
Setelah belajar sihir dengan kedua temannya tadi, kini Andreas bersama dengan kedua orang tuanya pun akhirnya pergi ke tempat di mana pamannya berada.
Andreas pikir yang pergi hanyalah dirinya dan Alfred saja, ternyata Lalita pun juga ikut dalam perjalanan yang sudah seperti liburan keluarga itu.
Saat ini mereka pergi menggunakan kereta kuda, karena mereka tak ingin lelah menggunakan sihir yang pastinya akan menguras mana mereka.
Sebenarnya Andreas bisa saja menggunakan sihir perpindahannya, tetapi ia tak ingin mengambil resiko apalagi ia tak tahu di mana lokasinya pamannya itu sebenarnya.
Bisa-bisa ia dan kedua orang tuanya nanti tersesat dan tak bisa kembali ke tempat semula.
“Apa perjalan ini akan lama, Ibu?” Begitu tanya Andreas pada Lalita.
“Ah Ibu sampai lupa kalau kau sudah cukup lama tidak pergi ke tempat Pamanmu,” jawab Lalita. “Tidak sejauh saat pergi ke ibukota, Sayang. Jika kau lelah kau bisa saja tidur lebih dulu, ibu akan membangunkanmu jika sudah sampai.”
Andreas menggeleng mendengar ucapan Lalita itu.
“Tidak, Ibu. Aku akan menikmati perjalanan ini, lagi pula kalau tidak sejauh itu pasti akan juga tidak akan kelelahan,” kata Andreas.
Kemudian ia melihat melalui potongan kereta kuda yang dibuat menyerupai jendela. Andreas melihat pemandangan sekitar.
Mereka sudah keluar dari kota, melewati perbatasan kota hingga masuk jalanan hutan yang cukup rindang.
Itu sepertinya salah satu akses menuju wilayah lain. Tempat yang cukup menakutkan, sepertinya tempat seperti itu akan sangat cocok jika dijadikan tempat bersarangnya perampok dan penjahat.
Baru saja Andreas memikirkan hal itu, ternyata kereta kuda yang ia naiki terhenti seketika.
“Ada apa?” Begitu tanya Alfred pada kusir kuda yang tak menjawab. Karena merasa janggal Alfred pun keluar. “Kalian tunggu di dalam sini.”
Setelah mengatakan hal itu Alfred keluar dan memeriksa keadaan, saat itulah si kusir tengah ketakutan karena di depannya ada sekelompok kaum werewolf yang sepertinya kumpulan para perampok.
“Ternyata bangsawan dari kaum vampir,” kata salah satu dari perampok itu.
“Serahkan hartamu atau kau akan mati di sini,” ucap perampok yang lainnya.
Alfred diam mendengar gertakan mereka, setelah melihat jumlah para perampok itu. Alfred menggigit ibu jarinya yang langsung mengeluarkan darah.
Dari darah itu ia menciptakan busur lengkap dengan anak panahnya, ia langsung membidik mereka sehingga sebagian dari mereka terkena anak panah itu.
Beberapa yang masih hidup berusaha menyerang dan menerjang Alfred, ia pun menciptakan dua senjata, kapak di tangan kanannya sedangkan pedang di sisi kirinya.
Pertarungan Alfred dan para perampok itu pun terjadi.
Andreas yang melihat Alfred bertarung hanya bisa diam saja, pertarungan yang sungguh luar biasa.
__ADS_1
Andreas selama ini tak tahu bahwa ayahnya bisa memiliki kemampuan sehebat itu, padahal yang ia tahu ayahnya adalah laki-laki yang lemah lembut, tetapi setelah bertarung menjadi beringas dan menakutkan.
Sisi vampir dengan taringnya nampak keluar. Apalagi saat memanipulasi sihir darahnya sungguh di luar dugaan.
“Apa kau terkejut dengan kemampuan, Ayahmu?” tanya Lalita pada Andreas.
Andreas mengalihkan pandangannya menatap Lalita yang tengah duduk santai.
“Apa ibu tidak panik melihat ayah bertarung seorang diri melawan perampok sebanyak itu?” tanya balik Andreas.
“Kenapa harus panik? Ayahmu akan sangat mudah melawan perampok selemah itu, jika tidak karena kemampuannya yang hebat mana mungkin Ibu menikahnya, karena ini bukan sekedar cinta.” Begitu kata Lalita lagi.
Andreas mengerutkan kening. Tak lama kemudian Alfred kembali, dengan tubuh bersih tanpa luka dan darah sedikit pun.
“Kalian sedang membicarakan Ayah, bukan?” tanya Alfred yang langsung masuk kembali ke kereta kuda itu.
Lalu tak lama kemudian kereta kuda itu pun berlalu pergi meninggalkan tempat tadi.
“Anakmu kagum dengan keahlianmu tadi,” kata Lalita.
“Kau harus mempelajari hal itu nantinya, bertarung dengan senjata itu perlu, karena sihir tidak akan berlangsung lama,” ujar Alfred.
Lalu Alfred mengatakan bahwa dirinya dulu sebelum menjadi seorang kepala baron adalah penyihir penyerang, ketika masih bersekolah di Menara Sihir pada tahun kedua ia mengambil sihir pembentuk keahlian senjata.
Alfred mengkombinasikan sihir miliknya dengan sihir milik keluar Lalita, sebab jika ia menggunakan sihirnya akan menimbulkan banyak masalah seperti tertinggal bekasnya.
