Sistem Dukun

Sistem Dukun
Pintu Dunia Bawah Gunung Kerinci, Jambi


__ADS_3

“Ayo persiapkan dirimu Sarah, kita akan segera menuju Gunung Kerinci dan bertemu teman lama hehehe ....” Aku tertawa terkekeh-kekeh.


“Oh, Saga di sanakah?” sahut Sarah—emosional mendengarnya.


“Iya, bahkan Guild Harimau Andalas sudah menemukan penggantimu dan mereka juga telah mengeluarkan Annisa dari tim Saga. Pengganti kalian adalah Pemburu Level 100 ... apakah mereka sedang panik, sehingga memasukkan Pemburu Level 100 dalam tim Saga, mengingat popularitas tim Saga sedang menurun." Aku heran dengan perubahan formasi tim Saga yang mendadak itu.


“Mungkin mengantisipasi Bang Zul menyerang Saga tiba-tiba—apalagi Prabu Abimanyu sudah melihat Aku menghilang dari pandangannya kemarin,” sahut Sarah dari kamar mandi.


Bisa juga, apalagi Aku berhasil membuat Jimmi dan Hotaru kewalahan, padahal Aku cuma Pemburu Level 40 saja. Sepertinya aku harus menggunakan sisa Koin Emasku untuk menaikkan Level agar fisikku lebih kuat.


Aku sekarang tidak khawatir kekurangan Koin Emas, karena Sarah adalah Pemburu wanita terkaya di Indonesia. Ya, tinggal pinjam saja Koin Emasnya hehehe ....


Aku masih memiliki 17 Item Teleportasi yang belum digunakan dan hanya perlu membeli Armor Naga Surgawi, Lightning Step dan untuk senjata atau Sihir yang akan digunakan—nanti saja aku beli, tergantung monster apa yang ada di Pintu Dunia Bawah Gunung Kerinci itu.


Sarah ngapain saja sih, di kamar mandi. Dia sudah 15 menit di sana dan belum keluar juga. Apakah semua wanita begini, ya?


Aku menggunakan item Teleportasi dan muncul di dalam kamar mandi—melihat apa yang dilakukannya.


“Kyeaaaaa!”


“Plokkkkk!”


Sarah langsung meninju wajahku begitu muncul di hadapannya dan darah segar keluar dari hidungku, rasanya tulang hidungku seperti patah saja. Itu sih, wajar. Sarah kan, Pemburu Level 90—otomatis fisiknya juga kuat, walaupun terlihat lemah dan tidak berotot seperti binaragawati.


Sarah menutup tubuhnya segera dengan handuk dan melotot menatapku.


“Bang Zul, ngapain ngintip Sarah mandi!”


“Hahaha ... Abang kira Sarah pingsan, karena tak keluar-keluar sejak tadi. Bahkan Abang sampai selesai main game battleroyal tiga kali, lho." Aku berkilah.


Sarah memicingkan matanya dan segera membuka pintu kamar mandi. “Dasar Bang Zul mesum!" Sarah mendorongku.


Hei, Aku ‘kan suaminya. Kenapa malah dibilang mesum? Hehehe ... apa ia lupa yang barusan kami lakukan tadi, ya?

__ADS_1


“Bang Zul!” Suara Laura terdengar dari luar pintu kamarku.


“Ya, tunggu!” Aku menyeka darah dari hidungku, kemudian membuka pintu kamar dan ia langsung nyelonong masuk.


“Mana nih, bini lo itu? Kata tetangga Bang Zul, nikah kemarin dan nggak ngundang gua lagi!" Laura tampak kecewa.


“Sedang mandi—hei, kenapa nyelonong masuk saja. Nanti istriku salam paham.”


Aku mengerutkan kening melihat tindakannya, dia malah sok akrab. Padahal kami baru bertemu dua hari yang lalu, itupun cuma berbicara sebentar saja dan setelah itu sibuk dengan kerjaan masing-masing.


“Hehehe ... gua pinisirin tahu! Katanya bini lo Pemburu Sarah, kan?” Laura tetap tak mau keluar hingga Sarah yang hanya mengenakan handuk saja keluar dari kamar mandi.


“Siapa Bang?” Sarah tampak kaget melihat ada wanita cantik disebelahku.


“Tetangga kita. Dia bekerja di perusahaan besar,” sahutku. Kemudian menatap Laura, “Sudah pergi sana! Nanti terlambat masuk kerja!” Aku mendorongnya keluar.


“Huh ... nggak asyik. Jangan lupa, ya, malam Minggu kita karaokean dan ajak mbak Sarah juga." Laura berlari kecil menuju lift.


