Sistem Dukun

Sistem Dukun
Kembali ke Bekasi


__ADS_3

Goblin wanita yang kabur ke bagian terdalam Dungeon ternyata mengadukan kejadian yang terjadi di sarang mereka, sehingga Goblin Paladins yang merupakan Goblin yang lebih cerdas dan kuat serta memakai jirah besi muncul bersama ratusan Hobgoblins. Mereka terdiri dari berbagai Level dan yang paling tinggi adalah Goblin Paladins Level 90.


Aku terkejut melihat kedatangan mereka dan tiba-tiba dibelakang kami juga muncul Pemburu dari Guild Harimau Andalas. Mereka adalah tim yang terdiri dari tujuh Pemburu Level 90.


“Bagaimana ini Bang Zul? Apakah kita bekerjasama dengan mereka atau bertarung sendiri-sendiri?" tanya Sarah.


“Kita pulang saja, lebih baik kita tidak berurusan dengan Guild Harimau Andalas,” sahutku langsung menghilang mode Sihir Tanah.


Para Pemburu dari Guild Harimau Andalas tampak terkejut melihat begitu banyak Goblin yang berkumpul di sarang ini.


“Dukun Zul!” sapa salah satu Pemburu. “Bagaimana kalau kita bekerjasama saja dan hasil buruan dibagi dua.” Dia menawarkan transaksi yang justru lebih menguntungkan untuk kami, padahal anggota mereka lebih banyak.


“Maaf bro, Aku sudah kelelahan dan kuserahkan saja pada kalian sarang Goblin ini hehehe ....” Aku tertawa terkekeh-kekeh, karena mereka pasti kewalahan walaupun lebih unggul dalam Level. Namun, itu sangat menguras tenaga menghadapi monster sebanyak ini.


Aku memegang pinggang Sarah dan melambaikan tangan pada mereka yang tampak kecewa dengan jawabanku.


“Selamat berjuang, bro. Habisi monster-monster itu! Hahahaha ....” Aku kembali tertawa terkekeh-kekeh dan mengaktifkan Item Teleportasi.


Aku dan Sarah langsung muncul di rusunawa, lebih tepatnya kamar kecil yang kutempati. Aku langsung membaringkan tubuhku ke kasur empuk, karena merasa kelelahan—itu memang wajar mengingat aku baru Level 55, naik lima Level selama berburu di Pintu Dunia Bawah Gunung Kerinci.


“Hei Bang Zul, jangan langsung tidur. Mandi dulu sana!" Sarah menarikku dari tempat tidur. “Ih, jorok!” keluhnya lagi.


Ya, aku terpaksa menuruti ucapannya, padahal selama ini aku selalu langsung rebahan saat pulang berburu dan aku memperhatikan Sarah yang membuka armor—baju pelindungnya. Aku jadi kepikiran, kenapa aku tak membeli item seperti itu saja di toko—jadi, Aku tak perlu lagi sering-sering membeli item sekali pakai dari Sistem Dukun dan harganya mahal lagi.

__ADS_1


“Kenapa Bang Zul, melihatku begitu. Pengen, ya?” Sarah tampak risih saat membuka armor-nya. “Untuk sekarang jangan dulu deh, aku juga mau istirahat!” seru Sarah—sepertinya ia salah sangka dengan gumamanku.


Aku tersenyum genit menatapnya agar ia tambah risih. Dan ... benar saja, ia langsung kabur ke kamar mandi lebih dulu.


“Hei, kamu salah sangka, lho!" aku berkata dari balik pintu kamar mandi. “Aku cuma penasaran, berapa harga armor-mu itu, karena aku ingin membelinya juga.”


“Sangat mahal, harganya seratus juta. Namun, kualitasnya sangat bagus, dapat meredam damage monster Level 90 kebawah—menyesuaikan Level Pemburu yang memakinya. Kalau Abang yang pakai, ya—cuma akan meredam Damage monster Level 55 saja,” sahut Sarah.


Hmm ... itu sangat bagus, karena bisa dipakai berkali-kali, asalkan tidak hancur saat berhadapan melawan monster Level tinggi saja.


Aku jadi tertarik membelinya. Namun, untuk saat ini aku istirahat dululah.


Aku rebahan di sofa, tidak di kasur lagi. Takut Sarah malah berteriak-teriak lagi nanti.


