
Brak!!
Suara dobrakan pintu pada kamar Andreas terdengar begitu kencang, seorang laki-laki dengan tubuh tinggi besar menggunakan kakinya untuk menendang pintu itu hingga roboh, engsel-engselnya daun pintu itu langsung terlepas begitu saja.
Andreas yang tertidur terkejut mendengar hal itu dan ia pun langsung bangun.
Belum sempat ia mendudukkan dirinya, laki-laki bertubuh tinggi besar itu langsung menarik kaki kanannya dengan paksa, jatuh dari ranjang dengan ketinggian 60 sentimeter.
Kepalanya terbentur lantai dengan cukup keras hingga membuatnya mengeras kesakitan.
“Hei! Apa yang kau lakukan?!” teriak kencang Andreas pada laki-laki itu sambil menahan nyeri, ia memegangi kepalanya ada sedikit darah yang keluar dari sana.
Laki-laki itu terus menyeret Andres keluar kamar dan melewati lorong mansion, beberapa pelayan dan orang yang berada di sana hanya diam saja saat Agras diperlakukan seperti itu.
Bahkan saat Lalita melihatnya ia tak bisa melakukan apapun, karena laki-laki itu dikirim memang untuk Andreas.
Karena waktu masuk Menara Sihir diperpanjang hingga dua minggu ke depan, dan Andreas tak melakukan apapun jadi kedua orang tuanya meminta Andreas untuk berlatih menggunakan pedang.
Sementara itu Andreas mencoba memberontak, menggerakkan kaki dan tubuhnya yang kini sudah seperti pel lantai, tetapi tak ada perubahan apapun, laki-laki itu tetap saja menarik paksa tubuh Andreas.
“Lepaskan aku!” Andreas kembali berteriak pada laki-laki itu.
Tak berapa lama mereka sampai di luar pintu mansion, laki-laki itu menghentikan langkahnya, tetapi cengkraman pada kaki Andreas diperkuat, sedetik kemudian ia meleparkan Andreas begitu kencang hingga tubuh Andreas membentur sebuh pohon yang berjarak hampir lima puluh meter di depan.
Andreas terpental dari pohon itu dan jatuh ketanah, dari jaraknya laki-laki itu melompat dan dengan cepat sampai di depan Andreas yang masih belum bisa membangunkan dirinya karena merasakan sakit disemua anggota tubuhnya.
Kepalanya masih terasa nyeri dan sedikit berdarah, tulang punggungnya terasa retak begitu juga kakinya yang mungkin patah.
“Saat kau begitu nyenyak tidur, orang-orang hebat di luar sedang berusaha mengunggulimu,” ujar laki-laki itu, kemudian ia meleparkan botol cairan obat berukuran seibu jari pada Andreas. “Minum, Ayah dan Ibumu mengatakan padaku untuk tidak membunuhmu. Memang anak yang manja.”
Andreas mengambil botol itu dan meminumnya, setelah kira-kira tiga teguk tubuhnya seolah kembali seperti semula bahkan jauh lebih sehat dari sebelumnya, ini pertama kalinya ia menggunakan ramuan penyembuh itu.
Sepertinya ramuan itu dari keluarga sang ibu. Ramuan itu sangat berguna untuknya, terasa seperti air putih biasa sebenarnya sedikit manis juga hambar.
__ADS_1
“Kau ini siapa? Dan apa yang kau lakukan padaku?” tanya Andreaa setelah merasa bahwa tubuhnya terasa pulih.
“Apa Ayah dan Ibumu tak mengatakannya padamu?” laki-laki itu balik bertanya pada Andreas.
Andreas menggelengkan kepalanya.
Bukannya menjawab pertanyaan A, laki-laki itu malah mengumpat seolah ia sedang kesal dengan apa yang terjadi.
“Aku harus mengenal diri, padahal aku tak menyukainya,” sambung laki-laki itu. “Namaku Lotra guru berpedang dan bertempurmu.”
Guru berpedang dan bertempur. Andreas mulai menyadari hal itu, Ayah dan Ibunya padahal tak mengatakan bahwa akan datang guru baru untuk mengajari dirinya bertarung.
Padahal selama ini Andreas yakin ia bisa bertarung tanpa guru berpedang, meskipun di Menara Sihir memang tidak ada hal itu.
Dan sebenarnya selama ini ia juga sudah bertarung, bahkan ia sudah bisa menggunakan darahnya tanpa harus mengeluarkan mana.
Namun, mungkin orang tuanya ingin yang terbaik untuknya. Apalagi dengan terbukanya pelindung Sihir itu memungkinkan banyak musuh yang datang.
“Baiklah Tuan Lotra, sebagai guru yang baik harusnya kau tak melakukan itu pada muridmu,” kata Andreas ia kini mencoba bangun, sejajar dengan Lotra.
