
Suatu ketika Andreas berjalan-jalan di menara sihir untuk melihat kondisi tempat itu setelah sekian lama. Pada saat itu pembelajaran di Menara Iblis sudah kembali dimulai seperti semula.
Pada saat itulah Pemuda tampan itu melihat ada sesuatu yang aneh. Andreas menyadari hubungan antar iblis ini tidaklah seperti biasanya, seharusnya mereka sangat akrab satu sama lain meski berbeda ras.
“Permisi tuan penjaga kebun,” Andreas menyapa seorang pria tua yang bertugas menjaga kebersihan.
Pria dari ras iblis serigala itu nampak sedang beristirahat di salah satu kursi taman. Dia nampak mengusap keringat yang bercucuran dari kepala. Senyumnya mengembang saat ada seorang pemuda tampan dengan ramah mendekatinya.
“Ada apa, anak muda? Tumben sekali ada pemuda di menara sihir ini yang mau menyapaku,” tuturnya dengan senyum heran.
“Hehe, saya sedang butuh rekan ngobrol, paman. Maklum, sebagai orang baru banyak hal yang belum saya ketahui. Daripada saya malu bertanya dengan murid-murid lain atau guru lain mungkin Paman bisa menjadi teman ngobrol yang lebih baik,” ucap Andreas mencoba mencari alasan logis.
Si pria paruh baya terus kekeh lembut mendengar ucapan Andreas. Kemudian dia berkata, “kamu benar! Lebih baik berbicara dengan kami dari kaum rendahan daripada anak-anak dan guru-guru di sini yang kebanyakan bersikap dingin pada seakan mereka melupakan tradisi lama yang menjunjung kokohnya hubungan meski berbeda ras dan jenisnya.”
Sorot wajah pria tua itu begitu sendu saat mengatakan hal tersebut. Ada begitu banyak kepedihan di dalam wajahnya yang kini telah berkeriput.
“Apa Paman tahu kenapa generasi sekarang di menara sihir ini tidak saling tegur sapa ataupun mengakrabkan diri pada satu dan yang lainnya?” tanya Andreas sembari mengulurkan beberapa tusuk daging yang dia teleportasi dari balik lengan bajunya.
“Aku dengar ini karena peristiwa beberapa puluh tahun yang lalu,” gumam sang pria lanjut usia yang kini mulai perlahan mengambil daging dari sisi tubuhnya saat bercerita.
“Dahulu seluruh klan dan bahkan seluruh ras iblis sangat menjunjung tinggi kesatuan. Sampai suatu ketika aku dengar ada clan iblis vampir yang lebih dulu menyerang klan iblis warewolf. Tapi itu hanya rumor yang santer terdengar. Aku sendiri pun sebenarnya masih tidak percaya dengan rumor itu,” gumam sang paman semakin berwajah sendu.
“Kenapa Paman yang sudah berumur tidak percaya dengan rumor itu?” Pertanyaan Trias benar-benar keheranan.
“Karena aku dengar semua ini ada campur tangan manusia,” si Paman berbicara dengan lirih saat mengatakan hal ini.
“APA?! MANUSIA?! Di menara sihir iblis ini?! Bagaimana bisa?!” Andrea semakin heran dibuatnya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu bagaimana jelasnya, tapi aku dengar, dia menyusup, dan dengan mudahnya menghasut dua iblis dari ras berbeda itu untuk bermusuhan dan saling menyerang,” kini suara paman penjaga kebun terdengar kesal.
Di siang hari yang terik di bawah pohon yang rindang si paman berkisah tentang momen penting dalam sejarah menara sihir iblis tersebut. Dan dengan serius Andreas menyimak kisah rahasia-rahasia itu.
“Yah, kemampuan orang ini memang tidak biasa. Begitu liciknya dia hingga mampu menghasut dua orang dari ras yang begitu besar sehingga saling bermusuhan,” sahut Andreas ikut berwajah mendung.
“Benar ‘kan? Seribu tahun lamanya aku hidup. Baru kali ini aku mendengar kejadian memalukan seperti ini. Kedua orang dari ras yang begitu besar dan bersahabat begitu erat bisa dihasut hingga hubungan kedua ras hancur hanya karena seorang anak manusia,” kata-kata sang paman membuat Andreas semakin terdiam.
“Tidak terasa seribu tahun telah berlalu, ya,” gumam Andreas lirih.
Sorot mata kedua pria beda usia ini menerawang jauh ke langit yang cerah. Mereka berdua sama-sama sedih mengingat hubungan antara ras maupun klan kini rusak hanya karena seorang anak manusia.
“Paman, aku janji akan memperbaiki semua ini. Aku akan menyelidiki semua ini dan meluruskan segala kesalahpahaman,” ucap Andreas dengan sorot mata kembali berbinar.
“Iya, nak. Semoga kamu bisa menepati ucapanmu,” tutur sang Paman dengan senyum tulus, penuh kelegaan.
Pria dewasa itu memandang punggung Andreas dengan sorot mata penuh harapan. Kemudian dia berkata,
“Belum pernah aku melihat aura yang begitu kuat dari pria muda seperti dirinya. Sepertinya pria ini akan membawa perubahan besar kepada dunia ini,” gumam sang paman pada gemerisik angin siang itu.
