SISTEM VAMPIR ABADI

SISTEM VAMPIR ABADI
46 - MELAKUKAN SEBUAH MISI


__ADS_3

Semenjak hari itu murid-murid junior kelas 2 akhirnya mulai diberikan misi dari para guru. Sebab mereka menilai murid-murid junior ini sudah lebih dari layak untuk memulai misi di luar menara.


Di kelas selanjutnya, Andreas menyuruh seluruh siswa yang ada di sana untuk mengambil misi di luar menara untuk berburu monster.


“Naahh, mulai sekarang kalian akan mendapatkan misi di luar menara. Misi pertama kalian adalah berburu monster. Hal ini untuk melatih jiwa bertarung dan gaya bertarung kalian dalam pertaruhan hidup, atau mati,” kata Andreas saat melakukan sesi belajar siang itu.


“Woah!! Akhirnya kita akan keluar dari kompleks menara!!”


“Aku dengar di luar sangat berbahaya!”


“Aku justru mendengar di luar cukup ramai dan sangat menyenangkan!”


Anak-anak itu justru sibuk bergosip dan berbicara tentang kondisi di luar dinding menara. Tidak ada ketakutan sedikitpun yang tergambar di wajah murid-murid junior tersebut. Seakan latihan maupun tugas ekstrem adalah hal biasa dalam keseharian mereka.


“Halloo!! Guys!! Kalian tidak khawatir sama sekali dengan misi kali ini, ya?!” Tanya Andreas menyela pembicaraan semua orang dengan suaranya yang dibuat menggelegar.


“Ayolah, pak Guru muda! Kapan kami berlatih tanpa mempertaruhkan nyawa?! Setiap hari kami berlatih begitu keras sembari mempertahankan nyawa!” Komentar salah seorang pemuda.


“Iya, pak guru tampan! Katakan saja apa misi kali ini. Kami siap melakukan misi berbahaya apapun, kok!!” Sahut salah seorang murid perempuan yang terkenal centil.


“Sikap kalian sungguh luar biasa,” gumam Andreas sembari menggelengkan kepala, heran.


“Baiklah, ini misi pertama kalian di luar kompleks menara,” saat Andreas berbicara muncul gulungan kecil di hadapan semua murid. Dia melanjutkan, “kita akan masuk ke hutan yang cukup berbahaya. Namun di dalam hutan itu terdapat permata yang memiliki kekuatan sihir tingkat tinggi. Tugas kalian adalah mengambil permata itu.”


“Hanya itu, guru?” tanya seorang siswa dengan senyum pongah.


“Benar. Hanya itu saja,” jawab Andreas dengan senyum licik di balik punggungnya.


Sore itu juga para murid langsung menuju ke hutan yang dimaksud oleh Andreas. Mereka berbondong-bondong menuju ke hutan tersebut dengan cara yang berbeda. Ada yang terbang menggunakan sapu, permadani, atau bahkan pedang. Ada pula yang menaiki hewan magis, atau bahkan berlari dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Sekejap kemudian, semua murid sampai di depan pintu masuk hutan. Mereka semua memperhatikan hutan yang begitu sunyi, dan gelap meski matahari sedang bersinar terang. Mereka semua datang ke hutan yang memiliki level ancaman cukup tinggi ini untuk menyelesaikan misi berbahaya, dan menjadikan hutan itu aman.


“Yah, pantas saja ini menjadi misi dengan level tinggi. Aura sekitar sini sangat menakutkan. Padahal kita belum masuk ke dalam hutan,” komentar salah seorang murid perempuan.


“ya sudah. Ayo, masuk dengan tim masing-masing. Jangan khawatir! Guru akan segera menyusul kita!” kata sang ketua kelas mencoba memberikan motivasi kepada rekan-rekannya.


Begitu selesai berbicara, sang ketua kelas bersama ketiga rekan satu timnya meluncur masuk ke dalam hutan. Melihat sikap berani sang ketua kelas, semua murid pun masuk bersama tim mereka masing-masing.


Tim pertama langsung menuju titik koordinat yang telah ditandai di peta. Mereka langsung menuju ke salah satu goa tempat permata pertama. Sesampainya di depan goa, seekor harimau besar sedang berbaring nyaman tepat di depan mulut goa.


“Loh!! Ada monster!” gumam salah seorang murid di tim satu.


“Pantas ini menjadi misi level tinggi! Rintangannya banyak sekali! Dasar guru laknat! Dia sengaja tidak mengatakan hal ini pada kita!” gerutu Edmund selaku pemimpin tim utama.


“Sudahlah! Ayo lumpuhkan dia agar kita bisa segera mengambil permatanya!” ajak seorang murid lain.


“Naahh! Beres!! Ayo, masuk dan ambil permatanya!” ujarnya sembari menatap pada tempat persembunyian rekan-rekannya.


Saat pemuda itu akan memasuki gua dengan santai, mendadak si kucing besar menghalangi langkahnya dengan lengan yang bercakar tajam.


