Sistem Dukun

Sistem Dukun
Menghancurkan Mafia Celeng Hitam


__ADS_3

Masalah pertama sudah beres. Nah, apakah anak buah Reynaldi masih mengikutiku? Aku membuka sedikit tirai jendela dan melihat mobilnya masih parkir di halaman rusunawa.


Reynaldi benar-benar takut aku membunuh Vrey itu. Cih, sungguh bodoh, malam ini ia harus mati agar musuhku berkurang.


Aku membeli item Teleportasi dan muncul lagi di Bar Elja yang kini dijaga ketat oleh banyak anggota Mafia Celeng Hitam.


Hahaha ... bom milik anak buah Prabu Abimanyu ini berguna juga. Namun, aku harus membunuh Vrey terlebih dulu, karena bom seperti ini tak akan bisa membunuh Pemburu.


Aku melempar bom asap ke arah pengunjung Bar Elja yang langsung berhamburan keluar. Para anggota Mafia Celeng Hitam yang berjaga-jaga langsung datang menyerangku.


Kali ini aku membeli item Jarum beracun yang harga per itemnya butuh tumbal Sepuluh Koin Emas. Sungguh mahal, tetapi untuk menghilangkan jejak, aku perlu Skill yang belum pernah kugunakan, untuk saat ini lebih baik tak terlalu terang-terangan berhadapan dengan Mafia lain.


Dengan menggunakan item target Lock, semua anggota Mafia Celeng Hitam kena item Jarum beracunku itu. Beberapa mencoba berlari, tetapi Jarum beracun itu terus mengejarnya dan semua mati keracunan.


Aku menendang kamar kedap suara tempat Vrey berada. Dia tak tahu apa yang terjadi di luar sana, bahwa anak buahnya telah kuhabisi.


“Lu siapa?” Vrey terkejut, ia tak mengenakan pakaian apapun, karena sedang bercinta dengan gadis cantik yang sepertinya mangsanya dan aku merasa sedikit bersalah, datang sedikit terlambat.


Gadis itu hanya menatap kosong padaku dan tetap diam di atas sofa panjang yang dijadikan sebagai tempat mereka bercinta.


“Hei kampret! Kenapa lu diam saja!” Vrey menyeringai menatapku. “Lu takutkan?”


Senapan serbu yang telah dimodifikasi dengan Kristal monster Level tinggi muncul di tangan Vrey. Senjata itu bisa menembakkan peluru energi angin yang sangat mematikan, dapat membunuh Pemburu Level 90 yang memiliki pertahanan tingkat tinggi.


“Oh, kau kira aku takut dengan senjata mainan seperti itu?” Aku berpura-pura tetap tenang untuk mengulur waktu, karena aku sedang membeli item Teleportasi dan item memperkuat intuisi-ku agar bisa menebak arah tembakannya.


“Gua suka nyali lu itu. Namun, pergilah ke neraka!” katanya. Namun, tiba-tiba gadis yang terbaring di sofa itu mendorong tubuhnya hingga ia menembak ke atas dan terlihat atap ruangan itu bolong, sehingga bintang di langit terlihat.


Cih, ngeri sekali senapan itu. Untung saja tak mengenaiku.


“Terimalah ini!” Aku melempar Jarum beracun ke lehernya dan ia masih bisa bertahan—sistem kekebalan tubuhnya cukup kuat juga. “Tak cukup satu, bagaimana dengan lima!” Aku melempar lagi mengenai tubuhnya lagi.

__ADS_1


“Sial lu, Gua kenal dengan suara ini. Lu pasti Dukun Zul,” umpatnya menembak membabi-buta, sehingga ruangan itu bolong-bolong oleh tembakannya.


Untung saja aku menggunakan item Teleportasi dan muncul di belakangnya. Tak butuh lama, aku langsung menggorok lehernya hingga putus.


Vrey membelalakkan mata dan mulutnya menganga, berakhir sudah kiprah Bos Mafia Celeng Hitam itu.


Gadis yang dibekap olehnya itu diam seperti patung, ia sok melihat kepala Vrey menggelinding di lantai. Tak lama kemudian ia muntah dsn jatuh pingsan.


Ah, bikin repot saja ini. Ke mana aku harus membawanya?


Aku membuka melihat isi tasnya dan melihat KTP-nya. Namun, di situ tertulis ia berasal dari luar ibukota. Ya, sudah aku bawa ke rumah sakit terdekat saja.


