
Seorang Penyidik Polisi dari Divisi Supranatural Mabes Polri memasuki ruang interogasi. Dengan seutas senyum ia langsung duduk berhadapan denganku.
“Zulkarnain!" sapanya. “Pemburu yang terdaftar di Asosiasi Pemburu cabang Lubuk Sikaping. Namun, tidak berafiliasi dengan Guild manapun, tetapi sangat populer karena memiliki channel YouTube Dukun Zul,” katanya membaca biodataku dari sebuah kertas yang entah dari mana ia dapatkan.
Aku diam saja, karena Pengacaraku belum datang, berarti aku tidak berkewajiban menjawab pertanyaannya.
“Kamu berada dalam daftar Pemburu paling diawasi oleh Divisi Supranatural, setelah kamu menunjukan sifat aslimu saat menghadiri acara yang diadakan oleh Gubernur Sulaiman di Hotel AnH tempo hari yang lalu.”
Dia menatapku penuh selidik, tetapi aku tak tahu apa sebenarnya yang ingin ia gali dariku?
“Membuat putri Konglomerat menjadi asisten pribadi mantan tunanganmu dan mencari gara-gara dengan beberapa Mafia, serta melakukan pemboman pada Bar Elja, milik Mafia Celeng Hitam.”
Aku terkejut, ternyata mereka mengawasiku sampai sedalam itu. Aku terlalu terlena oleh Sistem Dukun, sehingga tidak memikirkan ada pihak lain selain Mafia Banteng88 yang mengawasiku.
“Tak perlu tegang begitu!” seru Penyidik Polisi itu. “Kami memang sangat tak suka dengan sikap para Pemburu yang merasa mereka sangat kuat, sehingga tak perlu lagi mentaati peraturan perundang-undangan. Kalau kami mau, seluruh Pemburu bisa kami lenyap kan saat ini juga. Karena kami sudah mengetahui formula untuk melemahkan Sistem aneh itu! Cobalah!” Penyidik Polisi itu tersenyum, sehingga membuatku merinding.
Aku ingin mengeluarkan Layar Virtualku, tetapi tak muncul, sehingga aku sangat kaget, dan menatap Penyedik Polisi itu.
“Bagaimana bisa?” Aku akhirnya bertanya setelah diam saja sejak tadi.
“Hahaha ... tentu itu rahasia Negara.” Penyidik Polisi itu tertawa. “Namun, untuk saat ini kami tidak akan menggunakannya, karena kalian para Pemburu masih dibutuhkan untuk menutup sebanyak mungkin Pintu Dunia Bawah, tetapi masalahnya; seperti yang kukatakan tadi, kalian bertingkah seperti superhero yang dapat melakukan apa saja.”
“Kenapa Anda mengatakan ini pada saya?” Perasaanku tidak enak, pasti Penyidik Polisi ini ada maunya.
“Nah, gitu dong. Kami hanya ingin kalian jangan bertikai di luar sana. Kalau ingin membunuh sesama Pemburu, lakukan di dalam Pintu Dunia Bawah, karena itu diluar jangkauan hukum negara ini. Apak Anda paham?”
Aku mengangguk dan merasa detak jantungku berhenti berdetak.
__ADS_1
“Pengacaramu pasti akan mengeluarkanmu dari sini, tetapi ingatlah ... ini peringatan pertama dan terakhir dari kami,” kata Penyidik Polisi itu lagi dan tiba-tiba pintu terbuka.
“Salam Pak, Saya Alena Sitorus, penasehat hukum saudara Zul—”
Penyidik Polisi dari Divisi Supranatural itu langsung melambaikan tangan dan berkata, “Sudah! Bawa klien-mu ini dan jangan sampai ia kembali lagi ke sini!” Penyidik Polisi itu bersikap acuh tak acuh.
“Oh, terimakasih Pak, akan saya pastikan klien saya tidak mengulangi lagi perbuatannya itu!” sahut Alena Sitorus dengan sedikit senyum terpancar dari wajahnya. “Tuan Zul, mari ikuti saya untuk menandatangani beberapa formulir pembebasan Anda!” ajak Alena Sitorus.
Aku tersenyum pada penyidik Polisi itu, tetapi ia diam saja dan aku langsung keluar dari ruangan itu. Ah, aku tak ingin berjumpa lagi dengannya. Di masa depan, aku harus berhati-hati saat bertindak.
Aku memperhatikan wanita cantik yang sepertinya seusai denganku itu.
Memang Farhan, sungguh pandai sekali mencari Pengacara hebat, aku langsung bebas. Entah koneksi apa yang dimiliki oleh Alena Sitorus ini sehingga Penyidik Polisi itu langsung membiarkanku pergi.
