SISTEM VAMPIR ABADI

SISTEM VAMPIR ABADI
025 - SAMPAI DI RUMAH PAMAN


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang yang ternyata cukup jauh, akhirnya mereka pun sampai di wilayah yang berbeda. Kereta kuda itu memasuki sebuah mansion yang begitu besar.


Sangat jauh berbeda dengan mansion milik keluarga Andreas, jelas sekali hal itu.


Tak lama kemudian mereka pun sampai. Andreas, Alfred dan juga Lalita turun dari sana.


Begitu keluar mereka sudah disambut banyak orang, tiga diantaranya cukup mencolok dengan pakaian yang berbeda, sepertinya mereka adalah Paman, bibi dan seorang lagi yang Andreas yakin sebagai sepupunya.


Beberapa orang lainnya sepertinya mereka hanyalah seorang pelayan, karena pakaian mereka yang mirip satu sama lain, hanya berbeda motifnya saja.


“Akhirnya kalian sampai juga, mari masuk lebih dulu,” ujar seorang pria yang tak lain paman Andreas, yakni Liones.


Setelah Liones mengatakan hal itu mereka pun langsung masuk ke dalam dan duduk di sebuah ruang tamu.


“Bagaimana perjalanan kalian? Apa ada masalah?” Liones bertanya lagi.


“Tidak ada, perjalanan kami berjalan dengan baik. Semuanya baik-baik saja,” jawab Alfred berbohong. Padahal jelas-jelas ia tadi melawan perampok dan ia lakukan seorang diri lagi.


“Baguslah kalau begitu,” ujar Liones. “Ah iya Paman sampai lupa. Kau pasti Andreas bukan? Kau sejak tadi diam saja.”


“Memang begitu anaknya, ia lebih sering diam.” Begitu kata Lalita.


“Aku sudah mendengar berita tentangnya, meskipun pendiam tapi dia hebat. Sayangnya aku tidak melihat saat dirinya memenangkan turnamen sihir itu,” puji Liones pada Andreas.


“Aku akan pergi melihat istri dan anakmu.”


Setelah mengatakan hal itu Lalita pun berlalu pergi dari sana dan meninggalkan keempat orang itu.


“Tapi bukan hanya itu, Andreas juga menjadi penengah bagi para kaum vampir dan werewolf saat masuk ke dungeon,” kata Alfred seolah tengah membanggakan Andreas di depan adiknya itu.


“Aku tak heran soal itu, dia sudah sama seperti dirimu. Tidak ada yang berbeda. Kau tahu Ayahmu saat seusiamu ia sudah begitu dewasa, apalagi saat ia mencari pekerjaan supaya Paman bisa makan dan bersekolah, meskipun hanya sekolah sihir biasa, sebab masuk ke Menara Sihir tanpa undangan itu mahal,” papar Liones mengingat hal yang terjadi.


Liones kemudian mengatakan tentang kehidupan mereka, di mana semuanya nampak menyedihkan bagi dua anak yatim piatu yang tak tahu harus melakukan apa.


Namun, untungnya ayah mereka meninggalkan beberapa harta yang bisa mereka gunakan. Alfred saat itu juga sudah menjadi baron, dan berkat kecerdasannya ia mendapat kepercayaan dari Duke.

__ADS_1


Sayangnya Liones merasa bahwa kehidupannya tak sama seperti Alfred ia pun pergi dari sana dan memulai hidup barunya hingga ia bertemu dengan seorang perempuan dari bangsawan kelas atas dan menikahinya.


Mertuanya yang tak lain orang tua dari istri tak mempermasalahkan siapa Liones itu, yang penting Liones bertanggung jawab dengan menjaga dan mengurus putri mereka.


“Sekarang kau tingkat berada di Menara Sihir?” tanya Liones mengakhiri ceritanya.


“Tahun ini masuk tingkat kedua, tetapi sekolah masih diliburkan untuk sementara waktu,” jawab Andreas.


Alfred mengatakan bahwa Menara diliburkan karena menyangkut masalah dungeon tempo waktu, tetapi sepertinya tak akan lama lagi mereka juga akan masuk kembali.


“Memang masalah para iblis tidak akan selesai sampai kapan pun sepertinya.” Begitu kata Liones. “Lebih baik sekarang Andreas dan Leon pergi keluar untuk bermain, kalian juga harus saling mengenal satu sama lain sebagai seorang sepupu.”


Andreas dan anak laki-laki yang dipanggil Leon tadi mengangguk mengerti, keduanya pun berlalu pergi dari sana untuk menuju luar.


Sementara itu Liones dan Alfred masih berada di sana. mereka masih menikmati waktu bersantai sambil berbicara satu sama lain.


