SISTEM VAMPIR ABADI

SISTEM VAMPIR ABADI
022 - SEBUAH KELUARGA


__ADS_3

Cerberus kembali pada Andreas, dengan membawa berita yang sebenarnya tidak ingin didengar Andreas.


Adalah Cerberus tidak menemukan sesuatu yang menurutnya cukup janggal.


Semua berjalan pada umumnya, bahkan menurutnya terlalu tenang.


Memang tidak seperti kerajaan iblis seribu tahun lalu saat dirinya pernah menghancurkan kota dengan mudahnya.


Dunia iblis menurutnya sudah sangat berbeda, bahkan tak terlihat iblis-iblis brutal yang mengerikan di jalan.


"Maafkan untuk itu, Tuan. Kami belum bisa mendapatkan informasi apapun." Begitu kata Cerberus.


Saat ini mereka masih dalam bentuk kucingnya.


"Tidak apa-apa, karena aku sendiri memang belum bisa menemukan informasi tentang itu," kata Andreas. "Kalian masih ingin dalam bentuk ini?"


"Biarkan kami seperti ini, Tuan, karena dalam bentuk seperti ini, akan lebih memudahkan kami untuk pergi ke mana pun."


Andreas mengangguk mengerti dengan apa yang mereka katakan itu.


Namun, untuk saat ini lebih baik Cerberus kembali dalam tubuhnya lagi hingga nanti diperlukan untuk mencari informasi.


Andreas langsung memasukkan Cerberus ke tubuhnya yang pasti dengan bantuan sistem.


Dengan masuknya Cerberus ke tubuhnya itu sebenarnya juga membuat Andreas memiliki skill baru, yang juga bernama Cerberus.


Andreas bisa berubah monster yang begitu besar.


Sebenarnya skill itu juga mengambil alih tubuh Cerberus itu sendiri.


Setelah berbicara dengan Cerberus, Andreas mulai merasa mengantuk, karena malam sudah begitu larut.


Meskipun memiliki tubuh yang kuat ia juga butuh istirahat, supaya ia bisa membentuk mananya lagi.


Hidupnya tidak seperti seribu tahun yang lalu.


Sekarang ia sudah menikmati hidup yang jauh lebih indah.


Dulu ketika ia tak tidur sering ada masalah karena kerajaannya tidak benar-benar damai.


Apalagi ia kemungkinan hanya tidur beberapa waktu saja untuk mengisyaratkan tubuhnya.


Namun, kini dia bisa tidur sepuasnya kapanpun Ia mau.


Kadang menikmatinya suatu hal yang sangat sulit ia lakukan, bahkan menjadi seorang pemimpin menguras tenaganya.

__ADS_1


Untung saja tubuhnya begitu kuat hingga ia bisa melakukan banyak hal termasuk untuk tidak tidur dan juga beristirahat.


Jika dipikir-pikir meskipun saat ini dirinya sudah terlahir dalam tubuh yang baru, ternyata tubuh ini juga begitu kuat buktinya setelah banyak hal yang terjadi tubuh ini juga bertahan.


Apa ini semua juga karena sistem yang ada di tubuhnya?


Bisa saja hal itu terjadi, karena sistem membantunya untuk melakukan banyak. Bahkan sepertinya, ia sudah mulai membiasakan diri, ia tak kelelahan saat mengeluarkan banyak mana, skill regenerasi dari sistem juga sudah menjadi bagian tubuhnya.


Sepertinya ia akan tetap bertahan meskipun tubuhnya terbelah menjadi dua, meskipun ia tak akan melakukan hal itu.


Andreas tak akan pernah coba-coba dengan sesuatu yang membahayakannya, nanti bukannya kembali bisa saja ia malah mati konyol.


Sesuatu hal yang buruk tidak perlu dicoba, meskipun ia memang biasa melakukan hal yang buruk, tetapi itu dulu.


Saat dirinya menjadi seorang raja, tetapi sekarang ia tak mungkin melakukan hal itu, karena ia tak ingin membuat orang tuanya kini khawatir.


Selama mungkin Andreas akan menjaga diri di hadapan kedua orang tuanya itu. entah ia sendiri bingung menyebutnya, orang tua angkat ataupun bukan.


Namun, jika dipikir tubuh yang ia pakai saat ini, milik anak kandung mereka, hanya jiwanya saja yang berbeda, atau jiwa miliknya itu juga sudah menjadi bagian dari anak Lalita dan Gustaf?


Sebenarnya hal itu tak penting ia pikir, lagi pula untuk apa ia memikirkan hal itu yang tidak ada hubungannya dengan hal yang akan ia lakukan.


Terlalu banyak hal yang tak penting masuk ke dalam otaknya, itu malah akan membuat pikirannya bercabang dan ia tak akan bisa fokus pada satu hal nantinya, yakni mencari tahu apa yang terjadi.


Tugas dari sang dewa juga mengatakan bahwa dirinya harus mendamaikan dunia saat ini.


Malah ketika ia bangun kembali, banyak hal yang berbeda, ia memang tidak ingin menciptakan dunia seperti saat dirinya dulu ada, tetapi setidaknya ia tahu apa yang tengah terjadi.


Sang dewa ingin dirinya melakukan hal itu, berarti ada yang kekacauan yang terjadi. Berangsung-angsur memang kehidupan para ras iblis terutama vampir dan werewolf sudah membaik.


