
Hari masih sangat pagi, saat Katarina mendengar suara ketukan di pintu. Katarina bergegas membukanya dan terkejut melihat seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu rumahnya...
Tatiana terlihat segar dengan riasan natural dengan Anne di gendongannya dan Alexander yang menggelayut di sisinya.
" Selamat pagi, Kau baru bangun tidur." Tatiana menerobos memasuki rumah Katarina bahkan sebelum di persilahkan, Katarina menutup pintu rumah mungilnya setelah Alex dan Imel mengikuti Ana memasuki rumahnya.
"Ini masih pagi Ana, Tumben sekali kau datang kemari. ada apa?" Katarina masih sangat mengantuk matanya bahkan masih setengah terpejam. Bahkan Anne masih terlelap dalam gendongan Ana. Seketika mata Katarina membuka, saat ia sadar Ana mau menggendong Anne.
" hei, kau menggendong Anne!" serunya
" memangnya kau kira aku menggendong Albert!" kedua bola mata Ana berputar.
" Apa sekarang kau baik-baik saja, Kau sudah sehat." tanya Katarina antusias.
" Aku sudah baik-baik saja Katty, seminggu yang lalu terapis ku mengatakan kalau aku sudah sembuh."
Katarina tersenyum bahagia. Menghampiri Tatiana dan memeluknya sayang. Akhirnya, ia terbebas dari tugas terkutuknya.
" aku sangat...sangat... sangat senang mendengarnya." ucap Katarina tulus. Namun disisi lain Tatiana melayangkan tatapan yang tak biasa. Tatiana nampak mencari sesuatu karna sedari tadi matanya tampak sibuk mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan.
" Bolehkah aku meletakkan Anne di kamarmu."
"Jangan!, lebih baik di kamar tamu saja."
Katarina tidak mau bayi mungil itu tidur di kamarnya yang masih berantakan.
" kenapa? apa ada seseorang di kamarmu?"
" apa maksudmu?, tentu saja tidak ada seorangpun disana. Kamar ku kotor dan bekas keringat, kasihan bayi mu."
Katarina mengerutkan dahinya, ia tampak aneh dengan sikap sahabatnya ini. Setelah meletakkan Anne di kamar tamu, dan meninggalkan Imelda menemani si kecil Anne. Tatiana menghampiri Katarina di ruang tamu. Sejenak memandangi Katarina yang duduk dengan beberapa berkas di atas meja, yang nampaknya baru ia ambil dari kamarnya.
" apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Tatiana pada Katarina.
" banyak! aku senang kau kembali. Kalau begitu mari kita mulai dengan Mansion setelah itu, baru kita bicarakan Restauran."
Dan selama dua jam Katarina sibuk memberikan laporan tentang Mansion dan Restoran yang selama ini ia kelola. Tatiana mendengarkan sambil sesekali bertanya. Tatiana mulai ragu dengan apa yang ia dengar dari Imelda, kalau sahabatnya berselingkuh dengan suaminya. Katarina tampak senang melihat ia sudah kembali seperti semula. Ucapannya tulus.
__ADS_1
Disisi lain, Katarina tahu Tatiana mencurigai sesuatu. Sejak datang sahabatnya itu melihat pintu kamarnya. Entah apa yang ada di pikirannya. Dan dia terlalu pengecut untuk mengakui semuanya.
" Ana, aku minta cuti panjang. dan aku berhak mendapatkannya." ucap Katarina membuyarkan lamunan Tatiana.
" tentu saja kau pantas mendapatkannya. berapa lama yang kau butuhkan."
" lebih dari seminggu, kurasa." Katarina menghembuskan nafasnya berat, sambil menatap Ana dalam.
" baiklah." Ana menganggukkan kepalanya.
Katarina meninggalkan Tatiana di ruang tamu dan membuka pintu kamarnya. Dari ruang tamu Tatiana masih bisa melihat ke dalam kamar, karena Katarina tidak menutup pintunya. Seketika Tatiana merasa lega saat tahu Albert Suaminya tidak ada disana. Jadi sebenarnya kemana pria itu pergi.