“Kau mengundangku ke rumahmu bukan sekedar kau ingin menunjukkan anakmu yang baru lahir, kan?” tanya Alfred kemudian menerka apa yang akan dilakukan Liones padanya.


“Minumlah dulu, kau terlalu berprasangka buruk padaku,” jawab Liones dengan santainya.


***


“Untuk apa? Aku tidak tertarik sama sekali,” kata Alfred menolak apa yang dikatakan Liones tadi.


“Apa kakak tidak lelah selalu berada di bawah, aku bisa membantu supaya kakak bisa menjadi seorang Marques.” Begitu kata Liones.


Sebenarnya Liones meminta Alfred datang ke sana memang bukan sekedar ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki seorang anak  bayi, tetapi lebih dari itu.


Liones ingin Alfred mengikuti apa kemauannya, yakni naik pangkat menjadi seorang bangsawan kelas yang lebih tinggi bukan sekedar baron yang sebenarnya tak masuk kelas bangsawan.


Itu bukan kali pertama Liones menginginkan hal itu, tetapi Alfred terus menolak dan mengatakan bahwa dirinya tak ingin hal itu.


Alfred lebih menikmati dirinya menjadi seorang baron, berkeliling dan mencari banyak hal, bertemu orang-orang baru dan lainnya.


Jika ia menjadi bangsawan kelas tinggi ia akan sibuk di mansionnya mengurus tentang wilayah dan sebagainya. Ia ingin bebas, tak peduli status atau yang lainnya.

__ADS_1


“Bagaimana dengan anak dan istrimu?” sambung Liones. “Mereka perlu pengakuan.”


“Tidak perlu, jika sejak awal mereka ingin pengakuan. Lalita pasti tak menikah denganku, sedangkan Andreas pasti lebih memilih hidup dengan neneknya,” kata Alfred. “Berhentilah berpikir bahwa aku menginginkan hal itu, Lion. Aku tidak sepertimu, keluargaku juga tidak seperti yang kau pikirkan. Andreas terlalu dewasa untuk kau khawatirkan.”


Meskipun sebenarnya Liones masih tak mengerti mengapa Alfred melakukan semua hal itu, padahal dirinya sudah menawarkan ia memiliki pangkat yang lebih baik.


“Aku ingin kau memiliki kehidupan yang lebih baik. Aku tidak ingin kau bernasib buruk seperti ayah dulu.”


“Hal itu tidak akan terjadi, Andreas tidak akan pernah kehilangan Ayahnya, dan Lalita tidak akan sakit karena ditinggal suaminya. Walaupun kau pikir aku akan mengalah jika dalam keadaan terdesak, aku tidak akan melakukan hal itu. Aku bukan Ayah, Lion,” papar Alfred.


Liones hanya bisa menarik nafasnya panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia hanya ingin yang terbaik untuk kakaknya, tetapi Alfred selalu saja menolak.


“Jika suatu saat kau membutuhkanku untuk hal itu, katakan saja, aku akan bersedia membantumu.”


Alfred menggeleng, lalu berucap, “pegang kata-kataku ini. Aku tidak akan melakukannya sampai kapanpun.”


Keduanya sejak kecil memang memiliki sifat yang berbeda, Alfred tak ingin terlihat mencolok bahkan lebih senang berada di bagian paling belakang, sedangkan Liones ingin semua  mata orang tertuju padanya.


Liones ingin orang-orang memperhatikan dan peduli padanya.


Maka darilah kadang mereka berselisih, karena satu dan lain hal. Pikiran mereka jauh berbeda, meskipun sama-sama pandai dalam bidang masing-masing.


Namun, keduanya memiliki kemampuan yang tak bisa dimiliki yang lainnya. Kemampuan itu yang membuat mereka khusus.


Setelah pembicaraan itu mereka pun bangkit dari duduk dan menuju dimana para istri mereka berada.


Sedangkan Andreas sedang bersama dengan Leon yang tak lain sepupunya. Awalnya Andreas pikir bahwa Leon hanyalah anak bangsawan yang egois dan sombong, tetapi nyatanya tidak sama sekali.


Leon cukup baik sebagai seorang sepupu. Begitu ramah dan juga pandai dalam berbicara.


Andreas dan Leon cukup nyambung dalam beberapa obrolan yang membuat mereka terkesan sudah kenal cukup lama.


Mungkin nantinya Andreas bisa bertukar pikiran dengan Leon, juga bagaimana dirinya lulus dengan begitu cepat.


Namun, sebelum pembicaraan itu lebih lanjut mereka sudah dipanggil kembali untuk masuk ke sana.

__ADS_1


__ADS_2