Sedangkan jika menggunakan sihir manipulasi darah, maka setelah digunakan darah itu akan kembali ke tubuhnya.
“Apa aku bisa mempelajarinya?” tanya Andreas setelah Alfred mengakhiri ceritanya.
“Tentu saja kau bisa, Ayah akan mengajarinya nanti, karena sepertinya Sihir pembentuk keahlian pedang sudah tidak ada lagi di Menara Sihir.” Andreas mengangguk.
Sepertinya Andreas akan tertarik dengan sihir itu, meskipun ia tak tahu untuk apa, tetapi ia sangat ingin mempelajarinya.
Namun, sepertinya hanya ia yang bisa melakukan hal itu. sebab hanya keluarganya saja yang memiliki sihir manipulasi darah.
Sesuatu yang sangat mustahil dipelajari penyihir lain. Bahkan dulu saat masih menjadi seorang raja, ia tak pernah tahu ada yang seperti itu.
Sebab para vampir tahunya hanya meminum darah dan tak bisa menggunakan darah untuk hal yang lainnya.
Namun, setelah banyak hal yang terjadi akhirnya Andreas tahu tentang hal itu, dan ia pun bisa menggunakan darah untuk melindungi diri sendiri.
“Ayah, Ibu. Apa mungkin jika suatu saat aku menjadi seorang Penyihir Tinggi di Menara Sihir?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Andreas itu, Lalita dan Alfred saling pandang, mungkin perkataan Andreas itu cukup asing bagi mereka meskipun tidak ada masalah sebenarnya.
Sebab saat sekolah di Menara Sihir pun mereka sudah tahu tentang hal itu.
“Apa kau yakin ingin mengajar di sana?” tanya Lalita kemudian.
Andreas kemudian pun mengangguk.
“Kalau kau yakin itu tidak masalah sebenarnya, tetapi kau harus mempelajarinya dari sekarang, dan membuat dirimu mencolok, supaya para petinggi Menarik Sihir tertarik padamu,” kata Alfred memberitahu apa yang harus Andreas lakukan.
“Apa kau sudah memiliki keahlian khusus untuk menjadi seorang Penyihir Tinggi? Sebab Penyihir Tinggi bukan hanya kau memiliki kekuatan yang hebat, tapi kau juga harus bisa kemampuan yang berbeda dari yang lain. Di luar sihir dasar,” papar Lalita yang semakin jelas.
Persis seperti apa yang dikatakan Raquel dan juga Edmund. Ia harus memiliki kemampuan khusus, meskipun sebenarnya ia banyak memiliki kemampuan hebat ditambah dengan kemampuan dari sistem.
Namun, apakah semua hal itu bisa ia berikan para muridnya nanti. Sebab jika asal menggunakannya saja, itu akan terkesan sesuatu hal yang biasa.
Dan tak mungkin ia mengajarkan sihir darah, karena itu milik keluarganya.
“Aku belum memikirkan kemampuan khusus itu, karena aku baru saja ingin menjadi Penyihir Tinggi setelah mendengar apa yang Edmund dan Raquel katakan tadi.” Begitu kata Andreas.
“Jika kau merasa ingin menjadi bagian dari Menara Sihir maka lakukanlah, buat dirimu layak bagi mereka.”
Andreas mengangguk paham dengan apa yang dikatakan Alfred tadi. Sepertinya ia perlu memikirkan apa yang nantinya menjadi kemampuan khususnya.
Beberapa keahlian sudah dimiliki guru di sana dan mereka juga mengajarinya pada banyak murid.
Jika ia ingin menjadi guru maka ia harus memiliki kemampuan istimewa dan membuatnya layak menjadi bagian dari Menara Sihir.
Mungkin ia nanti akan menemukan jawaban atas hal itu setelah kembali ke Menara Sihir, sembari mencari jawaban tentang hal itu, apakah ia perlu melakukannya demi menjalankan misinya.
Meskipun setelah ia pikir-pikir hal itu tidak begitu penting, dan lagi pula ia belum menanyakan hal itu pada sistem. Jika sistem mengatakan itu harus dilakukan maka ia akan melakukannya.
Sesuatu yang membuat misinya berantakan memang seharusnya tidak perlu dikerjakan sebab itu hanya akan membuang-buang waktunya.
Andreas tak hal itu terjadi. Ia ingin semuanya selesai dengan sewajarnya, jika setelah semua informasi terkumpul dan ia harus melawan banyak penjahat, maka hal itu tidak masalah.
Sebab tujuannya mendamaikan dunia pasti ada hubungannya dengan hal itu. Dunia akan damai jika orang-orang jahat disingkirkan dan mereka yang berselisih tidak bertengkar.
Terdengar cukup mudah bukan? Padahal kenyataannya sampai sekarang saja ia tak menemukan siapa yang telah mengubah sejarah peradaban kerajaan sihirnya dalam seribu tahun terakhir.
Perubahan itu membuat namanya dilupakan sebagai seorang raja yang begitu hebat yang pernah menguasai kerajaan iblis.
Harusnya ia dijadikan monumen dan diingat oleh para rakyatnya bahwa ia pernah berkorban demi sebuah kedamaian, bukan malah sengaja dihapus dari sejarah dan ingatan mereka semua.
__ADS_1
Sakit hatinya jika mengingat semua hal itu memang. Namun, mau bagaimana lagi, karena hal itu sudah terjadi.