***


“Betulkah? Pantasan kok, laper banget—ternyata Abang sudah melewatkan makan siang!" gerutuku beranjak ke kamar mandi dan cacing dalam perutku sudah berdendang ria meminta asupan gizi.


Aku menoleh ke belakang dan terkejut melihat penampilan Sarah, seperti mau pergi ke acara talk show stasiun televisi saja.


Dulu ia memang sering hadir di acara televisi dan aku salah satu yang selalu menontonnya saat berbincang-bincang dengan artis Melinda yang sangat cantik itu. Kalau dibandingkan dengan Sarah, ya Sarah pasti kalah jauh hehehe .... Namun, Sarah lebih populer karena ia Pemburu wanita terkaya di Indonesia dan tercantik dikalangan Pemburu, bukan selebriti.


Aku segera mandi sambil membuka Layar Virtualku melihat-lihat apakah ada berita hangat hari ini. Hmm, cuma berita aku dan Sarah yang telah membentuk tim bersama serta gosip pernikahan kami. Tak ada yang menarik.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, aku pun mengenakan celana hitam merk lokal dan kaos distro murah—kontras sekali dengan Sarah yang mengenakan gaun merk Louis Vuitton dan tas Gucci limited edition yang kalau ditotal mungkin kisaran satu milyar, sedangkan aku cuma 150 ribu rupiah. Celana seharga seratus ribu dan kaos lima puluh ribu.


Ibu-ibu tetangga langsung melongo saat melihat penampilan Sarah, kalau saja Sarah bukanlah Pemburu, mungkin ia akan menjadi bahan gunjingan karena lebih mementingkan mode, padahal tinggal di rusunawa sempit.


“Apa kita membeli Bugatti Veyron untukmu, karena Abang cuma memiliki mobil dobel kabin Nissan Navara saja.” Aku khawatir Sarah akan malu bila naik mobil yang sering dipakai di perkebunan itu.


“Buat apa itu? Sarah tak biasa menyetir sendirian. Lagi pula Bang Zul, sudah mempunyai mobil—pakai itu saja, Sarah nyaman kok, Bang Zul tak perlu khawatir,” sahutnya dengan senyum yang menyejukkan hatiku.


***


Mobil Nissan Navara yang dikemudikan melaju ke arah Pluit Jakarta Utara, kami akan makan malam di restoran seafood favorit Sarah.


Suara ponsel Sarah berdering dan ternyata Farhan menelponnya. Dia bertanya apakah kami sudah pulang dari Gunung Kerinci dan ia juga menanyakan kami di mana sekarang. Aku berbisik pada Sarah untuk mengatakan kita makan malam di Cibubur saja. Namun, aku langsung terkejut saat melihat Farhan sudah cengar-cengir menunggu kami di restoran seafood favorit Sarah di kawasan Pluit Jakarta Utara tersebut.


“Kenapa tahu kami akan ke sini?” Aku penasaran, apakah dia telah mengikuti kami sejak dari Bekasi.


“Lo pikir gua bodoh, ya? Gua itu followers Instragram teman SMA gua, Sarah,” sahut Farhan cengengesan. “Jangan-jangan Lo nggak berteman dengannya di Instagram, kan? Hayoo ... padahal Sarah membuat status ‘Makan malam dengan suami tercinta di restoran seafood favoritku’ hehehe ... dasar suami tak guna. Kenapa Lo mau sama dia sih, mendingan sama gua saja, kan Lo sudah tahu gua suka sama Lo sejak SMP.” Farhan menggoda Sarah.


“Cih, bisa tidak pakai bahasa kampung saja. Lo-lo .. gue, sok keren Lu. Sudah jelas Bang Zul, yang palin keren di hati Sarah, sederhana, kuat dan baik.” Sarah membuat Farhan tertegun sesaat.


“Teganya dirimu, Sarah! Sakitnya di sini tahu.” Farhan memegang dadanya, “Baiklah ayo kita masuk dan kalian yang membayarnya!” katanya lagi—sungguh urat malunya sudah putus.


Aku geleng-geleng kepala melihatnya dan Sarah langsung merangkul tanganku masuk ke dalam. Pelayan restoran langsung menyediakan meja VVIP, karena Sarah sudah memesan tempat lebih dulu sebelum kami berangkat.

__ADS_1


__ADS_2