“Aku memiliki mulut untuk berbicara dan itu harus aku lakukan, dari pada aku diam saja keadaan akan terasa canggung nanti, lagi pula berbicara dan banyak bicara itu berbeda," ucap Andreas.
“Dalam pertempuran banyak bicara tak akan membantu apapun.”
“Siapa bilang? Omongan mampu mempengaruhi pikiran seseorang, itulah gunanya memiliki mulut,” ujar Andreas lagi.
Lotra menyungging senyum mendengarkan omong Andreas itu, seperti yang Alfred katakan bahwa anak yang akan menjadi muridnya bukanlah anak biasa.
Cara bicaranya dan bagaimana ia menanggapi lawan begitu menarik perhatian, dari apa yang dia katakan terlihat jelas bahwa ia memiliki pemikiran yang cukup luas, seolah dalam dirinya bukanlah anak yang berusia sebelas tahun.
“Bersihkan tubuhmu dan aku tunggu sepuluh menit lagi untuk latihan di belakang mansion” kata Lotra seolah memerintah Andreas.
Andreas hanya mengangguk mendengar ucapan Lotra itu dan kemudian ia pun berlari secepatnya menuju kamarnya.
__ADS_1
Lalu ia membersihkan dirinya, ia merasa seperti seorang prajurit yang tinggal di asrama, seorang komandan menyuruhnya untuk bergegas.
Sementara itu Lotra adalah seorang laki-laki dari kota di Wilayah kekuasaan Liones, yang tak lain paman Andreas, ia dikenal sebagai raksasa dari barat karena tubuhnya yang begitu tinggi dan juga besar, otot-ototnya gempal seolah di dalam otot itu ada ototnya lagi.
Selain itu ia juga memiliki kekuatan yang cukup hebat, ia ahli berpedang dan juga bertempur meskipun ia tak pandai menguasa sihir.
Kekuatannya sudah terkenal diseluruh penjuru kerajaan, ia bahkan pernah menggali tanah untuk membuat aliran sungai dari laut menuju desa di dekat kota.
Padahal jaraknya beberapa puluh mil, ia lakukan itu hanya dalam waktu dua hari saja. Ia mampu melompat jarak 100 meter, konsep yang ia gunakan adalah ular.
Selain itu juga Lotra juga pernah mengalahkan seribu werewolf seorang diri ketika mereka mencoba menghancurkan ibu kota, ia kembali dalam keadaan hidup tak kekurangan satu pun bahkan tak ada luka yang menggores di tubuhnya.
Dengan terkenalnya itu ia pun ditakuti banyak orang, baik vampir maupun werewolf.
Namun, Lotra sudah lama pensiun sejak ia merasa tubuhnya merasakan sakit dibagian dalam, dan sebelah matanya yang buta.
Meskipun begitu ia tetap pandai dalam hal berpedang.
Ketika ia mengambil resiko untuk menjadi seorang guru berpedang bagi Andreas sebenarnya istrinya sedikit khawatir, apalagi ia meninggalkan istri dan anaknya di luar wilayah, tetapi demi tugas mulia dan untuk menjadi seorang guru.
Untung saja istrinya mengerti situasi apa yang terjadi dan sang istri bisa menjelaskan pada anaknya yang ingin sekali ikut dengan dirinya.
Tiga hari setelah diminta Alfred untuk datang seorang utusan mengetuk pintu rumah Lotra dengan mengirimkan surat sebagai pesan yang cukup penting, saat itu malam belum begitu larut Lotra dan sang istri, belum tidur. Lotra masih sibuk mengurus pedang dan alat bertarung miliknya yang lain.
“Surat dari siapa?” tanya siang istri pada Lotra.
“Dari penampilannya sepertinya salah satu pelayanan Liones,” ujar Lotra kemudian ia membuka surat itu dan membaca isinya. “Liones memintaku untuk pergi ke rumah Alfred, kakaknya dan mengajar anaknya.”
Sang istri yang mendengar hal itu sedikit terkejut karena selama ini yang ia tahu bahwa Lotra tak pernah sekalipun memiliki seorang murid, ia adalah tipikal laki-laki yang tak sabaran hanya dengan istri dan anaknya saja ia bisa lembut dan luluh, kini ia mengatakan bahwa diminta untuk mengajar seseorang yang pasti menjadi guru berpedang.
Keesokan harinya Lotra membalas kiriman surat untuk Liones di dalam surat itu ia mengatakan bahwa akan menerima tawaran mengajar anak dari Alfred.
Setelah itu ia pun pergi dari wilayahnya menuju ke Alfred, perjalan menuju kesana cukup sulit, karena ia hanya berjalan kaki saja.
__ADS_1
Namun, ia bisa menaklukan itu dengan mudah dan sampai di kota tempat Alfred berada tanpa luka sedikit pun.
Begitu sampai di mansion akhirnya ia tahu bahwa muridnya hanyalah anak kecil.