Andreas menuju ke perpustakaan di menara sihir tersebut. Dia berfikir, “perpustakaan menyimpan beragam dokumen dan bahkan catatan-catatan dari masa lalu. Jika ingin mendapatkan informasi lebih banyak maka perpustakaan adalah salah satu jawaban utamanya.”
Karena alasan inilah Andreas dengan pasti melangkah menuju perpustakaan di menara sihir itu.
Tidak berapa lama dia pun sampai di dalam ruangan yang penuh dengan rak-rak tinggi berisi beragam buku. Meski seluruh buku dan rak di dalam ruangan terlihat usang tetapi informasi di dalamnya masih sangat jelas.
Andreas segera mengambil salah satu tangga yang bisa bergeser, dan membawanya terbang menuju ke tempat yang dia inginkan. Tangga inilah salah satu fasilitas yang tidak berubah dari menara sihir. Tangga ini pula lah yang membuatnya senang, dan betah berada di dalam perpustakaan.
__ADS_1
“Foto-foto lama?” Andreas memeriksa jajaran album foto-foto lama selama beberapa tahun ke belakang.
Pemuda sakti ini menggunakan kekuatannya agar bisa memeriksa foto-foto itu dengan cepat. Dari keseluruhan album yang jumlahnya puluhan sayangnya Andreas tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Pemuda itu pun beralih kepada rak lain yang berada di tempat paling atas. Saat dia mendekati rak paling tinggi barulah dia menyadari ada lemari khusus yang tersembunyi di atas rak paling atas.
“Pintu rahasia apa ini?” Gumam Andreas nampak keheranan.
Dengan sedikit sihir dia bisa membuka pintu rahasia itu. Pada saat dibuka debu menyeruak keluar dari pintu yang nampaknya sudah lama tidak pernah dibuka.
Saat debu sudah tidak menghalangi penglihatannya Andreas menarik keluar buku-buku besar yang tersembunyi di dalam lemari kecil rahasia itu. Dia membuka satu buku dan menyadari bahwa itu adalah catatan dari guru di masa lalu. Melihat caranya menulis, dan menggunakan kosakata, sepertinya buku itu ditulis oleh guru yang sudah berusia ratusan tahun sebelum tahun ini.
“Catatan ini terlihat dibuat sudah beratus tahun lamanya. Karena aku dengar pemuda-pemuda di luar sana tidak lagi menggunakan kosakata seperti ini,” gumam Andreas saat membaca beberapa halaman awal dari catatan tersebut.
Dengan dibantu kekuatannya Andreas membaca buku itu dengan cepat. Di buku pertama ini tidak ada sesuatu yang mencurigakan jadi Andreas berpindah ke buku berikutnya.
Pada saat itulah Andreas menemukan kejanggalan. Goresan yang tertulis di atas buku terlihat berbeda dengan cara tulis guru-guru di masa itu. Bahkan kosakata yang digunakan terlihat sangat kaku dan berbeda dari catatan yang pertama. Untuk menguatkan argumennya Andreas pun membuka buku catatan berikutnya.
Di buku catatan ketiga yang sama besarnya pun, cara tulis orang ini berbeda dengan cara tulis orang di buku kedua. Bahkan Andreas merasa cara tulis orang di buku kedua ini sangat sistematis, dan licik. Seperti cara-cara yang biasa dipakai manusia. Dari sini Andreas mulai curiga ada campur tangan manusia dalam perkembangan ras iblis.
“Sepertinya yang dikatakan Paman penjaga kebun tadi benar. Ada campur tangan manusia yang sangat besar di menara sihir ini,” gumam Andreas sembari dengan fokus meneliti coretan-coretan di buku.
“Oh, iya! Aku lupa! Aku bisa menggunakan ilmu ‘menembus jejak’ untuk meneliti memori sang penulis dari hasil tulisan yang dia buat ini!” Kata Andreas dengan dramatis menepuk dahinya.
Beberapa saat kemudian Andreas pun mulai berkonsentrasi hingga pupil matanya berubah menjadi kuning keemasan. Dengan mata sihirnya ini dia mencoba melihat memori dari si penulis buku. Tetapi anehnya mata sihir Andreas ditutupi oleh kabut yang hitam.
“Aku tidak bisa melihat apapun. Sepertinya orang ini sudah berjaga-jaga jika suatu saat ada seseorang yang ingin menembus jejaknya dengan menutup jejak hasil tulisannya ini dengan kaputih sihir yang begitu pekat.” Andreas berbicara dengan nada suara pasrah. Sebab dia gagal mengintip jejak orang itu.
Tetapi dari tulisan ini Andreas sadar, sejak awal orang ini berniat untuk memecah belah ras iblis vampir, dan warewolf. Karena itulah Andreas merasa perlu melakukan tindakan yang lebih spesifik untuk mencegah kemenangan bagi sosok misterius itu.
__ADS_1
Jadi Andreas memutuskan untuk segera melakukan langkah selanjutnya secepat mungkin.