SISTEM VAMPIR ABADI

SISTEM VAMPIR ABADI
044 - MENGATAKAN YANG SEBENARNYA


__ADS_3

Setelah mendapatkan semua informasi itu, Andreas tidak lagi menyembunyikan kekuatannya dan kecerdasannya. Pemuda itu melangkah keluar dari perpustakaan dengan gesture yang begitu tenang. Bahkan senyum merekah misterius di wajahnya yang pucat.


“Oy, Andreas! Di sini kau rupanya! Kami sudah mengelilingi menara ini tujuh puluh kali hanya untuk mencarimu tau’!” cerca Edmund begitu mereka sampai di hadapan pria pucat itu.


“Iya! Edmund benar! Rupanya kau malah asyik mengurung diri di dalam perpustakaan!” timpal Racquel sembari cemberut, kesal.


“Mana mungkin kalian bisa mengelilingi menara yang begitu besar ini hingga tujuh puluh kali?! Kalian kan pemalas!! Paling baru berjalan beberapa meter saja kalian sudah duduk-duduk kembali sembari memakan camilan!” sahut Andreas sembari tersenyum jahil.


Ketika sahabat itu pun bercanda sembari menyusuri lorong. Saat ini mereka sedang menuju lapangan di belakang menara untuk melakukan tes berikutnya.


Saat ketika pemuda itu memasuki tempat berlatih orang-orang seketika mengalihkan pandangan kepada mereka. Sebab raut wajah mereka bertiga yang begitu mempesona.


“Kali ini kita akan latihan melumpuhkan target menggunakan kekuatan sihir berupa petir dari tongkat masing-masing!” Sang guru yang mengajar di depan kelas menunjukkan contoh dengan penuh semangat.


Perlahan guru itu mengeluarkan petir dari sela-sela telapak tangannya kemudian diarahkan kepada target yang sudah diberi tanda merah di tengah pohon besar. Anak-anak muda itu terkagum-kagum melihat sang guru berhasil mengenai target dengan dentuman yang cukup keras.


“Nah, itu hanya contoh kecil. Sekarang kalian cobalah!” Perintah sang guru sembari tersenyum penuh kebanggaan.


Satu persatu anak-anak muda itu maju dan berusaha mengeluarkan elemen petir dari telapak tangan mereka. Ada beberapa anak yang gagal mengeluarkan elemen petir meski sudah mengucapkan mantra yang sama. Ada yang berhasil mengeluarkan petir namun dia tidak bisa mengendalikan petir itu hingga nyaris melukai rekannya.


Nah tibalah giliran ketiga pemuda dengan visual paling tampan yaitu Andreas dan kedua rekannya. Edmund yang terkenal suka bercanda langsung berhasil di percobaan pertama. Sementara Raquel harus berusaha keras lebih dulu untuk menciptakan petir itu di sela-sela telapak tangannya. Namun saat petir sudah terbentuk petir itu berwarna kemerahan dan cukup menakutkan. Namun tanpa ragu pemuda itu mengarahkan petir kepada target di pohon. Seketika..., BRAAKK!!


Pohon itu hancur tak beraturan karena serangan yang begitu besar dari petir Raquel. Seketika semua orang bersorak riang melihat betapa kuat serangan itu.


“Nah! Sekarang hanya tersisa Andreas. Yaahh, saya tidak berharap banyak kepada kamu, sih. Tapi yaahh, silahkan dicoba!” Tutur sang guru saat Andreas maju ke tengah lapangan.


Pria dewasa yang berprofesi sebagai guru latihan praktek itu nampak jelas sangat meragukan kemampuan Andreas yang selama ini begitu cupu. Namun Pemuda berkulit pucat itu tidak menghiraukan ucapan sarkasme dari sang guru. Sebab Dia mulai berkonsentrasi mengumpulkan energi.

__ADS_1


Pertama Andreas menatap target dengan sorot mata bengis. Pemuda itu mengumpulkan beragam energi sehingga seluruh dedaunan ikut berterbangan tak tentu arah. Kemudian perlahan petir bergemerisik dari sela-sela kedua telapak tangannya.


Semua murid mulai ikut tegang sebab langit pun bahkan mulai mendung saat Andreas mengumpulkan energi dari sekitar. Dan yang lebih mengerikan lagi, saat pemuda itu mengarahkan kekuatan pada pohon justru petir yang asli turun langsung dari langit.


“AAKKHH!!”


Seketika anak-anak muda itu berteriak kaget melihat petir yang demikian dahsyat mengenai pohon besar yang mereka gunakan untuk latihan. Pohon besar yang berusia puluhan tahun itu bahkan sampai hancur lebur berubah menjadi abu.


Semua orang terpaku melihat pohon yang berubah jadi abu itu kemudian berganti menatap pada Andreas yang berdiri dengan wajah polos seakan tanpa dosa.


“ups,” lirih Andreas pelan. Namun sorot wajah pemuda itu terlihat tidak menunjukkan rasa menyesal sedikitpun.