Aku hanya melambaikan tangan dan berbalik badan.


Sarah memicingkan mata.


“Nggak salah nih, Bang? Bukannya Bang Zul, mendapatkan banyak job berburu akhir-akhir ini dan aku sering menonton Channel YouTube Abang, lho.”


“Kan, Abang baru ditangkap Polisi dan harus bayar denda. Abang juga perlu banyak item saat bertarung melawan Saga—”


“Iya ... iya akan kutransfer!” Sarah menyela ucapanku. “Ayo kita berangkat, nanti kita terlambat!” seru Sarah lagi.


Hadeh, padahal gara-gara nunggu dia mandi tadi, makanya telat berangkatnya. Aku pun mengaktifkan Item Teleportasi dan muncul di lereng Gunung Kerinci.


Sarah menggunakan alat pendeteksi Pintu Dunia melacak keberadaan Pintu Dunia Bawah itu dan ia mengkerut kan keningnya karena kami malah muncul di lereng yang salah.


“Bang Zul ini seperti Zorro dari anime one piece saja. Malah nyasar di leren gunung Kerinci, padahal Pintu Dunia Bawahnya ada di puncak!” Sarah tampak kesal.

__ADS_1


“Ya, sudah berikan aku 20 Koin Emas, biar Abang belikan item Teleportasi!” sahutku dengan senyum lebar—senang melihatnya cemberut.


“Cih, dasar!” Sarah mendesah dan mengirim 20 Koin Emas—padahal aku sebenarnya sudah memiliki Item Teleportasi, tetapi aku butuh banyak Koin Emas untuk jaga-jaga, mana tahu nanti kami tidak sanggup melawan tim Saga.


Aku sekarang Level 50 setelah menghabiskan banyak Koin Emas untuk upgrade Level Pemburu dan kedepannya butuh banyak Koin Emas lagi bila ingin naik Level secara instan.


Bagi Pemburu seperti Sarah, mereka akan menghindari upgrade Level secara instan, karena kemampuan Sihir naik Level secara alami dan naik Level secara instan itu akan berbeda. Sihir dengan naik Level secara alami akan jauh lebih besar.


“Bang Zul, ada sepuluh Pemburu yang berjaga di luar. Mereka pasti anggota Mafia Banteng88, karena biasanya mereka yang akan berjaga bila Pintu Dunia Bawah itu Guild Harimau Andalas yang menemukannya,” bisik Sarah—kami memantau dari balik pepohonan puncak gunung Kerinci itu.


“Mereka cuma Level 80, bagaimana kalau kita hajar saja!” bisikku.


“Baiklah, cepat selesaikan!” sahut Sarah.


“Eh, kamu tak ikut?" Aku kaget ia malah mendorongku keluar dari balik pepohonan, sehingga sepuluh anggota Mafia Banteng88 itu melihatku.


“Aku takut malah membunuh mereka dengan Sihir apiku!” sahut Sarah senyum-senyum.


Kalau aku yang maju sama saja. Mereka pasti mati juga. Ada-ada saja Sarah ini, melemparkan tangguh jawab padaku.


“Dukun Zul!”


“Ya, dia—Dukun Zul, cepat beritahu tuan Saga!”


Anggota Mafia Banteng88 itu panik dan langsung lari memasuki Pintu Dunia Bawah, sehingga aku terkejut. Berarti mereka telah mengantisipasi kedatangan kami.


Sarah menghampiriku, “Kenapa mereka malah kabur Bang Zul?"


“Entahlah, mereka sepertinya sudah tahu kita akan datang. Bersiap-siaplah mengahadapi serangan tiba-tiba, mereka pasti telah memasang jebakan di dalam sana.” Aku langsung membeli Skill Sihir tanah seharga 500 Koin Emas.


Tumbal Skill Sihir lebih mahal daripada tumbal Item Skill, karena Skill Sihir—Aku berarti sudah seperti Pemburu dengan Elemen Sihir yang kupilih itu. Aku dapat leluasa menggunakan berbagai kemampuan Elemen Sihir itu, sedangkan item Skill adalah peralatan Sihir.


Setelah membeli Skill Sihir Tanah yang tumbalnya setara dengan 50 juta rupiah itu, Aku langsung menggunakan mode Golem. Yaitu, tubuhku menjadi manusia batu.

__ADS_1


“Ayo masuk!” Aku melangkahkan kaki ke dalam Pintu Dunia Bawah yang diikuti Sarah dibelakangku dengan Panah Apinya—untuk saat ini ia sengaja menggunakan Skill jarak jauh, karena sudah ada aku sebagai Tanker (Pemain pertahanan terkuat dalam dunia game).


__ADS_2