Aku kemudian memasang bom rakitan milik anggota Mafia Banteng88 itu tepat di tubuh Vrey. Sehingga saat meledak nanti, tubuhnya akan hancur lebur dan sulit untuk diidentifikasi.


Aku langsung menggunakan item Teleportasi dan muncul di salah satu rumah sakit terbesar di kota Bekasi.


“Kak, tolong temanku ini jatuh pingsan!” Aku memasuki ruang UGD.


“Entahlah, aku datang ke rumahnya dan dia sudah tergeletak tanpa busana. Sepertinya dia diperkos@ seseorang.


“Apaaaa?” Perawat itu kaget. “Tega sekali orang itu! Kami akan langsung visum agar pelakunya segera ditangkap,” katanya lagi.


“Tak perlu, Kak. Aku sudah membunuh pelakunya dan sebentar lagi akan menjadi berita utama,” sahutku dan ia bingung menatapku.


“Kamu?” Dia terkejut dan berkata, “Dukun Zul, kan?” tanyanya lagi karena penasaran.


“Ya, betul, tetapi tolong jangan beritahu siapapun kalau aku pelakunya. Karena aku takut nanti, anak buah Mafia itu akan balas dendam.”


Perawat wanita itu mengangguk dan aku meletakkan gadis malang yang disekap Vrey itu diatas ranjang. Dokter wanita segera memeriksa kondisinya, aku sendiri menunggu di luar. Karena mengantuk, aku tertidur dan ketika terbangun ternyata sudah pagi.


Kenapa tak ada yang membangunkan aku tadi malam dan memberi tahu bagaimana kondisi gadis itu.

__ADS_1


Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuka pintu kamar gadis itu di rawat. “Permisi!” sapaku, tetapi ia diam saja menatap kosong ke arah jendela. Aku langsung masuk dan duduk di kursi yang ada didekatnya.


“Aku tak tahu harus berkata apa? Namun, kamu harus segera bangkit dan melupakan kejadian semalam, mungkin aku bisa membantumu sedikit dengan modal usaha!”


Dia tetap diam saja dan aku bingung bagaimana cara memotivasinya. Ya, ini sangat berat baginya, dia pasti korban perdagangan manusia, yang diiming-imingi pekerjaan dengan gaji tinggi. Namun, ternyata malah berakhir seperti ini.


“Bagaimana kalau kamu kuantar pulang kampung saja. Takutnya nanti ada anggota Mafia Celeng Hitam yang masih mengenalimu dan mereka pasti akan menyakitimu.


Ponselku tiba-tiba berdering dan aku melihat nama Reynaldi terpampang. Dia pasti curiga aku yang membunuh Vrey dan apa yang akan dilakukannya, ya?


“Halo dut, Ada apa menelponku?”


“Tuan Zul, kapan lu datang kemari. Semua tim sudah di Raja Ampat!”


Yah, aku lupa kalau pagi ini seharusnya berangkat ke Raja Ampat untuk ambil bagian dalam perburuan melawan monster Level 100.


“Maaf dut, aku ketiduran. Kalian sudah bertemu dengan monster Level 100 itu belum? Kalau belum aku akan segera ke sana!”


Aku mendengar suara umpatan dari tim-nya yang menggerutu karena aku sok istimewa hehehehe ....


“Tim gua baru bertemu monster Level 90, cepatlah datang. Gua akan akan belikan tiket pesawat berangkat jam sepuluh! Jangan sampai telat ke bandara!” Dia langsung menutup telponnya.


Aku terlalu banyak mencampuri urusan orang lain, sehingga lupa dengan janjiku dengannya dan eh ... di mana gadis itu?


“Aku pulang sendiri saja, Bang. Terimakasih telah menolongku," katanya.


Ternyata ia sudah berdiri sejak tadi dibelakangku. Sepertinya ia sudah berdamai dengan keadaan yang menimpanya.


“Kau kenal aku tidak hehehe ....” Aku mencoba menghiburnya.


“Dukun Zul,” jawabnya tanpa ekspresi, ia tak seperti wanita lain yang aku temui yang langsung heboh seperti melihat idol.

__ADS_1


“Sudah pegang tanganku. Kita akan pulang kampung ke tempatmu!” Aku memegang tangannya dan ia terkejut; ingin berkata sesuatu, tetapi kami sudah menghilang dari ruangan itu tanpa memberitahu Perawat atau bagian administrasi. Namun, aku berencana balik lagi setelah mengantarnya.


__ADS_2