
Milly membersihkan barang-barang yang ada di meja kerjanya setelah menyerahkan surat pengunduran dirinya. Milly ingin sekali menjaga kesehatannya karena ia sedang hamil saat ini. Wanita itu baru mengetahuinya dua hari yang lalu, saat pihak rumah sakit menghubunginya agar segera mengambil hasil lab saat ia tiba-tiba pingsan beberapa hari yang lalu. Sesuatu yang ia dan Max lupakan.
Siang ini juga Milly berniat memberitahukan kabar gembira ini pada suaminya. Semoga suaminya itu menyambut kabar ini dengan bahagia. Dia akan bahagia dan menerima anak inikan?! Milly berkata dalam hati menyakinkan dirinya. Senyum tak lepas dari bibir mungilnya.
" Apa kau sesenang itu saat mengundurkan diri dari pekerjaanmu?" lanny sudah berada di ruangannya dan menyandarkan tubuhnya di ambang pintu.
" Oh aku pasti merindukanmu Lanny."
"Hhhh, aku juga. Jaga dirimu baik-baik kita masih bisa bertemu bukan."
" Aku masih tinggal di kota yang sama dan kau pasti tahu persisnya rumahku, sering-seringlah main kerumahku. Dan cobalah buka hatimu tidak semua pria bren*** contohnya saja kak Carlos" ucap Milly sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda Lanny.
Lanny memutar kedua bola matanya jengah, ia sudah merasa nyaman dengan hidupnya tanpa adanya pria. Bukan karena tidak tertarik dengan pria, tapi masa lalunya dengan makhluk yang disebut pria sangat buruk!
"akan ku bantu kau membawa Kotak itu, wanita hamil muda dilarang membawa barang berat."
" terima kasih lanny kau yang terbaik."
Milly memasukkan semua barangnya kedalam bagasi mobil di bantu oleh Lanny, sejenak berpelukan sebagai tanda perpisahan dengan wanita yang menjadi teman dekatnya selama ia bekerja di perusahaan itu.
.
.
__ADS_1
.
Beberapa saat kemudian Milly sudah sampai kantor suaminya, menenteng paperbag berisi makanan yang tadi ia beli di sebuah restoran. Tentu saja sebuah kejutan sudah ia siapkan untuk suaminya yaitu berita kehamilannya.
Milly melangkahkan kakinya menuju ruangan milik Max, dan entah mengapa sekertaris Max tidak ada di mejanya. Ruangan Max tampak sedikit terbuka, namun saat Milly hendak memasuki ruangan percakapan yang ia dengar dari dalam seketika menghentikan langkahnya.
"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?!"
" Aku akan membalas mereka Daven, akan ku buat mereka membayar semuanya!"
" Keluarga Jhonson, Antoinette atau istrimu?!,"
" Kau..."
Air mata sudah membasahi wajah Milly, Saat wanita itu sudah duduk di balik kemudi mobil miliknya. Milly tidak menyangka ternyata Max hanya berpura-pura menerima pernikahan mereka. Milly bahkan mengira bahwa Max mencintainya! tapi ternyata pria itu hanya bersandiwara. Milly melajukan mobilnya, ia bingung harus pergi kemana. Dia ingin pulang tapi kemana?!
***
Di sisi lain Max yang sedang berbincang dengan Daven di ruangannya.
"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?!"
" Aku akan membalas mereka Daven, akan ku buat mereka membayar semuanya!"
__ADS_1
" Keluarga Jhonson, Antoinette atau istrimu?!,"
" Kau ini! bukan mereka yang ku maksud!"
" Oh, maksudmu Orlando!"
"tentu saja dia! masalah tentang keluarga istriku aku sudah melupakannya tidak perlu di selidiki lagi." toh, istrinya sudah menceritakan semuanya. Batin Max senyum manis terkembang diwajahnya. Senyum yang jarang singgah dulu akhir-akhir ini sering terlihat di wajah tampan Max.
Daven memutar bola matanya, dia baru saja melaporkan dua hal yang Max minta untuk ia selidiki. Dan dua-duanya hal yang menyangkut dengan orang-orang yang sudah mengusik dan mempermainkan Max, salah satunya tentu saja keluarga Jhonson keluarga istri Max.
" wah bos, sepertinya kau sangat menikmati peranmu menjadi suami"
"tentu saja, kau segeralah menikah agar tau rasanya."
" Agar bisa berpakaian seperti joker?! tidak, terimakasih!"ucap Daven sambil terkekeh dan keluar ruangan.
"Dasar kurang a*ar!"
.
.
.
__ADS_1