.
.
.
Disini lain, Albert sedang termenung di sebuah kamar hotel yang ia pesan. Sejenak ia memejamkan matanya dan menghubungi sebuah nomor lewat pesawat telepon.
"..."
"..."
Malam itu, Katarina mengetuk pintu kamar dengan nomor yang ia ingat dengan benar. Dia sedang membereskan barang-barangnya saat pesawat telepon miliknya berbunyi. Dan disinilah dia bertemu dengan orang yang ia benci sekaligus orang yang ia cintai. Albert.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku bila Tatiana sudah sembuh!" semburnya saat ia sudah memasuki kamar itu.
Albert menatap Katarina datar. Pria itu tampak kecewa karena lagi-lagi wanita yang ia cintai lebih suka membahas tentang Ana. Tidak adakah sedikitpun rasa cinta selama beberapa Minggu kebersamaan mereka.
" Dari mana kau tahu." ucap pria itu datar.
" pagi ini Ana datang, sepertinya dia sudah mulai curiga."
"apa kau benar-benar ingin kita mengakhirinya."
"ya!" tidak. sejak kapan ia jadi munafik gumam Katarina dalam hati.
__ADS_1
"apa kau benar-benar tidak mencintai ku lagi."
" tidak!" ya, aku masih mencintaimu! tapi ini cinta yang salah. Dan, aku sangat mencintai Tatiana seperti saudaraku sendiri. Kalian berdua orang-orang yang paling aku cintai dan kalian berdua harus bahagia.
"Bukankah kau berjanji akan mengakhiri semua ini saat Tatiana sudah sembuh." sambung Katarina lagi.
Ya benar, saat itu, Albert yakin bisa mengubah pendirian wanita yang ia cintai agar bersikap egois dan lebih memilihnya. tapi, ternyata dia salah.
"Baiklah, maka ini akan menjadi pertemuan terakhir kita." Albert tampak sangat kecewa dengan jawaban Katarina. Namun, dengan cepat ia menutupinya. Seketika ia mulai memeluk wanita yang sangat ia cintai, malam ini adalah malam terakhir mereka dan ia tidak akan membiarkan wanita ini pulang cepat seperti hari-hari yang lalu.
.
.
.
Pagi itu langit masih terlihat gelap, Katarina mencium lama kening Albert yang masih terlelap. Membingkai wajah pria itu dalam memorinya. Setelah itu, ia bergegas keluar kamar dan mengendarai mobilnya pergi jauh dari kota tempat ia di besarkan.
tok tok tok
Tatiana mengetuk pintu rumah Katarina, namun sudah lebih dari tiga puluh menit ia mengetuk Katarina tak juga membukakan pintu. Sebelumnya ia sudah menelepon terlebih dahulu, namun tidak ada yang mengangkat. Saat Tatiana mencoba membuka pintu itu, ternyata pintunya tidak terkunci. Tatiana masuk kedalam rumah yang tampak lenggang, langkahnya seketika membawanya ke dalam kamar milik Katarina. Namun, kosong.
Tampak di salah satu meja nakas sebuah surat dengan goresan namanya.
To : Tatiana Moore.
Tatiana mengeluarkan sebuah surat dari dalam amplop dan membacanya.
Dear *Tatiana,
Maafkan aku, jika aku pergi. Berbahagialah dengan keluargamu. Aku sungguh-sungguh Minta Maaf...
Sahabatmu,
Katarina Rein*.
Tatiana meremas surat itu penuh amarah, ia bahkan belum mengkonfirmasi info yang ia dapatkan. Ia berharap informasi itu tidak benar. namun, dari surat ini Tatiana seolah membaca sebuah pengakuan. dan sayangnya pelakunya sangat pengecut dan memilih kabur sebelum mendapatkan hukuman!
__ADS_1