
Semenjak hari itu, Andreas menjadi pengajar bagi para siswa. Pemuda itu dengan penuh percaya diri melangkah menyusuri koridor menggunakan seragam para guru. Yakni jubah panjang berwarna putih lengkap dengan hiasan sutra emas di setiap tepiannya.
“Oy, Andreas! Seragam guru mana yang kau curi?” tanya Edmund begitu mereka melangkah beriringan menuju kelas. Pemuda itu merangkul bahu Andreas dengan akrab seperti biasa. Namun kali ini Andreas menyingkirkan lengan pemuda itu dari atas jubahnya. Dia tidak mau jubah barunya kotor karena Edmund yang begitu ceroboh..
“Aku tidak mencuri jubah guru manapun. Ini adalah jubah milikku sendiri,” jawab Andreas dengan nada sedikit ketus.
“Ahahahaa!!” Kedua sahabatnya itu justru tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Andreas. Jelas mereka berpikir saat ini Andrea sedang bercanda dengan mereka.
“Lucu banget lelucon kamu kali ini, Andreas!!” kata Raquel di sela tawanya.
“Ya sudah kalau tidak percaya,” ucap Andreas yang kemudian dengan santainya melangkah pergi mendahului kedua sahabatnya.
“Siang semuanya!” Ucap Andreas begitu memasuki ruang kelas.
Penampilan Andreas yang datang sembari memakai jubah seragam para guru langsung mengejutkan semua murid. Mereka semua menatap Andreas dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan sorot mata tidak percaya.
“Ini..., Andreas Kenapa memakai seragam guru? Kamu mencuri seragam dari guru mana, Andreas?!” Tanya salah seorang murid yang tidak percaya kepada apa yang baru saja dia lihat. Sama seperti Edmund, dan Raquel tadi.
“Haahhh! Karena kalian meragukan ku aku akan menunjukkan hal ini,” ucap Andreas dengan tenang.
Pemuda itu mengambil sebuah gulungan dari balik lengan baju. Dia mengibaskannya satu kali hingga muncul gulungan yang sama di hadapan semua murid. Gulungan itu dikelilingi oleh cahaya-cahaya lembut yang begitu memukau mata. Di atas kertas gulungan itu terlihat jelas tanda tangan sang kepala sekolah yang menyetujui Andreas menjadi guru pengajar mulai saat ini.
“Ini ... Bagaimana mungkin Andreas bisa menjadi guru dalam waktu semalam?!” Gumam salah seorang murid.
Ruang kelas pun menjadi riuh karena anak-anak ngobrol dan membicarakan hal ini. Kebanyakan dari mereka terkejut dan tidak percaya melihat Andreas yang dahulu duduk bersama mereka sebagai seorang murid berubah menjadi guru yang akan mengajari mereka ilmu sihir.
“Apa yang kalian lihat kemarin di lapangan tempat berlatih masih kurang?” Tanya Andreas sembari membolak-balik kertas di atas meja. Pemuda itu masih saja mengulas senyum manis sembari menatap satu persatu aja di dalam ruangan.
“Yang kemarin itu memang menakjubkan tetapi tidak mungkin kau diterima menjadi guru hanya karena satu sihir menakjubkan yang tidak disengaja ‘kan?!” protes seorang murid laki-laki dengan lantang..
__ADS_1
“Andreas, kita memang bersahabat. Tetapi tidakkah menurutmu hal ini sudah kelewatan untuk dijadikan bahan candaan?” Edmund ikut berkomentar. Pemuda yang sudah lama bersahabat dengan antrian ini juga ikut tidak percaya bahwa Andreas kini menjadi guru mereka.
“Baiklah. Kalian yang memaksaku menunjukkan hal ini,” kata Andreas dengan sorot mata tajam. Sedetik kemudian pemuda itu menunjukkan senyum yang begitu mengerikan.
Perlahan Andreas berubah menjadi sosok yang begitu besar kemudian menyibakkan jubahnya yang lebar di hadapan semua murid di dalam kelas. Murid-murid ini pun tenggelam dalam ilusi yang diciptakan oleh Andreas. Mereka semua terjebak di dalam mimpi buruk masing-masing.
Sementara Andreas yang asli kembali ke ukuran semula dan duduk dengan santai di balik meja kerjanya. Pemuda itu menyaksikan dengan tenang beberapa murid berteriak histeris. Bahkan ada murid perempuan yang sampai menangis. Meski begitu Andreas tidak merasa iba sama sekali. Dia hanya menjentikkan satu jarinya dan mereka pun tenang kembali.
Dalam setiap mimpi yang mengerikan itu muncul sosok Andreas yang akan dengan santainya mengatakan, “Inilah akibat yang akan kamu terima jika kamu tidak mempercayai sang penyihir agung.”
Dan setiap kali seorang anak selesai melihat sosok Andreas yang demikian mengerikan mereka akan terbangun dengan seketika. Kemudian disambut senyum ringan dari Andreas yang duduk dengan manis di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu.
“Wah! Ketua kelas! Kamu menjadi orang pertama yang tersadar. Kamu cukup hebat juga,” komentar Andreas sembari melakukan kontak mata yang begitu lekat pada pemuda yang berstatus sebagai ketua kelas.
Pemuda itu banjir keringat. Nafasnya bahkan sampai tersenggal-senggal sebab harus mengalami ilusi yang demikian mengerikan hanya dalam waktu hitungan detik. Dia bahkan tidak berani menatap mata Andreas terlalu lama sebab Kini dia sadar sejauh mana kemampuan sihir Andreas.