Perlahan dengan santai Andreas berjalan menuju barisannya, dan berdiri dengan tenang di sisi kedua sahabatnya. Mengabaikan tatapan heran dari semua orang.


Karena sikap Andreas yang terlalu berlebihan menunjukkan kekuatan akhirnya dia dipanggil oleh penyihir tertinggi atau biasa dipanggil Guru utama di menara Sihir. Pria lanjut usia itu memakai jubah putih lengkap dengan rambut panjang yang sudah memutih.


“Andreas, ya?” Gumam sang Guru besar.


“Iya, guru.” Jawab Andreas sopan.


“Mulai hari ini kamu akan diangkat menjadi salah satu guru pengajar di menara sihir ini,” ucap sang Guru besar dengan nada penuh keyakinan.


“HAH?!” Seketika guru kelas dan juga guru pelatihan ilmu sihir menatap heran kepada sang Guru besar. Mereka tidak menyangka sang Guru besar yang begitu agung langsung mengambil keputusan ekstrim hanya karena Andreas melakukan sihir mengagumkan sekali saja.


“Saya terima tawaran guru besar dengan senang hati,” jawab Andreas sembari mengulas senyum manis.


Seketika para guru menatap Andreas dengan wajah syok. Mereka tidak menduga pemuda itu berani menerima tawaran yang demikian butuh tanggung jawab besar.

__ADS_1


“Tunggu guru, agung! Anda tidak bisa meminta seorang murid yang masih muda untuk menjadi tenaga pengajar hanya karena dia melakukan satu kali sihir yang begitu menakjubkan!!” protes sang guru pelatih.


“Kau meragukan keputusanku?” tanya sang Guru besar sembari menatap tajam pada guru lelaki itu.


“Bu- bukan begitu, guru! Tetapi-“


“Apa kau bisa memakai sihir kuno?” Protes sang Guru pelatih langsung disela oleh sang atasan.


Pria tua yang menjabat sebagai guru utama itu menetap sang Guru pelatih dengan sorot mata kesal. Sebab Dia tidak suka keputusannya diragukan meski dia sudah bisa melihat kemampuan Andreas lewat mata batin.


“Ma- maksud guru adalah sihir kuno untuk menciptakan makhluk hidup dari udara yang tipis?” tanya sang guru pelatih mulai panik.


“Benar. Itu adalah salah satu contoh sihir kuno yang sederhana. Apa kau bisa melakukannya?” Sekali lagi sang Guru tertinggi menatap sosok di hadapannya dengan sorot mata mengejek.


“I- itu kan sihir kuno yang sudah lama sirna, Tuan Guru. Bagaimana mungkin ada orang yang masih bisa menggunakan sihir itu kecuali guru dan para pendahulu,” jawab sang Guru pelatih. Nampak jelas dia sedang menjilat karena ingin menghibur guru tertinggi ini.


“Kau salah. Aku juga tidak bisa memakai sihir kuno itu,” kata sang pria tua dengan sorot mata sendu. “Kalau aku bisa menggunakannya sudah pasti akan aku hidupkan kembali burung hantu kesayanganku.”


Sorot Mata sang Guru besar berubah sendu, penuh kesedihan. Seketika hal ini membuat semua orang yang ada di dalam ruangan sang Guru utama terdiam. Mereka semua kehilangan kata-kata untuk menghibur maupun berbicara kepada orang nomor satu di menara sihir tersebut.


Sssssshhh. Saat semua orang terdiam mendadak terdengar suara berdesis yang cukup jelas. Semua orang menatap pada satu titik Di mana tempat Andreas berdiri. Pemuda itu sedang menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya hingga menimbulkan beberapa baris cahaya kebiruan yang begitu memukau mata.


Saat semburat cahaya kebiruan itu menghilang muncullah seekor burung hantu jenis tyto Alba yang begitu memukau dengan warna putihnya. Burung itu menolak ke sana ke mari seakan menatap dengan seksama kepada semua orang yang ada di dalam ruangan. Kemudian dengan pasti dia terbang menuju sang tuan. Yaitu sang Guru besar yang kini berdiri dengan mulut menganga.


“Tyo!” Sang Guru langsung mengelus kepala burung hantu putih itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia tidak menyangka burung kesayangannya yang sudah hidup ratusan tahun dengannya kini bisa dia sentuh lagi.


“I- itu..!!” Kedua guru lain di dalam ruangan itu sampai terbata-bata dan kehilangan kata-kata melihat kejadian yang baru saja terjadi. Mereka tidak menduga akan melihat kembali sihir kuno yang sudah lama sirna.

__ADS_1


Kini mereka tidak berani lagi meragukan kekuatan seorang Andreas. Sebab setelah melakukan sihir yang begitu menakjubkan pemuda itu tetap melangkah keluar dari ruangan dengan senyum yang begitu rendah hati.


__ADS_2