Aku mengisi formulir pembebasanku dan membayar denda sebesar 500 juta rupiah, karena telah membuat kerusakan pada area parkir bandara Soekarno-Hatta.
Sungguh sial sekali hari ini, hasil berburuku terbuang sia-sia, hanya untuk membayar denda dan entah berapa yang akan diminta oleh Alena Sitorus untuk biaya sewanya.
Sarah tidak menatapku, dia hanya fokus ke depan saja. Terakhir kami berkomunikasi, dia mengatakan Saga bukanlah orang yang jahat, makanya Aku tak mau menghubunginya, begitu juga dengan dia yang mungkin segan menghubungiku lebih dulu.
“Perkenalkan sekali lagi, Aku Alena Sitorus. Panggil saja dengan Alena. Aku penggemar beratmu lho,” katanya tiba-tiba bersikap seperti remaja penggemar idol boyband saja. Sikapnya yang elegan tadi seketika menghilang setelah kasusku telah ditangani. “Kita harus mencari kafe, biar lebih enak ngobrolnya,” kata Alena Sitorus lagi.
“Baiklah Nona Alena!” Aku menyalaminya.
“Alena saja Bang Zul, aku masih lajang, lho. Kalau dipanggil Nona, rasanya agak gimana gitu,” kata Alena dengan senyum lebar.
“Ya ... ya, baiklah Alena. Senang bekerjasama denganmu.”
__ADS_1
Saga bertepuk tangan, timnya tiba-tiba muncul dibelakang kami bersama Hotaru dan Jimmi juga, beserta laki-laki dengan setelan jas hitam—yang sepertinya adalah Pengacara mereka.
Aku menyeringai dan berkata, “Ini barulah permulaan ... tadi itu anggap saja untuk mengukur kekuatan Sihir lemah dari timmu itu hehehe ....”
“Kau!” Saga sangat marah, tetapi Lelaki berjas hitam itu menahannya agar tidak menyerangku. Anggota tim Saga lainnya juga sudah bersiap untuk melawanku, kecuali Sarah yang diam saja dibarisan paling belakang.
“Apa? Hah!” Aku berkacak pinggang. “Giliranmu akan tiba juga, jadi ... mintalah Prabu Abimanyu mengirim Assassin yang lebih profesional untuk membunuhku, jangan sampai lehernya terlepas saat dia masih tidur!” Aku mengejek Saga yang wajahnya langsung berubah masam menatapku.
“Ada apa ini?”
Tiba-tiba Polisi berpangkat tinggi muncul di hadapan kami, sehingga aku harus menyudahi memprovokasi Saga dan rekan-rekannya.
“Paman Alex,” sapa Saga. “Ini ada bocah yang tidak mengenal luasnya dunia ini!” Dengan seringai tipis, Saga menatapku.
“Oo, siapakah bocah itu?” Polisi itu mengarahkan pandangannya padaku.
“Ini hanyalah kesalahpahaman. Aku Alena Sitorus memohon maaf bila klien-ku menyinggung Jenderal!” sela Alena.
Polisi itu tersenyum menatap Alena dan dia seperti mengenalinya, sehingga ia menepuk pundak Saga—seperti berbisik sesuatu padanya.
Polisi berpangkat tinggi itu segera meninggalkan kami dan Aku juga berbisik pada Alena untuk segera pergi. Aku takut terlalu asyik memanas-manasi Saga dan teman-temannya, kami malah bertarung dalam gedung Mabes Polri itu. Kemudian aku benar-benar dijebloskan ke penjara dan Sistem Dukun dihilangkan oleh Divisi Supranatural.
“Hei, urusan kita belum selesai!” bentak Saga saat kami melangkah pergi.
Aku mengacungkan jari tengah dengan seringai tipis, sehingga wajah Saga makin tak enak dilihat. Pengacaranya tampak berusaha menenangkannya, hanya Sarah yang diam saja, entah apa yang dipikirkannya saat ini.
“Hei, tunggu sebentar!” teriaknya lagi dan aku langsung menoleh kebelakang. “Aku dan Sarah telah tidur bersama hehehe ... apa kau tahu apa yang kami lakukan? kami—”
__ADS_1
“Aku tak tertarik!” Aku menyela ucapannya. “Buat apa kau mengumbar urusan pribadimu padaku? Dasar tak tahu malu, nikmati saja hubungan kalian sepuasnya, sebelum aku menghajarmu di lain waktu.”
“Hahahaha ... Aku juga tak sabar berjumpa lagi denganmu. Aku akan mengulang lagi kejadian di Rimba Panti, di mana aku akan mematahkan kakimu lagi.” Saga tertawa terkekeh-kekeh, tetapi aku tak peduli dan menuju area parkir.