Smiley Girl!

Smiley Girl!
Saverus Snape


__ADS_3

Antoinette menangis dalam pelukkan suaminya Larry. Perutnya sudah tampak membesar, Air matanya jatuh berderai.


"Sudahlah sayang, jangan menangis lagi."


"Aku kakak yang jahat Larry, seharusnya sejak lama aku mendengarkan Mommy dan Daddy."


" Sudahlah sayang, ini bukan sepenuhnya salahmu. kau hanya di manfaatkan saja, orang yang memanfaatkan kepercayaanmu lah yang salah. Sayang sudahlah, apa kau tidak kasihan pada bayi kita. Dia akan ikut sedih jika Mommy nya sedih."


"Bertahun-tahun aku menyakitinya, dia pasti tidak akan mau memaafkan ku. Aku benar-benar bo*oh."


"Sayang sudahlah, sekarang kau istirahatlah. kita bisa pergi menemuinya dan meminta maaf padanya."


"Benarkah, kau mau mengantarku bertemu dengannya sayang."


" Tentu saja, tapi kita harus konsultasikan dulu kesehatanmu dan bayi kita ke dokter. Perjalanan dari London ke J town sangat panjang."


"Terima kasih sayang. Aku beruntung memiliki mu menjadi suamiku."

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu baby." ucap Larry sambil mengecup kening istrinya lama.


* * *


Milly mulai beradaptasi dengan kegiatannya di rumah setelah resmi tidak bekerja dan menyandang predikat pengangguran.


Dimulai dari menyiapkan sarapan untuk suaminya dan keperluan sang suami sebelum berangkat bekerja. Setelah sang suami berangkat bekerja ia akan menghabiskan waktu dengan membuat biskuit, cake terkadang waktunya hanya ia gunakan untuk membaca diperpustakaan pribadi di mansion mereka.


Selama awal kehamilan Milly tidak pernah mengalami mual dan muntah seperti wanita pada umumnya, hanya nafsu makannya yang bertambah dari hari ke hari.


Semenjak mengetahui istrinya hamil Max jadi lebih protektif dan posesif pada istinya. Apa yang Milly inginkan sebisa mungkin akan ia wujudkan.


"Bagaimana apakah sudah mirip?"


"Ya ampun, aku bisa gila. Sepertinya aku benar-benar akan menunda atau bahkan mencoret kata menikah dalam kamus hidup ku." ucap Daven saat melihat tingkah ajaib atasan sekaligus bosnya yang saat ini sedang membenahi rambut pasangannya di kaca spion mobil.


"Kalau begitu kau akan menyesal seumur hidup mu. Kau tidak tahu betapa indahnya dan bahagianya menikah. ada orang yang menunggumu pulang, menemani saat tidur,bercengkrama bersama..."

__ADS_1


"Sudah cukup jangan menggoyahkan ku. Aku cukup bahagia dengan kehidupanku sekarang. Tanpa aku perlu manjadi Joker atau Saverus Snape dalam hidupku. " Daven memotong ucapan Max, pembicaran ini membuat bulu kuduknya berdiri. Sepertinya dia mulai alergi menyangkut pembicaraan yang berhubungan dengan pernikahan.


"Awas saja, saat nanti kau bertemu dengan wanita yang tepat dan menikah aku akan membalasmu." gumam Max lirih.


Max memasuki Mansionnya dan langsung menuju kamarnya. Tampak istrinya baru saja keluar dari walk in closet, melihatnya dengan mata berbinar dan langsung memeluknya erat.


Milly tidak melepaskan pelukannya pada Max. Dan Max tampak menikmati sikap manja istrinya. Dia bahkan rela jika harus setiap hari memakai baju penyihir ini jika bisa membiat istrinya bahagia dan bermanja padanya.


"Apa kau suka."


"Ehem, kau jadi lebih tampan dari biasanya. Ya ampun kau keren sekali."


Cup...Cup...Cup...


Milly mendaratkan beberapa ciuman pada wajah suaminya yang tampak tersenyum bahagia.


"Baiklah, aku akan memakainya setiap hari jika kau mau, hmmm."

__ADS_1


"hmmm entahlah, sepertinya besok aku ingin kau memakai kostum Dumbledore"


"Sayang aku masih muda, mengapa kau tidak menyuruhku menjadi Harry potter saja. Dumbledore sudah sangat tua, Oh tidak. Jangan menangis, baiklah...maafkan aku, besok aku akan menjadi Dumbledore okey..ssthhh...sssth.." Max memeluk dan menenangkan istrinya.


__ADS_2