
Setelah aku mengantar pulang wanita yang disekap oleh Vrey itu, Aku kembali ke rumah sakit membayar tagihannya dan kembali ke rumah. Karena Reynaldi telah membeli tiket pesawat, terpaksa aku harus naik pesawat ke Raja Ampat. Padahal seharusnya bisa menggunakan item Teleportasi.
“Pagi Bang Zul, mau ke mana, nih?” sapa Laura yang akan berangkat ke tempat kerjanya.
“Mau ke bandara, ada job di Raja Ampat!” sahutku berjalan bersamanya menuju parkiran mobil.
“Wah Raja Ampat! Enak banget, bisa sekalian jalan-jalan hehehe ....” Laura tertawa terkekeh-kekeh.
“Yah, itulah kelebihan jadi Pemburu, tetapi taruhannya nyawa juga,” sahutku dengan senyum hangat.
“Kan, tiap pekerjaan ada plus minusnya juga!” Laura menyemangatiku.
Kami berpisah di parkiran mobil, karena ia juga memiliki mobil sendiri. Ya, wajarlah, dia bekerja di perusahaan besar, otomatis gajinya juga “wah” sekali.
Dari kota Bekasi aku meluncur menuju Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng. Sepanjang perjalanan tak ada yang mengikutiku seperti tadi malam. Berita hari ini dari suara radio adalah tentang pemboman Bar Elja tadi malam, pihak kepolisian menduga itu ulah teror¡s lokal dan masih menyelidiki motif pelaku.
***
Saat tengah hari, aku akhirnya tiba di Raja Ampat via jalur laut setelah pesawat mendarat di Kota Sorong.
Anak buah Vrey mengawalku menuju Pintu Dunia Bawah terletak di telaga bintang. Dia mengatakan kalau dalam perburuan ini diikuti oleh tim Pemburu dari Guild Javanese Soldier, yang merupakan salah satu Guild besar di Indonesia.
“Apa bosmu sudah mengetahui apa bos monster Pintu Dunia Bawah ini?” Aku bertanya pada Siswanto anak buahnya Reynaldi.
“Tim yang bos bawa baru bertemu monster Level 98, seharusnya mereka saat ini sudah melawan monster Level 99,” sahut Siswanto. “Tapi tuan Zul, kali ini dunia di sana sangat berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya yang berbentuk dungeon. Namun, kali ini kita akan memasuki Kastil abad pertengahan Eropa dan monsternya juga Kesatria berbaju Jirah, cukup sulit juga mengatasi mereka, karena sihir api, angin, dan air tidak berguna saat berhadapan dengan mereka. Terpaksa kami menggunakan lebih banyak senjata modifikasi sihir saat untuk mengalahkannya.” Siswanto memberikan penjelasan.
Aku merasa tertantang dan tak sabar melawan monster Kesatria berbaju Jirah itu. Kali ini aku membeli item baju Jirah seperti Kesatria abad pertengahan dengan bersenjatakan Pedang dan perisai.
__ADS_1
Perlengkapan itu belum cukup, karena baju itu pasti berat, maka aku membeli item Lightning Step agar lebih lincah dan dikombinasi dengan bela diri Silat yang kumiliki, tentu saja kepercayaan diriku akan meningkat memenangkan pertarungan melawan monster itu.
“Selamat datang tuan Zul,” sapa salah satu anggota Mafia Elang Timur yang berjaga diluar Pintu Dunia Bawah.
“Ya, bagaimana perkembangan di dalam?” sapaku juga.
“Kami tak tahu tuan Zul, karena nggak ada informasi dari dalam,” sahutnya.
“Baiklah Aku akan masuk!”
“Ya, semoga kami mendapatkan tontonan menarik lagi, tuan Zul!” Dia tertawa, menantikan live streaming di channel YouTubeku.
Saat memasuki Pintu Dunia Bawah itu aku muncul di Altar alun-alun halaman luas di depan kastil yang memang sangat mirip dengan kastil abad pertengahan Eropa.
Aku mengikuti anggota Mafia Elang Timur yang telah menungguku masuk ke dalam Kastil yang sangat besar itu. Kami langsung menuju ruangan dekat singgasana raja.
