
Ruang tamu mansion keluarga Jhonson
" maafkan aku Jack, Max ini semua salah ku." Albert Jhonson memulai percakapan setelah sebelumnya suasana sunyi.
"ayah!" teriak Anne
"cukup anne! ayah menyesal sudah memanjakanmu dan menuruti semua keinginan mu!"
"Max wanita ini adalah tunangan mu yang asli. gadis yang di jodohkan oleh kakekmu dan juga cucu sahabat baiknya Carlos Rein. namanya Clara Rein, dia anak dari Katarina Rein dan Aku."
"Jadi dia juga anak paman? tapi kenapa nama keluarga kalian berbeda" max bertanya.
" lain kali akan aku ceritakan Max. tapi untuk saat ini hanya itu yang perlu kau tahu."
Albert kemudian pergi meninggalkan ruangan. tapi sebelum itu ia mengamit tangan Anne agar mengikutinya.
di ruangan itu kini hanya tinggal Max dan kedua orang tuanya, Tatiana, Milly dan Alex.
" Sondra, aku minta maaf. kami terlalu memanjakan anne. kumohon maafkan kami." Tatiana mengambil dan meremas tangan Sondra ibu Max. Sondra tersenyum simpul dan mengusap bahu Tatiana lembut.
" tidak apa-apa, aku mengerti aku juga kan orang tua. aku akan memberikan penjelasan pada Max, agar ia tidak terlalu marah." saat ini Sondra sangat binggung entah ia harus bahagia karna akhirnya bukan anne yang akan menjadi menantunya. atau, sedih karena ia tahu Max anaknya benar-benar mencintai anne yang ia kira tunangannya Clara.
"sudahlah Ana, mungkin ini sudah takdir. akhirnya apa yang di inginkan ayahku terjadi. salah satu cucunya menikah dengan cucu keluarga Rein." Jack lyod yang sedari tadi hanya diam melihat situasi mengeluarkan suaranya.
.
.
.
" kalau begitu, aku permisi dulu."
seketika empat pasang mata menoleh pada Milly.
"Permisi!?,..memangnya kau mau kemana Nyonya Lyod!" max menekan kata nyonya pada kalimatnya.
Milly membulatkan matanya. Max tidak benar-benar menganggap ia istrinya kan! tiba-tiba Milly merasa takut, sangat takut!
"a...aku..mmau pulang." ya ampun, sejak kapan ia gagap bicara.
"pulang? kemana?"
__ADS_1
"aku...mau..ke..hufft...begini tuan lyod. aku dimintai tolong menggantikan mempelai wanitamu. kau tidak mungkin benar-benar menganggap aku istrimukan?" Milly bingung menghadapi situasi yang saat ini terjadi.
"bukankah kau juga dengar Nyonya, bahwa ayahmu mengatakan bahwa kaulah tunanganku yang sebenarnya. itu artinya kau adalah istriku yang SAH. kau Milikku!!"
"kau mau pulang, baiklah ayo kita pulang!"
Max menarik tangan Milly meninggalkan ruang tamu meninggalkan Tatiana, dan kedua orang tuanya.
"ta..tapi...aku...kakak...kakak!" Milly memanggil-manggil kakaknya yang entah sejak kapan menghilang dari ruang tamu. bukan ini kesepakatan yang ia buat dengan kakaknya.
disisi lain Alexander Jhonson sedang berdiri di sudut ruangan tertutup pilar. sengaja bersembunyi dari sang adik. maafkan kakak Milly, Max memang sedikit Arogan tapi dia pria baik. kakak yakin, cepat atau lambat dia pasti akan terpesona dengan ketulusan dan kebaikan mu. kau pantas bahagia.
Max duduk di samping Milly yang seolah menempel pada pintu mobil. ia seakan takut bersentuhan lagi dengan Max. Menarik. baru kali ini ada wanita yang menghindari Max. sedangkan, diluar sana banyak sekali gadis yang mengejar-ngejar Max.
Max melirik melihat Milly yang meremas-remas tangannya, tanda bahwa istrinya sedang gelisah. tidak ada percakapan apapun di dalam mobil. hening. mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
***
mobil yang dinaiki Milly dan Max memasuki gerbang dengan pagar tinggi yang otomatis terbuka. mobil itu kemudian berhenti di sebuah rumah mewah, yang tak kalah dengan mansion milik keluarga Jhonson.
pintu ganda rumah itu terbuka dan keluarlah seorang perempuan paruhbaya dengan wajah berseri-seri menyambut mereka.
