
Keesokan harinya Andreas bersama dengan Alfred dan beberapa pengawal pergi ke ibukota kerajaan.
Lalita melambai dari depan gerbang mansion milik keluarga Benedictus.
Ini untuk pertama kalinya Andreas pergi jauh dari rumah, meskipun itu bersama dengan Alfred, tetapi Lalita ikut terharu.
"Apa tidak masalah membiarkan Andreas pergi?" tanya ibu dari Lalita yang tak lain nenek Andreas.
"Biarlah Ibu, Andreas bukan anak kecil lagi, lagi pula ia bersama dengan Ayahnya. Tak akan terjadi masalah disana nantinya." Begitu kata Lalita.
Sang ibu berkunjung kemarin, untuk memastikan bahwa Andreas baik-baik saja. Andreas cucu kesayangan yang ia miliki, karena orang tua Alfred semuanya sudah tiada jadi ia tak harus berbagai cucu dengan siapapun.
Setelah itu mereka pun masuk kembali ke Mansion, meskipun begitu mereka masih sempat berbincang sepanjang jalan.
"Andreas masih berusia tujuh tahun, Lita. Dia masih kecil dan rapuh," kata ibu Lalita, yang kemudian kita sebut saja Miranda.
"Andreas memang masih berusia tujuh tahun, tapiĀ Ibu lihat bagaimana perkembangannya. Andreas tak seperti anak pada umumnya ia luar biasa di usianya yang masih sekecil itu dia sudah bisa membaca bersikap dewasa dan juga mempelajari banyak ilmu sihir," kata Lalita. "Dulu saat seusianya aku bahkan tak bisa menggunakan ilmu sihir."
"Jika tak karena Ayahmu yang meninggal lebih dulu, mungkin kau bisa menggunakan sihir sedini mungkin," ucap Miranda.
"Tak baik Ibu bicara begitu, kematian Ayah sebagai orang yang paling baik. Meskipun terkesan konyol. Tapi lihat sekarang, aku bisa menggunakan sihir dengan hebat dan akan mewariskannya pada Andreas."
Lalita sebenarnya keturunan bangsawan vampir yang terkenal dengan sihir darahnya, tetapi setelah menikah dengan Alfred, kelas bangsawannya turun beberapa peringkat yang membuat Lalita menjadi berbeda dari keluarga yang lain.
Meskipun begitu Lalita tak peduli, karena ia begitu menyayangi Alfred dan juga Andreas kini.
Karena keduanya kini adalah dunia yang indah bagi Lalita, tak boleh ada satupun yang mengganggu keduanya, apapun yang terjadi Lalita pasti menjaganya.
Hal itu pasti juga yang akan dilakukan Alfred jika terjadi hal buruk pada Lalita dan Andreas, karena sejak awal memang itu tujuan dari Alfred dan juga Lalita, yakni saling menjaga satu sama lain.
Di satu sisi Andreas memang anak yang luar biasa, ia tumbuh menjadi anak yang berbeda dari yang lain. Sifatnya menggambarkan seolah ia dewasa sebelum usianya.
Dalam waktu singkat ia bisa berbicara dan berjalan, ia sudah menguasai banyak sihir, bahkan juga terbang.
Ia sudah bisa membaca dalam usia dua tahun, semua buku di perpustakaan Mansion tak satupun luput dari bacaannya.
Sementara itu saat Miranda dan Lalita tengah membicarakan tentang Andreas. Andreas sendiri masih bersama dengan Alfred menuju ibu kota kerajaan yang jaraknya mungkin cukup jauh.
Alfred memutuskan mereka pergi menggunakan kereta kuda saja, karena untuk meminimalisir masalah yang terjadi nantinya.
Sebelumnya Andreas tak paham soal itu, hingga ia pun bertanya.
__ADS_1
Alfred mengatakan bahwa jika terbang jauh dari kota mereka ke ibu kota dan terlihat oleh iblis jahat, mereka bisa menjadi incaran.
Iblis-iblis itu bisa saja membunuh dan mengambil harta benda mereka. Jadi lebih baik menggunakan kereta karena para iblis itu berpikiran bahwa mereka lemah.
"Apa Ayah takut dengan Iblis-iblis jahat itu?" tanya Andreas kemudian.
"Tentu tidak. Ayah kan berani, pasti bisa mengalahkan mereka dengan mudah, tetapi Ayah tak ingin mengambil resiko dan sampai di ibu kota malah terlambat." Begitu jawab Alfred.
Entah benar atau tidak apa yang dikatakan Alfred, tetapi Andreas sepenuhnya tak ingin tahu.
Padahal ia memiliki kekuatan yang begitu besar, jika iblis-iblis jahat itu sampai mengganggunya pasti akan dengan mudah dikalahkan.
Bahkan jika bisa ia akan membunuhmu mereka sampai inti kehidupan dan tak mengganggu banyak orang lainnya.