Mereka memiliki hubungan yang baik kini, tetapi sepertinya hal itu tak mengubah banyak hal, karena keadaan malah menjadi aneh.


Mereka bertengkar sepertinya itu hal yang menyenangkan, karena sejak awal mereka memang tidak pernah rukun.


Sifat jeleknya terjadi sulit berubah.


Namun, sebenarnya tidak begitu, buktinya setelah peperangan panjang dan kerusakan yang terjadi di sana-sini, ia memutuskan untuk berdamai dengan para manusia,


Meskipun sampai sekarang belum terlihat tentang perdamaian yang sejak dulu ia inginkan.


Sejenak Andreas terpikir, kenapa selama ia terlahir kembali dan sudah mempelajari banyak hal, ia belum sama sekali mendapat bahasan tentang manusia.


Apa karena dinding pemisah itu masih ada, lalu hal itu membuat mereka benar-benar terpisah? Atau ada hal lain.


Sebab Andreas yakin bahwa dinding pemisah yang ia bangun itu sangat kuat, meskipun ia hanya mengorbankan seorang diri.

__ADS_1


Mungkin itu juga yang membuat mereka tak mampu masuk ke dalam dunia para iblis, mereka tak bisa seperti dulu yang bebas membuat kekacauan dunia para iblis dengan begitu mudah.


Andreas, hanya memikirkan tentang hal itu, tetapi ia tetap akan mencarinya, sebab ia mulai mengganggu pikirannya saat ini.


“Andreas, kenapa kau belum tidur?” tanya Gustaf begitu masuk ke kamar Andreas tanpa membuat tanda ketukan pintu lebih dulu.


“Belum mengantuk Ayah, tapi ini Andreas usahakan tidur,” jawab Andreas. “Besok pagi Andreas akan berlatih dengan Emund dan juga Raquel.”


“Besok siang, Ayah ingin mengajakmu pergi ke rumah Pamanmu, mereka memiliki anak lagi.”


Mendengar hal itu, Andreas bangkit dari tidurnya dan duduk. Kini Gustaf sudah berada di depannya.


“Anak kedua? Pasti akan sangat lucu, ah aku sebenarnya sudah tak ingat tentang Paman dan keluarganya,” kata Andreas.


“Wajar saja, karena sudah lebih dari delapan tahun kau tak pergi menemui Pamanmu, lagi pula ia pernah ke sini hanya saja kau saat berada di Menara Sihir.”


Andreas hanya mengangguk mengerti dengan ucapan Gustaf itu.


“Besok setelah selesai latihan, kembalilah cepat, karena kita akan bersiap-siap, supaya kita tak pergi dalam keadaan terik matahari,” sambung Gustaf.


Andreas tersenyum, lagi-lagi ia paham dengan hal itu. setelah itu Gustaf kembali ke luar dari kamar Andreas dan meninggalkannya sendirian.


Memang sudah cukup lama ia tak pernah ke rumah Pamannya, itu bahkan ia tak ingat kapan terakhir kali pergi ke sana.


Ia tak tahu di mana tempatnya, begitu juga ruga dan bentuk wajahnya, siapa keluarganya pun Andreas tak ingat sama sekali.


Lagi pula selama ini Gustaf tak pernah berbicara apapun tentang keluarga satu-satunya darinya itu.


Memang Gustaf pernah mengatakan bahwa ia memiliki satu saudara laki-laki yang tinggal cukup jauh dari sana.


Andreas awalnya pikir hubungan mereka tidak begitu dekat, tetapi Gustaf mengatakan bahwa tak ada masalah apapun, semuanya baik-baik saja, bahkan hubungan mereka cukup dekat.


Meskipun Andreas belum begitu yakin, tetapi ia tak begitu peduli, sebab selama tak ada masalah yang terjadi mungkin itu baik menurutnya.


Lagi pula selama ini keluarga Ibunya juga tidak begitu baik. Sebagai seorang bangsawan Marques tingkat satu yang berarti keluarga bangsawan terpandang, terlihat bahwa mereka memiliki masalah internal sendiri.


Sang nenek sering kali pusing dengan para saudara Lalita sang ibu. mereka merebutkan kekuasaan untuk menjadi penerus keluarga selanjutnya, hingga membuat sang nenek lebih memilih mengungsikan diri ke rumah Lalita.


Meskipun mereka beda kelas sosial, mereka sang nenek sangat menyayangi Andreas, bahkan jika bisa ia ingin Andreaslah yang meneruskan kekuasaan keluarnya.


Namun, hal itu pasti akan menjadi konflik bagi para Paman dan Bibinya, mengingat saudara Ibunya ada banyak.


Lalita, sang ibu adalah anak pertama yang otomatis tidak bisa meneruskan kekuasaan itu, adik kedua dan seterusnya yang menginginkannya.


Masalah keluarganya ternyata cukup memusingkan, pantas saya sang nenek seperti seorang perempuan yang terdampak bencana dan harus mengungsikan diri ke tempat yang lebih aman.

__ADS_1


Dan ketika sudah berada di rumah keluarganya hal itu berbeda, karena di sini keadaan begitu aman, tentram, tak ada pertikaian.


__ADS_2