Smiley Girl!

Smiley Girl!
Mudah dikatakan sulit dilakukan!


__ADS_3

Masih lanjutan Flashback ya...semoga tidak binggung...🤗


.


.


.


.


.


"Ya Tuhan..."


" aku tahu ini sangat berat untukmu sayang, ini juga tidak mudah untuk ku meminta hal ini padamu. sungguh!"


"awalnya, saat kakak tahu bahwa anne sedang hamil dan sudah menikah membatalkan pernikahan dan memberi kompensasi pada keluarga tunangannya akan menyelesaikan masalah.tapi, ayah bilang..."


ayah...


tentu saja ayah akan mengatakan bahwa keluarga kalian akan jatuh miskin dalam semalam gara-gara anak kesayangannya yang bodoh lagi-lagi berbuat seenaknya...dan tebak siapa yang harus membereskannya sekarang!


dada Milly terasa sesak, air mata sudah mengumpul lagi di pelupuk matanya.

__ADS_1


" ini, aku gunakan semua kupon permintaan milikku, kumohon kabulkan permintaan ku. kupon ini harta ku yang paling berharga, sekali ini saja kabulkan. setelah itu kau boleh membenci ku. kau boleh membenci kakakmu yang pengecut ini." alex menyodorkan beberapa lembar kertas dengan tulisan tangan Milly dalam genggamannya adiknya.


" kumohon menikahlah dengan Max!"


air mata sudah meluncur turun di pipi Milly


" kakak...yang benar saja!!!"


"pikirkanlah kakak akan menunggu apapun keputusanmu. dua hari lagi kakak harus kembali pulang. gunakan waktumu untuk memikirkan hal ini baik- baik."


alex menghapus pelan air mata adiknya. hatinya terasa sangat sakit melihat mata yang beberapa saat lalu menyapanya dengan penuh kegembiraan kini berganti dengan raut kesedihan.


kalau saja bukan ayah yang memohon padanya agar membujuk Milly. ini semua terjadi lagi -lagi karna Anne. karena keegoisannya! Milly bahkan harus...


alex bahkan tidak tau soal kesepakatan itu kalau saja ayahnya tidak mengatakannya. awalnya ia berkeras membatalkan saja pernikahan konyol itu. tapi, semua berubah saat ayahnya menceritakan kesepakatan sialan itu.


Flashback off


***


"jadi,...bulan depan kau akan Menikah!"


seketika kepala Milly dan Elianora menoleh ke sumber suara. ternyata, Jay sudah berdiri diambang pintu kamarnya entah sejak kapan.

__ADS_1


"aku tidak tahu Jay..." Milly mendesah lirih.


dia tidak tahu apa yang hatus ia lakukan. ia ingin sekali menolak! namun sebuah sosok yang selalu ia rindukan tiba-tiba muncul di hadapannya. tersenyum manis dengan kata-kata menenangkan yang selalu ia dengar saat ia pura-pura terlelap.


" jangan lakukan jika kau tidak mau...demi apapun atau siapapun. kau berhak bahagia juga Milly." Jay menghampiri kedua sahabatnya yang sedang duduk berangkulan di ranjang kecil kamar itu.


" tapi,..." Milly merasa binggung luar biasa. berada dalam dilema.


"kau tau apapun keputusanmu nanti kami akan selalu mendukungmu. kami akan selalu bersamamu, benarkan Jay!" Elianora melirik Jay yang duduk di kursi meja rias.


Jay menanggukan kepalanya sambil mengusap lembut bahu Milly.


"Milly kami percaya padamu, karna apapun keputusan yang kau ambil. kami yakin, itu adalah yang terbaik.".


***


wajah tua lelaki itu begitu teduh. senyum ramah selalu terukir di wajahnya. pelukannya lebih hangat dari mantel termahal. membuat Milly merasa nyaman dan terlindungi.


"kakek, apa yang harus ku lakukan. aku takut kek." Milly mengeratkan pelukannya soal takut kehangatan itu akan segera menghilang.


" bukankah kakek sudah pernah mengatakan padamu. jika takdir sudah berbicara akan percuma untuk lari sayang."


"tapi kakek...aku takut...Max... dia...membenciku..."

__ADS_1


" dia hanya belum mengenalmu sayang... dia hanya belum mengenalmu..." lalu tiba-tiba lelaki tua itu menghilang seolah tidak pernah ada.


Milly bangun dari tidurnya. tiba-tiba ia ingat hari ini kakaknya akan kembali pulang.


__ADS_2