“Mana mungkin aku ingkar janji, sesuai kesepakatan—aku akan terlibat dalam melawan bos monster!” Aku tersenyum lebar, tetapi tim Pemburu Guild Javanese Soldier tampak tak suka dengan kehadiranku.
Tak ada yang spesial dengan mereka, karena mereka hanya brand ambassador untuk Guild mereka saja, sama seperti tim Saga. Pemburu yang sebenarnya selalu menjadi bayangan yang tidak diketahui oleh pihak luar siapa nama mereka.
Hmm ... ada Lima Pemburu Level 100, mungkin Pemburu yang sebenarnya—membackup tim Pemburu Guild Javanese Soldier itu.
Aku mendekati Reynaldi dan berbisik, “Apakah Kelima Pemburu itu anggota Guild Javanese Soldier?”
Reynaldi tersenyum dan mengangguk. Aku menjadi heran kenapa ia tetap mengajakku padahal ia berhasil menyewa Pemburu kuat seperti mereka.
“Hei, nanti tuan Zul sorot aku juga saat live streaming dan juga tim Pemburu Guild Javanese Soldier itu, tetapi jangan dengan Pemburu bayangan mereka. Tuan Zul pasti sudah tahu alasannya, kan?” Reynaldi tertawa terkekeh-kekeh.
__ADS_1
Ternyata mereka ingin mempromosikan tim Pemburu Guild Javanese Soldier itu. Yah, memang setahun ini yang sedang booming adalah tim Saga dari Guild Harimau Andalas.
Persaingan dalam hal popularitas antar Guild memang sangat ketat. Apabila sebuah tim sudah memiliki brand yang menjanjikan, maka kontrak iklan akan mengalir deras dan tentunya itu bernilai miliaran rupiah, makanya tiap Guild berusaha membuat sebuah tim ambassador mereka.
“Mereka tampak sombong, apa nama tim mereka, dut?” Aku berbisik lagi pada Reynaldi.
“Karena belum kenal saja itu,” sahut Reynaldi. “Nama tim mereka adalah Tim Gatot Kaca!”
Pemburu Level 100 dari Guild Javanese Soldier itu berhasil menghancurkan pintu setinggi sepuluh meter yang menjadi jalan masuk ke ruangan Bos Monster.
Raja Kastil tampak duduk di singgasana raja dengan Pedang besar di tangannya. di depannya berjejer tujuh Kesatria yang mungkin adalah pengawal pribadinya. Mereka tampak kuat sekali, membuat bulu kudukku berdiri.
Aku menyalakan Drone Kamera.
“Halo gaeesssssss! Berjumpa lagi dengan Dukun Zul. Kali ini gua ada di Raja Ampat bersama tim Gatot Kaca dari Guild Javanese Soldier.”
“Wah, penampilanmu keren Dukun Zul!”
“Jadi Kesatria nih, ceritanya!”
“Apakah Dukun Zul menggunakan Sihir baru lagi.”
Baru mulai live streaming, para Viewerku sudah menyerbu kolom komentar dan penasaran dengan aksiku selanjutnya.
“Kami berada di ruangan Bos dan lawannya cukup kuat, dengan tujuh Kesatria dan Raja yang mengenakan atribut Kesatria abad pertengahan Eropa.” Aku mengarahkan Drone kamera kearah Bos Monster itu dan para viewer-ku ragu kami akan berhasil mengalahkan mereka, karena tak ada Level 100 dalam tim Gatot Kaca dan Aku sendiri cuma Level 35. Namun, inilah keunikan yang akan kami pertontonkan—sikap heroik dan kerjasama solid antara Tim Gatot Kaca dengan Dukun Zul, padahal dibalik layar ada Pemburu bayangan yang akan membantu kami.
“Semuanya jangan lengah dan saling bahu-membahu satu sama lain. Yakinlah, kita akan bisa mengalahkan Bos Monster ini dan membawa kedamaian untuk masyarakat Raja Ampat dan sekitarnya. Pantang mundur sampai titik darah penghabisan! Serang!” Draken8, ketua tim Gatot Kaca berorasi menyemangati timnya sebelum menyerang Bos Monster.
__ADS_1
Draken8 sebenarnya bukan nama asli mereka. Anggota tim Gatot Kaca menggunakan nama-nama gaul pada setiap anggota timnya agar terlihat keren dan kekinian, sehingga mereka berharap menaikkan popularitas mereka.