SISTEM VAMPIR ABADI

SISTEM VAMPIR ABADI
011 - PERTARUNGAN UNTUK PERTEMANAN


__ADS_3

Menjadi anak sekolah ternyata tidak semenyenangkan itu, entah siapa yang membuat sistem pendidikan seperti itu.


Andreas sampai bingung dengan hal itu, padahal pada jamannya dulu tak ada sekolah sihir yang mengajari anak-anak cara menggunakan sihir.


Semua anak iblis berlatih dengan sendirinya, kadang juga ada guru ataupun dengan orang tua mereka, tetapi saat ini berbeda dengan apa yang terjadi di sekolah itu.


Seolah semua sihir tertata rapi dalam sebuah buku mantra.


Hingga Andreas menyadari bahwa penyihir sekarang menggunakan alat perantara sihir dan juga mantra yang begitu panjang, yang memusingkan kepalanya.


Padahal sejak ia dipelajari tentang apa itu sihir, bagaimana cara menggunakannya, ia tak perlu rapalan mantra berlebihan yang panjangnya mengalahi jarak dunia ke langit.


Entah siapa yang sudah menciptakan mantra, lebih dari satu paragraf yang tak masuk akal.


Meskipun ini sebenarnya bukan pertama kalinya bagi Andreas mempelajari hal itu, tetapi tetap saja ia masih bingung dengan hal.


Dulu saat berlatih dengan keluarganya sebenarnya ia tak banyak menggunakan rapalan mantra.


Sang ayah mengatakan bahwa kunci utama dari sihir adalah konsentrasi, dan menggunakannya adalah caramu memfokuskan diri.


Andreas tahu hal itu, sejak ia sebelum menjadi seorang raja dulu juga sudah seperti itu.


Andreas kini berada di perpustakaan membaca beberapa buku. Ada banyak sekali buku yang sudah ia baca sejak masuk ke dalam asrama itu, karena ia sejak terlahir kembali memang gemar membaca, maka dari itu tak heran ia menyukai berada di sana.


Lagi pula setelah pelajaran selesai ia tak ingin melakukan apapun, ia tak suka bergaul dengan para anak bangsawan yang begitu menyebalkan itu.


Mereka masih begitu kecil, tetapi ucapan mereka tak terkontrol saja sekali. mungkin jika seandainya tak masalah, Andreas bisa saja mencubit kulit mereka hingga menjadi abu.


Namun, sepertinya saat ini ia tak harus memperdulikan apapun, anak-anak itu tak akan bertahan lama dengan hal itu.


Nantinya jika ia terus diam, mereka juga pasti akan diam saja, karena memang begitu biasanya.


Selain itu Andreas juga terpikir tentang teman masa kecilnya yakni Edmund dan Raquel.


Mereka ada dalam satu kelas yang sama, tetapi seolah tak saling kenal satu sama lain.


Mungkin karena sudah terlalu lama berpisah hingga akhirnya mereka merasa ada jarak yang membuat tak sama lagi.


Padahal dulu mereka begitu akrab, bahkan yang mengajari keduanya banyak sihir adalah Andreas.


Meskipun Andreas tak ambil pusing dengan hal itu, sebab ia  juga tak memperdulikannya.

__ADS_1


***


“Kau suka membaca buku?” tanya seorang perempuan yang berada di perpustakaan itu pada Andreas.


“Aku suka sekali membaca,” kata Andreas kemudian saat ia membalikkan tubuhnya.


Di depannya saat itu ada seorang perempuan dari kau vampir sepertinya, yang menatap Andreas dengan senyuman manis.


“Buku apa yang kau sukai untuk dibaca?” tanya perempuan dari kaum vampir itu.


“Sejarah dan buku mantra sihir,” jawab Andreas.


Perempuan itu mengangguk, kemudian ia berlalu dari sana, tetapi tak lama kemudian ia mengambil beberapa buku untuk diberikan pada Andreas.


“Mungkin buku ini cocok untukmu,” kata perempuan itu kemudian.


Andreas menerima buku, lalu mengucapkan, “terima kasih atas bukunya. Aku akan membacanya nanti. Kapan harus aku kembalikan?”


“Kapanpun jika kau mau. Lagi pula perpustakaan ini tak memberatkan siapapun yang ingin membacanya.”


Kini Andreas yang mengangguk mendengar apa yang dikatakan perempuan itu.


Perempuan itu lalu mengatakan namanya Luana, penjaga dari perpustakaan itu dan juga seorang penyihir tinggi (guru), yang mengajar sihir pembentukan.


“Sepertinya aku tak pernah bertemu dengan Anda,” kata Andreas kemudian.


“Aku memang mengajar di kelas tahun kedua, jadi wajar saja jika kau tak pernah bertemu denganmu. Dan siapa namamu tadi?”


“Andreas dari keluarga Marques Benedicto.” Andreas menjawab keluarganya.