"Apa kita akan lama sampai di Ibu kota?" Andreas bertanya lagi.
"Bisa sore atau tengah malam, tergantung keadaan. Tapi sepertinya bisa malam, karena kuda tak akan berjalan terus menerus, ia juga butuh istirahat."
Jawaban Alfred itu membuat Andreas terdiam, ternyata setelah seribu tahun para vampir mulai melemah, mereka memiliki perasaan dan empati layaknya manusia.
Bukankah mereka harusnya ambisius dan suka membunuh, tetapi lihat sekarang dengan seekor kuda saja bisa begitu sayang.
Dalam seribu tahun para iblis sepertinya tak haus darah untuk membunuh, malah lebih memilih haus akan anggur.
Andreas tak bisa melakukan apapun saat ini, karena ia tak tahu masalahnya mengapa dunia berubah begitu cepat.
Bahkan ia mulai menyadari bahwa sihir-sihir dan kekuatan para iblis melemah, tidak seperti dulu.
Apa karena peperangan sudah berakhir lama hingga mereka tak merasa takut? Tak ada lagi yang membuat mereka tersadar bahwa menjaga diri adalah hal yang diperlukan.
Bagaimana jika suatu saat manusia menyerang? Atau bahkan makhluk lainnya menyerang mereka? Bisakah mereka mempertahankan diri mereka?
Andreas sulit memikirkan hal itu. Ia tak tahu harus melakukan apa.
Seribu tahun lalu, kaum vampir berdiri paling tinggi di antara kaum iblis lainnya, tetapi sekarang malah berdiri bersama dengan mereka.
"Kau lelah?" tanya Alfred kemudian, karena melihat Andreas yang sejak tadi diam.
"Hanya sedikit mengantuk saja, Ayah." Begitu jawab Andreas.
"Kalau begitu tidurlah. Ayah akan membangunkanmu nanti jika ada hal penting atau sudah sampai di Ibu kota."
__ADS_1
Andreas mengangguk mendengar hal itu. Ia pun memutuskan untuk tidur, tetapi lebih dulu ia meminta sistem tetap menjaganya.
Jika ada hal yang penting maka ia akan siap.
Kini Andreas sangat terbantu dengan adanya sistem itu, bahkan ia merasa terus bergantung dengan sistem itu. sistem luar biasa itu bisa mengurus segalanya, sekarang ia tak perlu membaca, dengan menanyakan beberapa hal saja, sistem langsung tahu.
Kekuatannya juga tak main-main, luar biasa dan juga begitu hebat.
***
Beberapa waktu berlalu, tak terasa mereka pun sudah sampai di dekat Ibu kota.
Begitu berada di gerbang masuk mereka pun diperiksa.
Meskipun keluarganya bangsawan, tetapi para penjaga tetap saja memeriksa mereka untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Setelah semuanya aman, Andreas dan Alfred pun masuk ke dalam sana.
Begitu pintu gerbang yang tingginya hampir lima belas meter dengan mengelilingi seluruh Ibu kota itu terbuka, Andreas bisa melihat semuanya.
Sebuah Ibu kota kerajaan yang jauh berbeda dari apa yang ia bayangan. Tak ada tanah gersang dan tandus yang rusak akibat perang.
Penduduknya yang banyak dan berlimpah, seolah mereka sudah menjadi satu dan berbaur.
Kereta kuda itu terus masuk ke dalam lebih jauh, hingga sampai di pusat ibu kota.
Alfred mengajak Andreas keluar dari sana, untuk melihat-lihat tempat di sekelilingnya.
"Kau lihat patung besar itu? Itu adalah Raja Pertama kerajaan Iblis dari kaum vampir, Antonio Bernedius." Alfred menunjuk sebuah patung setinggi sekitar 10 meter itu.
Andreas yang melihat langsung mengernyit dahinya. Siapa orang yang dijadikan patung itu? Mengapa jauh berbeda dengan dirinya?
Bahkan Andreas yakin garis keturunannya tak ada yang seperti itu. Andreas merasa asing dengan patung itu.
Ia semakin yakin ada yang sengaja diubah dari sejarah yang sesungguhnya, sesuatu yang sengaja ditutupi yang seolah tak ingin hal itu diingat oleh banyak orang.
Atau memang seseorang telah mengubah pikiran semua orang bahwa sejarah telah berubah, sejarah dulu tak pernah ada.
Berarti dari sanalah awal rencananya menciptakan perdamaian dunia, ia harus memulai untuk mencari tahu yang sebenarnya, apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa bisa sampai hal itu.
Namun, itu masih asumsi Andreas semata karena ia tak tahu siapa dalang di balik ini semua, entah makhluk jenis apa yang telah membuat semuanya itu. pastinya ia memiliki kekuatan yang begitu hebat sehingga mampu memengaruhi banyak orang yang ada di negeri itu, bahkan Andreas yakin semuanya terpengaruh.
__ADS_1