" selamat datang tuan, Nyonya..."
"tolong siapkan makan malam juga, kami kelaparan."
" tentu saja tuan, mari nyonya saya antar anda ke kamar." emery mengandeng tangan Milly erat membuat wanita itu hanya bisa pasrah.
Milly memasuki kamar dengan nuansa maskulin. warna monokrom tampak mendominasi. ranjang yang sangat besar mendominasi kamar itu, melihatnya membuat Milly tak sabar untuk meregangkan tubuhnya sejenak.
***
"Hallo, daven apa kau sudah mendapat apa yang kuminta sebulan yang lalu"
"........"
"benarkah?! wah...wah...wah...permainan ini semakin seru rupanya. baiklah daven sampai bertemu besok. Max menutup telfonnya. keluar dari ruang kerja menuju ruang makan, menyuruh Emery memanggilkan istrinya.
tak lama kemudian Milly sudah duduk di samping Max. awalanya, mereka makan dalam diam. namun, Max tiba-tiba memulai percakapan.
" jadi, namamu sebenarnya siapa? Clara? atau Rein? atau Kelly?"
__ADS_1
wanita itu mengerutkan kedua alisnya, menghembuskan nafasnya perlahan.
" yang benar Milly singkatan dari Smiley. tapi, kalau di pikir-pikir lagi semua itu nama ku "
"dan, bagaimana ceritanya seorang wanita sepertimu bisa punya begitu banyak nama?!"
gara-gara kau dan takdir! ingin sekali Milly meneriakkannya.
"ceritanya sangat panjang, kau mau cerita nama yang mana dulu?"
" Clara. bagaimana bisa kau bernama Clara."
" Clara adalah namaku sejak aku di lahirkan. begitu juga Rein itu nama keluarga ibu kandungku. Katarina Rein."
"ayahku tidak menikahi ibu ku tuan lyod, kalau kau ingin tahu. aku adalah anak haram ayahku. itu sebabnya anne sangat membenciku."
" lalu... Smiley?"
" Smiley, adalah nama yang ku gunakan saat aku di usir dari rumah oleh ayahku. karena saat itu anak ayah ku dan tunangan ku saling mencintai, aku dianggap pembangkang saat tidak mau melepasnya. aku harus mengalah karena aku bukan anak sahnya."
"jadi aku pergi, saat kupikir tunanganku sudah menemukan Clara yang ia inginkan. lagipula, dia bilang aku adalah gadis paling menjijikan yang pernah dia kenal karena menggoda tunangan majikannya. tidak boleh ada dua Clara bukan, itu akan sangat membingungkan."
Max membelalakkan matanya, rasa bersalah yang sejak dulu ia rasakan kini muncul kembali. ia sungguh menyesalinya kini, saat itu ia di manipulasi oleh anne dan sangat keras kepala karena tidak mau mendengarkan penjelasan dari siapapun. bahkan dari kakeknya!. yang ia percaya hanya kata-kata Anne yang saat itu mengaku sebagai Clara!.
siapa yang menyangka wajah bak malaikat itu ternyata berhati iblis.
"maafkan aku. saat itu aku..."
Max memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya kembali. menatap manik mata istrinya yang kemudian mengalihkan pandangannya.
" tidak apa-apa, semua hanya masa lalu." Milly tersenyum simpul.
"ehmmm, apa kau bisa mengantarku pulang sekarang?" Milly bertanya hati-hati. seketika mata Max mengerut tak suka.
" kau sudah pulang sekarang. ini adalah rumahmu. rumah kita."
" bukankah kita harus meluruskan beberapa hal." Milly harus memperjelas hubungan ini.
"seperti..." ucap Max menggantung.
"seperti pernikahan kita, aku, kau..."seperti cinta!. bagaimana mungkin kita menikah tanpa cinta. Milly bergumam dalam hati.
__ADS_1
" pernikahan kita SAH, aku suamimu dan kau istri ku. jika yang kau khawatirkan adalah soal cinta. maka aku bisa kompromi."
Milly membulatkan matanya ketika mendengar pria yang kini menjadi suaminya itu berkompromi soal cinta. pernikahan macam apa yang akan ia jalani sekarang. Milly memejamkan matanya sejenak. ia benar-benar terjebak.