“Maaf semuanya. Kalian semua terpaksa mengalami ilusi yang demikian mengerikan meragukan kemampuanku Meski aku sudah menunjukkan surat keterangan kerjaku dari kepala sekolah,” ucap Andreas dengan nada santai.
Guru muda itu berjalan perlahan di setiap lorong murid-muridnya yang masih ketakutan. Meski nada bicaranya begitu santai dan tenang murid-murid remaja itu kini sadar seberapa berbeda tingkat kekuatan mereka dengan guru muda ini.
“Nah, karena sekalian sekarang sudah mengerti mari kita mulai pelajarannya,” lanjut Andreas sembari menjentikkan jari satu kali untuk memunculkan seekor ular hijau di dalam kotak kaca kecil.
Pada hari pertama, pemuda itu membuat semua siswanya itu mempelajari banyak sihir tingkat tinggi dan menakutkan untuk para pelajar di zaman ini. Para siswa itu juga sangat setia dengan Andreas setelah hari-hari mereka lalui dan membuat mereka semakin yakin bahwa Andreas memang guru yang berbakat.
“Eh! Kau dengar kelas junior tingkat dua? Aku dengar mereka semua mengalami kemajuan yang sangat pesat Karena Guru muda itu!” Bisik para murid senior tingkat atas ketika Andreas melewati mereka.
“Benarkah?! Padahal baru beberapa hari dia mengajar! Aku bahkan mendengar salah satu muridnya sudah ada yang berhasil terbang dan mengendalikan kekuatannya dengan cukup baik Bukankah itu kemajuan yang begitu mengejutkan?!” sahut yang lainnya.
Kabar perihal kelas junior yang kini memiliki kekuatan sihir yang begitu kuat langsung menyebar dengan cepat seperti wabah. Kebanyakan dari mereka tidak percaya penyihir junior itu kini memiliki tingkat ilmu yang menyamai penyihir kelas tinggi. Beberapa dari mereka ada yang diam-diam mengagumi sosok Andreas sebab kemampuannya mengajar yang di luar rata-rata.
__ADS_1
“Eh!! Itu ‘kan murid junior tingkat dua!! Lihat! Lihat! Mereka sedang berlatih di lapangan belakang menara!!”
Murid-murid dari kelas lain sibuk memperhatikan murid Andreas. Mereka penasaran ingin melihat kemajuan apalagi yang diperbuat oleh murid-murid junior tersebut.
Siang itu di lapangan yang luas Andreas menciptakan sebuah gunung berapi dari dalam tanah. Semua orang terpaku saat merasakan tempat mereka berpijak bergetar dengan kuat. Bahkan ada yang ketakutan sebab mengira itu adalah gempa sungguhan. Namun tidak begitu hanya dengan murid-murid Andreas yang berdiri dengan tenang sembari mengawasi gunung berapi itu berproses, berdiri menjulang.
“Nah! Gunung ini sudah selesai dibuat. Misi kalian hari ini adalah menghentikan lava yang keluar dari gunung agar tidak melukai orang-orang dan juga merusak properti menara. Kalian mengerti?!” Ucap Andreas dengan suara yang dibuat bergema dengan sihir.
“MENGERTI, GURU!!” Jawab mereka semua serempak.
Begitu murid-muridnya menjawab Andreas langsung terbang menyingkir sebab ketik itu juga gunung api memuntahkan lava yang begitu banyak.
Murid-murid muda itu langsung menyebar ke segala arah mereka membuat dinding pertahanan dan melakukan kerjasama yang jarang dilakukan antar murid yang lain. Bahkan ada yang berani terbang di atas lava dan mencoba memadamkan lava itu dengan kekuatan sihir maupun guyuran air yang begitu besar.
“WOAH!! Lihat cara mereka belajar!!! Mereka bahkan bisa terbang dengan menciptakan Medan kekuatan lain. Bukankah itu mengagumkan?!”
“Ya ampun!! Gunung dan Lavanya terlihat begitu nyata!! Bagaimana kalau lava itu mengenai kita?!”
Beragam komentar bermunculan dari murid-murid yang menonton latihan. Mereka takut melihat latihan murid-murid junior itu yang begitu ekstrem. Mereka juga penasaran dengan cara latihan sekaligus hasil yang akan murid-murid junior itu dapatkan.
Saat mereka sedang asyik menonton mendadak ada aliran lava yang mendekat ke arah mereka. Dengan gesit salah seorang murid junior itu berdiri di atas lava dan menciptakan medan penghalang yang begitu kuat.
“Kakak-kakak sekalian, bisa tolong minggir sedikit? Atau setidaknya ciptakan Medan penghalang kalian sendiri, dong!! Kami sedang melakukan simulasi kiamat, nih!! Mohon bantuannya sedikit, ya!” Ucap atman setelah menciptakan medan penghalang. Pemuda itu bahkan masih sempat bercanda dan menggoda para gadis seniornya.
“EDMUND!!” Teriakan Andreas dari sudut lain membuat Edmund seketika terbang menjauh sembari melambaikan tangan dengan senyum genit.
Murid-murid junior itu terlihat begitu santai saat sedang latihan. Padahal murid-murid lain yang menonton sudah begitu tegang sekaligus kepanasan sebab lava itu memang sungguhan.
Latihan hari itu sudah selesai setelah jam makan siang. Meski latihan kali ini cukup lama tetapi hasilnya cukup memuaskan. Latihan kali ini menanamkan doktrin baru di kepala murid-murid yang lain bahwa untuk sukses dalam suatu misi besar kerjasama lebih diutamakan dibandingkan dengan kemampuan yang begitu mengagumkan.
__ADS_1