
Setelah kejadian di taman, beberapa hari kemudian Clara menemui Ayah dan ibunya dan mencoba membatalkan perjodohannya. Clara mengatakan semua penyebabnya, namun sayang kata-katanya tidak diindahkan. Mereka tidak mempercayainya sedikitpun.
Clara merasa putus asa dia tidak mungkin menikah dengan orang yang dicintai kakaknya dan orang itu juga terlihat sangat mencintai kakaknya. Tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan kakaknya. Clara berusaha menemukan cara.
Hingga suatu hari saat Dave Lyod datang ke mansion untuk menemui ayahnya, ia memberanikan diri untuk membatalkan pertunangan itu. Dave terlihat sangat sedih, lelaki tua itu sangat menyayanginya. Ia seolah tahu bahwa Anne tidak tulus pada cucunya, dan akan menuntut keluarga Jhonson jika pernikahan kelak tidak terlaksana.
Ayahnya mencoba menegosiasikan hal itu dan memastikan jika salah satu putrinya pasti akan menikah dengan cucunya. Maka tercapailah kesepakatan itu kesepakatan yang sangat tidak adil untuk keluarganya dan hanya meraka berempat yang tahu. Dia, Ayahnya, Dave dan Key si pengacara.
Malam itu juga Clara sudah mengepaki semua barangnya dan meminta tolong Alex untuk mengantarnya ke rumah sahabatnya. Malam itu juga adalah malam saat untuk pertama kalinya ia ditampar oleh Ayahnya dan diusir dari tempat ia di besarkan.
.
.
.
.
Milly membuka matanya yang terasa berat. Bau khas Rumah Sakit menyapa hidung mungilnya. Ia baru saja terbangun dari sebuah mimpi, mimpi yang terasa nyata. Seorang perawat tersenyum memandangnya.
" Anda sudah sadar?"
" hemm..."
__ADS_1
" Saya akan memanggil kan dokter dan keluarga anda." ucapnya ramah.
Milly nampak bingung mengapa ia bisa berada di Rumah Sakit. Lalu, kelebat kejadian di loby kantornya menghantam ingatannya. Milly memijat kepalanya, mencoba mencari alasan menjelaskan pada Carlos dan Keluarga adopsinya.
Milly benar-benar lupa mengabarkan pernikahannya pada keluarga adopsinya. Sebulan sebelum pernikahan ia memang menyibukkan dirinya dengan pekerjaan agar tidak teringat dengan pernikahan yang terpaksa ia lakukan. Sampai-sampai ia juga ikut melupakan keluarga yang mengadopsinya, Kelaurga mama Samanta.
Seorang dokter memasuki ruanganya memeriksanya, sejenak menginterupsi pikirannya.
" Semua baik-baik saja. Dan hasil tesnya akan keluar sebentar lagi."
"tes apa dok." Milly mengerutkan dahinya.
" kami mengambil sampel darah anda untuk mengetahui penyebab anda pingsan." Dokter itu pun berlalu pergi.
Tak berapa lama setelah kepergian dokter masuklah dua orang pria tampan dan seorang wanita yang sangat ia kenal, teman kerjanya Lanny. Carlos Benjamin menatapnya tajam beberapa memar nampak di wajahnya. Milly meringis melihat keadaan kakak angkatnya itu.
" Kakak, bukan aku yang memukulmu. Dia yang memukulmu." ucap Milly sedang dagunya ia arahkan pada sang suami. Entah mendapat kekuatan dari mana ia bersikap menyebalkan.
"Dan karena siapa, suamimu memukulku?"
"..."
" Kenapa hanya diam, apa kau tidak mau menjawab pertanyaan ku. Sayang bagaimana bisa kau bahkan tidak memberi kami kabar selama beberapa bulan ini. Mama sangat khawatir, dan kau bahkan tidak memberi tahu tentang pernikahanmu."
__ADS_1
" Maafkan aku, semua terjadi begitu saja kak. Aku..." sebenarnya aku lupa mengabari kalian. Sungguh Milly begitu merasa bersalah pada keluarga yang telah mengangkatnya.
Carlos memicingkan matanya, menyadari sebuah keanehan dari sikap adiknya yang tak biasa. sampai sebuah suara deheman membuyarkan tatapannya yang mengintimidasi Milly.
" ekhm, Sepertinya kau sudah baik-baik saja. Kalau begitu aku pamit pulang. Semoga cepat sembuh." Lanny teman kerjanya tersenyum ramah dan mengusap lembut bahunya.
" Terima kasih banyak Lanny." Milly memeluk temannya berterima kasih.
" Biar ku antar pulang, sekalian aku kembali ke hotel."
"Ti-tidak perlu tuan, saya tidak mau merepotkan." Lanny merasa gentar dengan pria tampan itu. Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Carlos.
"Ini sudah malam nona, bahaya untuk wanita cantik seperti mu pulang sendiri."
" Aku setuju nona, biar Carlos yang mengantar pulang." Max menimpali wanita berwajah asia itu sangat mencemaskan istrinya tadi. Sepertinya, wanita itu salah satu teman baik istrinya.
" Kau bisa tenang Lanny, tidak apa-apa kakakku baik dia tidak akan macam-macam." Milly menyentuh lembut tangan temannya meyakinkan. Ia tahu sejak dulu Lanny paling anti berdekatan dengan pria manapun, wanita itu mempunyai trauma pada Pria.
"Ba-baiklah, semoga kau cepat sehat. Aku pergi dulu." Lanny keluar kamar disusul dengan Carlos yang sebelum pergi mendaratkan kecupan di kening Milly.
***
Max memandang wajah pucat istrinya. tatapan yang sulit Milly baca. Milly berpura-pura tidur agar ia tidak lagi melihat tatapan tajam suaminya.
__ADS_1
"Jangan berpura-pura tidur, kau kira aku tidak tahu." Max mengguncang bahu istrinya pelan. Milly merasa tertangkap basah.
"Sebenarnya berapa banyak kakak yang kau punya!"