“Jadi kau anak yang dikatakan pada murid-murid yang lainnya, bahwa kau seharusnya tak perlu masuk ke sini, karena kau bangsawan biasa,” papar Luana.


“Apa sebenarnya itu menjadi sebuah masalah?” tanya Andreas sedikit penasaran, karena sejak awal ia ingin menanyakan hal itu.


“Sebenarnya tidak sama sekali, tetapi bagi para bangsawan itu menjadi sebuah masalah. Padahal di dalam menara ini banyak sekali anak yang ada, dari mulai bangsawan tingkat Baron hingga Duke,” jawab Luana.


Jadi yang sebenarnya membuat masalah itu mereka sendiri, dan membuat sebuah penghalang antara para bangsawan kelas atas dengan bangsawn kelas rendah, seperti halnya dirinya.


Andreas memang sejak awal tak peduli dengan hal itu, karena ia sudah pernah menjadi bangsawan dengan gelar apapun bahkan sebelum kematiannya ia masih seorang raja yang bertahta di atas singgasana.


Jika dibandingkan dengan para anak bangsawan itu pasti jauh berbeda, mereka tak pantas mengatakan hal itu, karena mereka bukan apa-apa bagi Andreas yang mantan raja iblis yang agung.

__ADS_1


“Kau adalah bangsawan yang hebat, suka membaca dan pastinya pintar, jarang sekali ada bangsawan yang seperti itu, mereka terlalu menganggap membaca buku terlalu lama itu membuang waktu,” sambung Luana.


Sebenarnya dulu Andreas juga memikirkan hal itu saat menjadi seorang raja, tetapi setelah menjadi terlahir kembali menjadi anak kecil ia malah suka membaca dan menganggap bahwa dunia dalam buku itu menyenangkan.


Ia bisa membaca banyak hal dan mengerti banyak sekali sejarah, tanpa ia harus masuk ke dalam sejarah itu.


Ia juga mempelajari banyak sekali mantra yang membuat dirinya cukup hebat. Bahkan ia menggabungkan beberapa mantra yang ia pelajari dan menjadi mantra yang baru.


Sebab itulah kedua orang tuanya memintanya untuk pergi ke menara untuk belajar ilmu sihir, karena tak ada lagi yang harus mereka ajarkan pada Andreas.


Semenjak saat itu Andreas dan Luana sering sekali mengobrol saat mereka berdua berada di perpustakaan, kadang Andrea menanyakan buku apa yang bagus untuk dibaca di sana.


Lalu kemudian Luana memberikan rekomendasi buku yang bagus untuk sebuah bacaan, beberapa ada bacaan yang cukup ringan.


***


Pada bulan Andreas di sana, beberapa sihir dipelajari hingga akhirnya diadakanlah sebuah pertandingan antara dua kelompok yang ada di kelas itu.


Kelompok pertama adalah Edmund, Raquel dan teman-teman yang lain, sedangkan Andreas bersama dengan yang lainnya.


Mereka melakukan pertarungan di lapangan, yang sudah di beri sebuah pelindung. Kelompok siapa yang paling banyak bertahan hingga waktunya, maka dialah pemenangnya.


Pertarungan yang dilakukan kedua kelompok dari kelas pertama itu disaksikan semua murid baru yang ada. Hal tersebut karena dilakukan dengan pertarungan langsung.


Sebenarnya bukan hanya murid  baru saja yang menyaksikan hal itu, tetapi juga banyak kelas lainnya.


Kedua kelompok itu bertarung di lapangan di bawah salah satu gedung menara sihir.


Kedua kelompok itu sama-sama mengeluarkan skill sihir dasar seperti Fireball, Wind Arrow, Earth Wall dan Water Shot.


Awalnya Andreas memberi kesempatan Edmund dan Raquel untuk menyerang, lalu dan kelompoknya hanya menghindarinya saja.


Andreas  ingin melihat sihir bakat yang dimiliki Edmund dan Raquel, tetapi Edmund dan Raquel hanya mengeluarkan sihir secara serampangan.


Saat skill sudah mulai dikeluarkan, Andreas mengeluarkan skill yang sama, tetapi lebih kuat beberapa kali lipat.


Hal itu membuat Edmund dan Raquel terpojok, lalu akhirnya kelompok Edmund dan Raquel kalah telak dalam pertarungan tersebut.


Kemudian Semenjak kekalahan Edmund dan Raquel  pada pertarungan sebelumnya Edmund dan Raquel tak lagi mengacuhkan Andreas.


Mereka kemudian menjadi akrab, dan berteman seperti sebelumnya. Karena sebenarnya mereka menunggu waktu yang tepat untuk kembali bisa berbaur.

__ADS_1


Awalnya Edmund dan Raquel berpikir bahwa Andreas tak mau lagi berteman dengan mereka, tetapi ternyata hal itu salah. Andreas masih sama seperti dulu, Andreas tetap baik dan peduli pada teman-temannya.


Hingga akhirnya mereka pun akrab selama di menara itu.


__ADS_2