Smiley Girl!

Smiley Girl!
Aku akan membunuhnya


__ADS_3

Milly memarkirkan mobilnya didepan cafe milik Jay. Saat pikirannya kalut hanya tempat ini yang ia pikirkan, coba saja Carlos atau Alex masih ada di J town Milly pasti sudah menghubungi salah satu dari mereka. Pulang ke rumah Eli juga tidak mungkin, ia tahu sahabatnya itu sedang kembali ke kampung halamannya saat mendapat kabar sang kakek sedang sakit keras.


Jay lah satu-satunya tempat untuk meluapkan dan mencurahkan isi hatinya. Semoga saja temannya bisa dan mau mendengarkan curahan hati nya.


Milly membuka pintu cafe, langkahnya mantab menyusuri cafe yang siang itu yang tampak tidak terlalu ramai.


" Hallo, apa Bos mu ada?!" tanya Milly pada salah satu pegawai caffe.


"Ada nona, Bos ada dikantornya."


" Terima kasih." ucap Milly seraya berjalan menuju kantor Jay yang ada di lantai dua.


tok tok tok


"Masuk!"


Cklek!

__ADS_1


Milly membuka pintu, tampak Jay sedang duduk diatas kursi yang berada di balik meja kerjanya.


"Milly?! ku kira lucky yang datang. Ada apa, tumben sekali kau datang tanpa menelfon ku dulu." seru Jay sambil berdiri dan menghampiri Milly yang sesaat lalu sudah langsung duduk di sofa kantor Jay.


"Hei ada apa?, kenapa kau menangis? katakan padaku siapa yang membuatmu menangis, berani-beraninya!" Jay memeluk Milly dan memberikan usapan lembut pada punggungnya.


" Hiks...hiks...hiks....Jay bagaimana ini... Max dia.." lalu Milly menceritakan semua kejadian di kantor Max, apa yang ia lihat dan dengar.


"Lalu, kenapa kau tidak bertanya padanya langsung?"


"Aku tidak punya cukup keberanian Jane...hiks.."


"Kau mau membuat anak ku jadi anak yatim."


" Baiklah aku hanya akan membuat dia cacat, saja hmm...akan ku suruh Billy dan anak buahnya menghajarnya." ucap Jay mengusap kedua lengan Milly dengan lembut mencoba memberi ketenangan.


" Kau tidak kasihan dengan keponakanmu kalau punya ayah cacat."

__ADS_1


Oh ya ampun aku bisa gila, sebenarnya maumu apa? lagipula aku tidak yakin suami bo*dohnya itu seperti yang ia ceritakan. Orang buta juga tahu kalau Max sangat mencintai Milly. batin Jay, ia bukan jenis orang yang bisa menenangkan dengan kata-kata yang lembut dan bijaksana seperti Eli. Dia selalu berkata apa adanya apa yang terlintas di pikirannya.


Karena tanpa sepengetahuan Milly Max bertanya hal-hal apa saja yang Milly sukai atau tidak padanya dan Elianora.


Jay bertekad akan mencaritahu kebenarannya nanti, saat ini ia harus fokus menenangkan Milly dan saat hormon kehamilan Milly sudah kembali ke tingkat sensitivitas yang normal ia yakin sahabatnya itu akan lebih tenang menghadapi masalah.


.


.


.


Max mengendarai mobilnya dengan cepat, baru saja teman istrinya si gadis bar-bar, mengirimkan pesan padanya. Pesan panjang yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.


semuanya karena kesalahpahaman yang tidak berarti, Max bahkan lupa jika dia memiliki rencana untuk membalas perlakuan keluarga Jhonson padanya. Ia jadi lupa segalanya saat bersama istrinya, saat melihat senyumnya, keceriaannya yang menular, kebaikan hatinya dan saat Max mendengar semua kisah hidup istrinya ia ikut merasa sakit. Ia sadar bahwa ia sudah mencintai istrinya! sejak kapan Max bahkan tidak tahu.


***

__ADS_1


Hay hay lanjut ndak ya...😋


__ADS_2