
sinar matahari menerobos melalui jendela kamar. awal yang baru dimulai kedua insan yang sekarang berstatus suami istri.
sudah sebulan pernikahan mereka berjalan Milly dan Max masih dengan rutinitas mereka masing-masing. Milly tetap bekerja seperti biasanya, yang berbeda kini hanya, ia sudah tidak tinggal dengan Elianora, si kembar dan Janeta lagi.
dua hari setelah pernikahan mereka, semua barang-barang milik Milly sudah di kirim lewat jasa pengiriman. dan disinilah Milly setelah pulang kerja dan makan malam ia menghabiskan waktunya membaca buku untuk membunuh rasa bosan. Milly sangat merindukan si kembar dan dua sahabatnya. ia kesepian karena suaminya akan pulang saat ia sudah tidur dan sudah berangkat saat Milly kadang masih di kamar mandi.
Milly mengambil handphone miliknya. merebahkan tubuhnya tengkurap diatas ranjang, sambil memeluk bantal. ia menekan tombol handphone menelpon nomor Eli.
tuut...tuut...tuuut.
"hallo ..."
"hai Eli, apa si kembar sudah tidur? aku sangat merindukan mereka."
"hufft, belum. dan kami sangat pusing menidurkan mereka! Jay bahkan tertidur lebih dulu." Eli tampak frustasi, dan dibelakang Eli terdengar suara berisik si kembar yang dengan riang berceloteh. oh, Milly benar-benar merindukan dua bocah menggemaskan itu.
"biarkan aku berbicara dengan mereka, kau bisa nyalakan spekernya."
" baiklah.."
__ADS_1
tak berapa lama kemudian Milly mulai membacakan dongeng favorit si kembar. dengan dialog yang sangat ia hafal di luar kepala saking seringnya ia membacakannya untuk si kembar.
" ya ampun, suaramu memang seperti sihir. mereka sudah tidur. terimakasih banyak, aku tidak tahu apa yang terjadi jika kau tidak menelepon tadi. akhir-akhir ini tenaga mereka tidak ada habisnya. kau tahu, Meredith bahkan kuwalahan."
Meredith adalah pengasuh yang Eli sewa untuk menjaga si kembar.
Milly dan Eli tertawa bersama. mereka berbincang ringan dan di akhiri dengan ajakan makan bersama pada pekan depan. Milly mengiyakan dengan antusias, mereka mengakhiri panggilan yang tanpa terasa sudah satu jam berlangsung saat berbincang melepas rindu.
" kau sepertinya sangat bahagia, menghubungi kekasihmu?!"
Milly terkejut dan spontan membalikan badannya setengah duduk. tampak Max menatapnya tajam dari ujung tempat tidur. Milly bahkan tidak mendengar suara saat ia datang.
Max memandang Milly kesal. matanya melihat istrinya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
" kau belum menjawab pertanyaan ku Nyonya. apa kau baru saja menghubungi kekasihmu!"
Milly memutar kedua bola matanya, membenarkan posisinya duduk dengan sempurna diatas ranjang.
" aku menghubungi Eli, aku merindukan teman-teman ku. aku kesepian di rumah besar ini sendirian Max. lagipula, aku tidak pernah punya kekasih. akukan sudah punya suami" kalimat terakhir ia ucapkan dengan suara lirih.
__ADS_1
Max menghampiri Milly dan duduk di hadapannya. selama ini Max memang mencoba menghindari Milly ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya. tiap malam saat ia berbaring di samping Milly sudah beberapa kali Max mencuri ciuman saat istrinya itu terlelap. dan Milly tidak tahu itu, ia merasa seperti seorang pencuri. ia takut Milly menolaknya.
harga dirinya tidak akan pernah bisa menerima penolakan dan bagaimana jika ia tidak bisa menahan diri dan malah memaksa Milly! hubungan mereka baru saja di mulai. Max ingin segala sesuatu berjalan perlahan. sampai, Milly bisa menerimanya. dan mencintainya. yaTuhan, entah sejak kapan bayangan wanita berambut coklat selalu mengusik dirinya.
" Maafkan aku...,aku sangat sibuk akhir-akhir ini. banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan." bohong!, padahal ia takut akan semakin terjerat pesona istrinya. dan takut di tolak!
"tidak masalah Max, aku hanya mau kita saling percaya. aku akan menjaga komitmen pernikahan kita, aku harap kau juga begitu."
"tentu saja, jadi apa benar kau tidak pernah punya kekasih?!" entah kenapa Max seolah bahagia mendengarnya jika benar ia adalah laki-laki pertama dalam hidup Milly begitu juga Max. karena Clara alias Anne tidak masuk hitungan, mereka hanya berhubungan selama 3 bulan dan melanjutkan hubungan dengan LDR. karena Max harus melanjutkan studinya di luar negeri.
"tidak, sejak remaja aku sibuk belajar dan bekerja. kehidupan kami bertiga begitu rumit kami tidak punya waktu untuk berkencan. kami merasa sudah bahagia dengan hidup yang kami jalani tanpa ada kata pria di dalamnya."
"kami?" Max mengerutkan dahinya.
" yeah aku, Eli dan Jay."
bagaimana mungkin kami punya waktu untuk pria. jika kehidupan mereka semua terpuruk karena pria. mereka menghindari dekat dengan pria yang mempunyai maksud selain berteman. Jay yang ditinggalkan pria yang dia cintai, hingga hampir beberapa kali mengakhiri hidupnya. Eli yang disakiti oleh pria yang ia percayai dan Milly yang di usir karena pria di depannya saat ini.
mereka mempunyai cerita dan luka masing-masing. tapi, luka itu tak lantas membuat mereka menyerah pada hidup. mereka menjalaninya dengan sepenuh hati. karena mereka yakin pada akhirnya semua akan baik-baik saja.
__ADS_1