SISTEM VAMPIR ABADI

SISTEM VAMPIR ABADI
009 - TIGA TAHUN KEMUDIAN


__ADS_3

“Andreas.”


Andreas mengucek matanya, mencoba bangun dari tidur nyenyaknya. Begitu matanya terbuka sepenuhnya, ia merasakan berada di tempat yang cukup asing baginya.


Ia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Tempat gersang dan tandus, yang tak asing baginya. Sepertinya ia pernah melihat hal itu.


“Kerajaanku,” gumamnya. “Mengapa aku ada disini? Apa aku bermimpi? Sistem, kau ada di mana?”


Andreas bingung karena ia kembali lagi ke kerajaannya dulu yakni seribu tahun lalu, saat kemungkinan dirinya masih berada di sana.


“Andreas.” Sebuah suara memanggilnya lagi.


“Siapa itu?” tanya Andreas bingung dengan sebuah suara yang sejak tadi memanggilnya dan malah membangunkannya.


Kemudian seorang perempuan dari kaum vampir berada di depannya, memegang dagunya dengan perlahan.


Andreas diam saja tak menolak atau mengatakan apapun, tetapi tiba-tiba saja air matanya menetes perlahan membasahi pipinya.


“Ibu merindukanmu,” ujarnya perempuan itu yang ternyata Ibu Andreas.


“I-Ibu, mengapa Ibu ada di sini? Bukankah Ibu sudah tiada?” Kini Andreas bertanya lagi.


“Siapa bilang Ibu telah tiada, sejak dulu Ibu tetap berada di pikiranmu, Ibu hidup abadi di sana,” kata perempuan itu lagi. “Kau merindukan Ibu, bukan?”


Andreas hanya bisa mengangguk mendengar apa yang dikatakan perempuan yang mengaku ibunya tadi.


Sudah sangat lama ia merindukan sang ibu, kematian ibunya lah yang membuat dirinya dingin dan seolah tanpa perasaan. Ibunya yang menjadi cinta pertamanya, orang pertama yang selalu peduli padanya.


“Kau mau ikut Ibu?”


Lagi-lagi Andreas hanya bisa mengangguk saja mendengar hal itu. perempuan itu mengulurkan tangannya, lalu Andreas meraihnya. Ia pun bangkit berdiri.


Mengikuti langkah perempuan itu, tetapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit, hingga membuatnya tak kuasa menahan rasa sakit itu.


Rasa sakit kepala itu seperti dibenturkannya kedinding berulang kali, hingga otak di dalamnya berguncang dengan hebat.


Ia melepaskan tangan perempuan, itu lalu memegang kepalanya. Perempuan itu terus memanggilnya yang membuat kepala Andreas semakin terasa sakit.


Kemudian Andreas berteriak sangat kencang hingga membuatnya tersadar dan bangun. Ternyata semua itu hanya mimpi saja.


Meskipun itu mimpi. Namun, mengapa terasa begitu nyata? Rasa sakit kepala itu meskipun sudah hilang, tetapi ia masih bisa merasakannya.

__ADS_1


“Sistem, kau di sana?” tanya Andreas memanggil sistemnya.


[Ada apa, Tuan?]


“Aku mimpi buruk. Kau bisa mencari tahu apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang akan terjadi.”


[Pencarian dilakukan ... Pencarian selesai. Tak ada masalah yang terjadi, itu hanya mimpi buruk dan juga kerinduan Tuan terhadap Ibunda. Namun, karena banyak hal yang bergesekan rasa sakit itu muncul, hingga menyebabkan Tuan mengalami mimpi buruk itu. Ada sakit hati yang tak kunjung sembuh]


Rasa sakit hati yang tak kunjung sembuh?


Andreas tak paham apa maksudnya, ia merasa selama ini biasa saja, tak ada masalah. Sejak kecil hingga kematiannya, ia tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan tertutup.


Ia tak peduli dengan masalah sekitar, apalagi yang tidak menyangkut masalahnya. Mungkin hanya tentang kematian Ibunya yang sebelumnya begitu menderita karena sakit parah.


Selebihnya tak ada. Atau memang ia melupakan sesuatu, ia pun sampai lupa hal itu, yang pasti  tak ada masalah apapun yang ia ingat.


Setelah itu ia memutuskan untuk kembali tidur, karena malam masih cukup panjang. Ia perlu mengistirahatkan dirinya sendiri kini.


***


Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa Andreas kini sudah berusia 10 tahun yang berarti sudah tiga tahun berlalu, sejak dirinya merasa ada yang tidak beres dengan kerajaan yang kini ia tinggali.


Namun, dalam jangka waktu selama itu, ia tak melakukan apapun, karena memang bukan haknya melakukan perubahan, mungkin ia hanya perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Orang tuanya juga sudah sudah menyadarinya sampai semua ilmu ia dapatkan. Hingga kini membuat Andreas merasa sangat bosan sekali.


