Smiley Girl!

Smiley Girl!
Pengakuan


__ADS_3

Max mengendarai mobilnya dengan cepat, baru saja teman istrinya si gadis bar-bar, mengirimkan pesan padanya. Pesan panjang yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.


semuanya karena kesalahpahaman yang tidak berarti, Max bahkan lupa jika dia memiliki rencana untuk membalas perlakuan keluarga Jhonson padanya. Ia jadi lupa segalanya saat bersama istrinya, saat melihat senyumnya, keceriaannya yang menular, kebaikan hatinya dan saat Max mendengar semua kisah hidup istrinya ia ikut merasa sakit. Ia sadar bahwa ia sudah mencintai istrinya! sejak kapan Max bahkan tidak tahu.


***


"hallo" Daven mengangkat telfon miliknya, tampak nama Maximus yang menghubungi.


"Jika istriku tidak mau memaafkan ku! Jangan harap kau akan mendapatkan bonusmu!!!" dan sambungan di tutup secara sepihak. Daven mengernyit kan dahinya tidak mengerti dengan ucapan bos sekaligus sahabatnya, memang apa salahnya?!. Pria itu kemudian melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sejak menikah menurutnya Max berubah jadi agak aneh, membuat Daven bertekad menunda melepas masa lajangnya untuk waktu yang tidak ia batasi.


*


tok tok tok


cklek!!!


pintu terbuka dan nampak wajah kusut Jay di balik pintu. Max langsung menerobos masuk dan langsung melihat sekeliling ruangan mencari istrinya.


"Syukurlah, kau sudah datang. Aku pergi menjemput si kembar dulu, Eli sedang ke London menjenguk kakeknya yang sedang sakit. Milly ada di kamarnya." setelah itu Jay beranjak pergi meninggalkan Max yang masih terpaku di ruang depan. Milly sudah membuat Jay frustasi, wanita itu seperti bukan sahabat yang sudah ia kenal bertahun-tahun.

__ADS_1


Jay masuk kedalam taxi yang di pesannya, untuk menjemput si kembar yang kemarin dititipkan oleh Elianora padanya dan Meredith, saat mendengar kakeknya masuk Rumah Sakit.


*


Max membuka pintu kamar Milly di rumah itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. bukan tanpa alasan, Max takut istrinya tidak akan membukakan pintu dan tidak menutup kemungkinan ia tidak di perbolehkan masuk kamar bukan?! mengingat kesalahannya. meskipun ia tidak benar-benar melakukannya, tapi istrinya mempunyai pemikiran yang berbeda.


Max mengusap lembut wajah istrinya yang sudah terlelap, matanya tampak sembab karena menangis. Max masuk kedalam selimut istrinya, berbaring di samping wanita itu merengkuh tubuh Milly dan memeluknya.


"M-Max kenapa kau ada disini." suara khas bangun tidur Milly membuat Max membuka matanya.


" tentu saja karena kau ada disini sayang. dimanapun kau berada disana ada aku."


oh ya Tuhan, dia tidak akan melepaskanku. Dia benar-benar mau balas dendam.


"sayang kau salah paham, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu dan Keluarga mu. aku bersumpah."


deg! benarkah!


" tapi tadi aku dengar..."

__ADS_1


"ssshhtttt....kau tidak mendengar percakapanku dengan Daven hingga selesai, jika kau mendengarnya aku yakin kau tidak akan salah paham. dan kenapa kau harus kabur, seharusnya kau masuk ruangan ku dan tanyakan padaku apapun itu." ucap Max sambil mengusap rambut Milly lembut. Milly menatap kedua manik suaminya tak ada kebohongan dalam mata pria itu.


" kau yakin?"


"tentu saja, awalnya aku memang marah tapi seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa aku mulai mencintaimu."


" sejak kapan?"


" entahlah, mungkin sejak pertemuan pertama kita."


" Benarkah...kau... ti-tidak berbohong kan"


" tidak sayang tentu saja tidak, aku bahkan berani bersumpah. Apa kau juga mencintai ku?!"


" hiks...hiks...hiks...tentu saja aku mencintaimu... oh Max...syukurlah aku sangat takut kau membenciku...hiks..."


"ssshhh...sssshhh...sayang kenapa kau menangis..." seru Max sambil mengusap airmata yang jatuh membasahi pipi istrinya.


"Aku bahagia Max...aku sangat bahagia..." Milly mengambil tangan Max dan mengarahkan pada perutnya yang masih rata.

__ADS_1


" Aku hamil.."


"Benarkah sayang, aku sangat bahagia...terima kasih." Max mencium kening istrinya lama.


__ADS_2