau mereka sedang pergi berburu ke Pintu Dunia Bawah.
Alena berbelok memasuki Restoran Bebek Bangkok yang kelihatannya cukup ramai juga hari ini. Saat aku keluar dari mobil Alena, tiba-tiba beberapa remaja langsung mengenaliku.
__ADS_1
“Dukun Zul!" sapa mereka seperti melihat idol saja. Aku sih, senang-senang saja dijadikan idola. Sudah kayak artis rasanya hehehe ....
“Halo!” sapaku dengan senyum ramah. “Mau makan juga, ya?” Aku berbasa-basi. Namun, aku terkejut melihat dua lelaki berotot malah berteriak seperti gadis ABG. Bulu kudukku langsung berdiri, apa dia kesambet setan atau Laki berhati Barbie.
“Hahaha ... makanya jangan terlalu ramah jadi orang. Biasa-biasa saja,” ejek Alena sembari merangkul tanganku, sehingga para penggemarku itu memilih bubar, karena mengira aku sedang kencan dengan Alena.
“Hei, kamu memiliki latar belakang yang hebat, ya?" tanyaku penasaran, kenapa Jenderal Polisi tadi tampak segan saat Alena berbicara.
“Ah, biasa saja. Palingan gara-gara aku seorang Pengacara. Jadi, dia agak segan saja dengan profesiku," sahut Alena sambil memilih menu makanan. “Minum apa A—”
“Es teh manis saja!” Aku menyela ucapannya.
“Ya, sudah. Samain saja, kak!” seru Alena pada Pelayan restoran.
“Jadi aku harus bayar berapa, nih?” tanyaku. Karena Alena tidak mengungkit bayarannya sejak keluar dari Mabes Polri tadi. Apa Farhan sudah membayar duluan, kalau iya. Anak itu pasti akan menelponku, tetapi tak ada kabar lagi darinya sejak tadi.
“Bukannya ini sudah dibayar? Kan, Pemburu terkenal itu, kalau mengajak mereka kencan butuh ratusan juta lho,” sahut Alena masih dengan senyum manisnya.
“Emang ada yang begituan, ya? Kalau begitu aku bisa buka jasa kencan di channel YouTube Dukun Zul.” Aku bercanda.
Tak berselang lama setelah bercerita ngawur, karena aku memang tidak berpendidikan tinggi—makanan pesanan kami pun datang.
Tanpa basa-basi, aku langsung menyantapnya. Karena merasa lapar setelah berantem dengan Jimmi dan Hotaru, belum lagi Penyidik Polisi dari Divisi Supranatural itu malah menguras mentalku, sehingga agak turun sedikit—apalagi saat mengetahui bahwa mereka ternyata memiliki alat yang bisa menetralkan Sistem Dukun.
Ponselku berdering dan melihat nama yang tertera di layar adalah Farhan. Aku langsung melihat isi pesannya dan ternyata ia mendapatkan informasi Pintu Dunia Bawah yang baru terbuka di Sumatera.
“Sumateranya di mana, Han?” Aku mengirim pesan balasan.
“Belum tahu, tunggu informasi dari temanku itu dulu. Kabarnya sih, Pintu Dunia Bawah Level Maksimum,” balas Farhan.
Aku tersenyum, ini adalah kesempatan untuk cari pemasukan lagi. Aku baru kehilangan banyak uang hari ini. Lagi pula Viewer channel YouTubeku juga agak kecewa, karena cuma tayang sebentar saja saat di Raja Ampat tadi.
“Dapat job baru, ya?” tanya Alena.
__ADS_1
“Biasa ada Job kecil-kecilan. Apalah aku ini cuma Pemburu yang tidak diterima oleh Guild manapun.” Aku sedikit merendah.
“Huh! Sok lemah, padahal aslinya ada badaknya,” canda Alena.
“Eh, kita belum bertukar kontak, lho. Masih bolehkah aku meminta bantuanmu bila terjadi masalah denganku?”
“Dengan senang hati!” sahut Alena langsung memberikan nomor teleponnya.
“Karena kamu tidak meminta bayaran dariku. Maka, aku akan memberikan item spesial untukmu. Namun, jangan diberitahu pada siapapun, ya?” Aku mentransfer item Teleportasi padanya.
Alena terkejut saat melihat spesifikasi item yang kukirim. Dia tak menyangka item selangka itu akan kuberikan padanya.
“Apa ini tidak terlalu mahal Bang Zul?” Alena bertanya seolah enggan menerima item Teleportasi itu.
“Nggak mau? Ya, sudah kuambil lagi,” candaku, tetapi Alena langsung menutup Layar Virtual-nya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
“Kalau bisa mah, tambah lagi. Kalau aku pergi ke Paris, ‘kan bisa bolak-balik,” candanya juga.
Aku tertawa mendengarnya dan setelah makan siang itu, tiba-tiba kantor lawyer-nya menghubungi Alena; memintanya untuk segera kembali ke kantor karena ada pekerjaan mendesak untuknya.
Aku mengatakan pada Alena akan kembali dengan item Teleportasi saja dan dia pun tak memaksaku untuk ikut dengan mobilnya lagi.
Sesaat kemudian aku muncul di kamarku dan terkejut melihat ada wanita yang duduk ditepi ranjangku.
“Ke-kenapa kamu ada di sini? Apakah kamu dalam bahaya?” Aku bertanya, karena yang muncul itu adalah Sarah dalam kondisi menangis.
Sarah menyeka air matanya dan langsung memelukku. Tangisannya kemudian pecah, entah apa yang sedang dialaminya. Jangan-jangan yang diucapkan oleh Saga tadi adalah sebuah kenyataan.
Darahku langsung mendidih dan ingin segera mencarinya, kemudian mencincang tubuhnya.
Astaga, apa yang kupikirkan.
“Ada apa Sarah? Katakanlah! Bukannya aku sudah berjanji akan membantumu.” Aku membujuknya yang masih menangis tersedu-sedu, mungkin tetangga akan berpikiran aneh-aneh ini. Untung saja Laura belum pulang kerja, kalau saja ia ada di kamar sebelah. Mungkin ia akan menggedor-gedor pintu kamarku.
__ADS_1
Aku menarik nafas dalam-dalam dan membalas pelukannya, kemudian aku membelai rambutnya.
“Sarah ... jangan malu. Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Aku akan membalas perlakuan buruk yang mereka lakukan padamu," bisikku pelan. Namun, Sarah masih belum memberikan respon.