Beberapa tahun yang berlalu begitu saja itu juga, karena tidak memiliki teman lainnya Andreas banyak menghabiskan waktu dengan ayah dan ibunya yang merupakan keturunan vampir murni.


Yang merupakan penyihir darah yang ternyata sangat ditakuti oleh banyak orang, tetapi keduanya menyembunyikan identitas aslinya, jadi tidak banyak yang tahu.


Selain itu Andreas yang memiliki ingatan dari masa lalunya, mendapati bahwa sihir di zaman ini jauh menurun dibandingkan dengan zamannya dulu. Jadi ia dengan mudah mempelajari sihir milik ayah dan ibunya.


Saat ini dipandanginya bulan malam dari kamar tidurnya. Ia kini duduk di atas tempat tidur, ia merasa bosan, karena sejak pagi tadi tak ada hal yang harus ia kerjakan.


“Belum tidur?” tanya sebuah suara.


Andreas membalikkan tubuhnya mendapati Lalita berdiri di ambang pintu seperti biasanya.


“Belum mengantuk, ada apa, Ibu?” tanya balik Andreas.


“Ayah dan Ibu ingin berbicara padamu, datangi kami ke ruang keluarga.”

__ADS_1


Andreas mengangguk.


Setelah itu ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar, untuk menemui kedua orang tuanya.


Sepertinya mereka ada hal penting yang ingin sekali dibicarakan, karena tak biasanya mereka melakukan hal itu.


Saat sampai di ruang keluarga disana sudah ada ayah dan ibunya. Andreas duduk di dekat mereka.


“Ada apa Ayah, Ibu?” tanyanya kemudian untuk membuka percakapan.


“Ayah rasa kau sudah tumbuh dewasa, semua kekuatan dan sihir sudah Ayah serta Ibumu berikan padamu, saat ini sudah tak ada lagi yang bisa kami lakukan, jadi kami memutuskan untuk mengirimmu ke menara sihir,” jawab Alfred kemudian.


“Menara sihir? Di mana itu?”


Kemudian Alfred mengatakan bahwa menara sihir adalah tempat sekolah bagi banyak bangsawan, di sana mereka mempelajari sihir, kekuatan hingga bagaimana caranya menjadi seorang bangsawan yang baik.


Andreas harus melakukan hal itu supaya ia bisa bersanding dengan bangsawan yang lainnya, supaya ia memiliki derajat yang sama dengan mereka, meskipun peringkat mereka berbeda.


“Kapan aku bisa pergi ke sana?” tanya Andreas begitu Alfred selesai dengan perkataannya.


“Satu minggu lagi, karena Ayah harus mengurus surat masukmu ke sana, jadi saat sudah di sana kau hanya perlu tes masuk saja.”


“Apa kau tak merasa keberatan jauh dari Ayah dan Ibu?” Kini Lalita yang bertanya.


Andreas menggeleng, lalu berucap, “aku tahu itu hal terbaik yang bisa aku lakukan. Aku ini anak bangsawan aku harus bersanding dengan mereka, bukan? Untuk hal itu Ayah dan Ibu tak perlu merasa khawatir. Akan aku lakukan apapun yang kalian inginkan.”


Alfred dan Lalita sudah tak heran lagi dengan perkataan Andreas lagi, karena sejak awal mereka sudah menyadari bahwa Andreas pasti memiliki pemikiran yang begitu dewasa, maka dari tak heran ia bisa setenang itu untuk menjalani semuanya.


***


Setelah pembicaraan itu selesai mereka pun kembali ke tempat mereka masing-masing, Andreas ke kamarnya begitu juga dengan Alfred dan juga Lalita.


Saat berada di dalam kamar Lalita sebenarnya masih memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada Andreas.


Dalam sepuluh tahun sejak Andreas lahir, ia selalu berada di sekeliling keluarganya. Ia hidup dengan tenang selama ini bersama mereka.


Sebagai seorang ibu rasanya Lalita tak bisa begitu jauh dari Andreas, tetapi harus ia lakukan, semua demi kehidupannya di kemudian hari.


“Kau masih memikirkan hal itu?” tanya Alfred kemudian, saat menyadari bahwa Lalita masih saja diam. “Bukankah kau yang menginginkan Andreas pergi ke Menara.”


“Memang aku yang mau dia pergi, tetapi sebagai Ibu aku begitu khawatir. Ia anak kita satu-satunya. Aku tak mau kehilangan dia.”

__ADS_1


“Tak akan ada yang kehilangan Andreas, ia ke Menara hanya untuk beberapa tahun. Ia di sana untuk menempuh pendidikan, sebagai seorang bangsawan dan juga penyihir setelah itu ia pasti akan kembali.”


Lalita lalu menarik napas panjangnya, dan berusaha merelakan kepergian Andreas nanti, yang masih akan terjadi sekitar satu minggu lagi, waktu yang masih cukup lama.


__ADS_2