“Loh!!! Dia masih sadar!! Bius tidak mempan, guys!!” Kata pemuda itu sembari lari menjauh dari mulut gua.


Macan besar itu mengikuti si Pemuda lari menjauh dari mulut gua. Sementara rekan-rekannya yang melihat pemuda itu lari tunggang-langgang justru mengulas senyum heran.


“Dasar si Brian! Ya sudah, aku akan membantu dia melawan kucing besar itu. Kalian berdua masuklah ke dalam gua dan temukan permatanya,” ucap Edmund pada kedua rekannya yang lain.


Setelah Edmund pergi kedua rekannya yang seorang perempuan pun masuk ke dalam gua untuk mengambil permata. Untungnya tidak ada jebakan maupun racun di dalam gua yang menghalangi mereka mengambil kotak permata.


Begitu ku tak permata sudah didapatkan kedua penyihir muda itu langsung berlari keluar goa sebab gua bergetar menandakan akan runtuh.

__ADS_1


“Untung saja kita keluar tepat waktu!!” gumam salah seorang siswi pada rekannya begitu mereka di luar goa. Sebab goa itu runtuh tepat saat mereka berhasil keluar.


Sementara itu di sisi lain Edmund dan seorang rekannya lagi sibuk melawan sang monster macan. Kucing itu tidak mau mengalah meski sekujur tubuhnya sudah penuh dengan luka. Pada detik-detik terakhir Edmund bahkan berhasil menancapkan pedangnya ke dada monster kucing itu. Hingga akhirnya kucing itu tidak mampu membuka mata lagi, dan binasa di tempat. Tim pertama pun menyelesaikan misi mereka.


Di sisi lain hutan setiap tim atau kelompok mendapatkan lawan yang begitu mengerikan sebelum mendapatkan berlian mereka sebagai reward. Ada tim yang melawan belalang raksasa, kelelawar raksasa, bahkan ular berkepala tiga.


Setiap pertarungan mereka itu tidak lolos dari perhatian Andreas yang sedang berdiri di puncak pohon paling tinggi di tengah hutan. Guru muda itu berdiri dengan tenang di balik jubah putihnya yang menutupi sebagian wajah.


Diam-diam pemuda ini mengulas senyum bangga akan hasil latihan murid-muridnya. Dia senang karena dalam waktu sekejap hutan ini akan menjadi tempat yang aman untuk mereka berlatih, maupun mencari makan.


Sebelum malam selesai dan berganti dengan fajar semua murid Andreas keluar dari hutan dengan hasil yang begitu memuaskan. Andreas sang Guru tentu menyambut mereka di depan pintu masuk hutan dengan senyum penuh kebanggaan.


Kabar tentang suksesnya misi pertama kelas junior ini menyebar dengan cepat. Akhirnya cara Andreas melatih pun banyak ditiru, sudah menyebar dengan baik. Kini banyak kelas yang menggunakan metode kerjasama antar rekan satu tim agar lebih cepat berkembang, dan menyelesaikan misi.


Setelah beberapa bulan tidak ada hal yang menyenangkan lainnya. Muncullah sebuah kabar dari Menara Sihir Manusia yang mengajukan pertukaran murid.


“APA?! Mereka mengajukan pertukaran murid?!” Andreas nampak sangat terkejut saat diberitahu berita ini oleh sang Guru agung menara sihir para iblis.


“Benar. Dalam suratnya tertulis Mereka ingin menyudahi permusuhan di antara kita yang sudah berlangsung selama ratusan tahun,” sang pria tua menjelaskan dengan perlahan. Tetapi sorot mata nampak sangat kelelahan.


“Apa kamu bersedia mengirim salah seorang muridmu untuk mewakili sekolahan kita guna melakukan pertukaran murid dengan mereka?” Tanya sang pemimpin para Guru dengan sangat hati-hati.


Andreas terdiam cukup lama. Pemuda itu memikirkan hal ini dengan sangat serius. Sampai akhirnya dia berkata, “baiklan, guru. Saya mengizinkan pertukaran murid ini. Dengan catatan, kita akan selalu mengawasi murid pindahan itu. Dan juga murid kita yang dikirim ke sana. Aku tidak mau mengambil resiko sekecil apapun.”


Andreas nampak gelisah saat mengatakan hal ini. Tetapi jika dia pikir lagi hal ini cukup menguntungkan juga bagi pihak mereka. Sebab mereka juga bisa mengorek sisi lain dari cara belajar sihir pihak manusia.


“Baiklah. Aku setuju,” sahut sang Guru Agung.


 Akhirnya kelas dari Andreas terpilih untuk diberangkatkan menuju ke Wilayah Manusia, dan belajar di salah satu Menara Sihir milik manusia. Kali ini tantangan baru bagi murid Andreas bukanlah monster, maupun medan yang berbahaya. Namun sikap licik manusia yang sejak dulu terkenal ingin memusnahkan bangsa iblis.

__ADS_1


__ADS_2