
Mentari menyembulkan sinarnya dengan malu-malu, dahan dan daun-daun tampak basah karna embuh pagi hari.
Pagi ini Milly sudah tampak segar dengan dress rumahan sederhana, namun cukup membuat penampilannya terlihat angun. Milly mempersiapkan baju kerja suaminya dan memilihkan dasi untuk suaminya meskipun ia sebenarnya ragu apakah suaminya akan senang dengan pilihannya. Milly tampak menimbang, apakah sebaiknya ia urungkan saja niatnya membantu sang suami. Ia takut jika sang suami malah marah dan menolak memakainya dia mempunyai ketakutan tersendiri.
Milly menggigit ujung ibu jarinya. Akhirnya, ia mengambil baju dan dasi yang telah ia siapkan dan akan mengambalikannya ke dalam lemari. tapi, belum sempat ia membuka lemari, Max sudah keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Milly menundukkan kepalanya, ia masih belum terbiasa dengan pemandangan indah di hadapannya. Pipi putihnya seketika bersemu merah.
" Apa kau menyiapkan baju untuk ku." Max tersenyum, senang dengan perhatian yang di berikan istrinya.
"Emmm, i-iya tapi, sebaiknya kau memilih sendiri baju yang ingin kau pakai." Milly masih menundukkan kepalanya.
" Tentu saja aku akan memakai apapun yang kau siapkan."
"Benarkah!" Milly seketika mengangkat kepalanya dan memandang Max dengan bahagia perasaanya lega karena suaminya tidak menolak perhatiannya. " Ini pakailah" Milly memberikan baju dan dasi yang sudah ia pengang sedari tadi dan langsung keluar dari ruang ganti.
"Terimakasih sayang." Max menerima baju dari Milly dan langsung berganti baju pilihan sang istri. Namun saat melihat baju pilihan istrinya Max seketika mengernyit dan menyesali ucapannya tentang akan memakai apapun yang istrinya siapkan.
Milly sudah duduk di meja makan baru saja selesai menyiapkan dan menata hidangan untuk sarapan. Roti lapis, teh hangat dan buah untuknya dan suaminya. Hari ini ia masih mengambil cuti sakit, jadi ia akan seharian di rumah.
Max duduk di kursi meja makan dengan pandangan yang sulit di artikan. Namun, saat melihat binar bahagia yang terpancar dari istrinya, saat melihatnya memakai baju pilihan wanita itu seketika dadanya terasa hangat. Sebuah senyum lolos dari bibir maskulinnya, membuatnya melupakan kegemparan yang akan terjadi di kantornya saat ia sampai tempat itu nanti.
"Kenapa kau memandangku seperti itu. Apa aku terlihat tampan dengan baju ini?"
"Tentu saja, sejak dulu bagiku kau yang paling tampan." gumam Milly tapi masih bisa Max dengar dan pria itu merasa bahagia.
Max mengecup kening Milly dan mencuri ciuman singkat di bibir istrinya saat akan berangkat dan melambaikan tangannya saat sudah berada di dalam mobil.
Beberapa saat kemudian, Max menatap tajam Tom supirnya yang sedari tadi meliriknya dari kaca spion. Pria itu tampak gentar dan memalingkan tatapannya dari kaca spion.
__ADS_1
"Apa! Jangan melihatku seperti itu! jika kau tertawa akan ku potong gajimu!"
"ti- hmmmpt maaf ti-tidak tuan, saya tidak berani." Tom segera menahan gemuruh dalam dadanya hingga membuat wajahnya memerah, dan menambah kecepatan laju mobil agar segera sampai ke perusahaan. Tahan... sebentar lagi...akan segera sampai...
***
Max agak ragu saat melihat handle pintu mobil, antara ingin menguncinya atau membiarkannya saja. Sedangkan Tom, dengan sigap seperti biasa langsung membukakan pintu mobil dari luar. Mau tak mau Max segera keluar dan berjalan dengan penuh ke angkuhan dan berkarisma seperti biasanya.
Max tidak memperdulikan tatapan para karyawannya, beberapa bahkan ada yang mulutnya menganga. ia melanjutkan langkahnya menuju ruangannya dengan tatapan datar dan dingin. Walaupun sebenarnya Max sedang menahan malu, saat kurang beberapa langkah lagi menuju pintu ruangannya. Tampak Daven dengan mulut menganga dan tertawa terbahak-bahak.
Siapa yang tidak tertawa melihat penampilan Max saat ini. Ia memakai Jas berwarna ungu tua dengan kemeja berwarna kuning terang dan dasi polkadot. Dan celananya bahkan berwarna merah!
"Diam! akan kupotong gajimu bulan depan!"
"hahaha....hmmmpft...maaf bos, apa yang sebenarnya terjadi ini fashion baru?! entah kenapa ini lebih seperti Joker style."
"Istriku yang memilihkan" ucap Max dan langsung duduk di kursi singgasananya. Seketika mata Daven membulat tak percaya.
Max menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mau bagaimana lagi ia tidak ingin membuat istrinya kecewa, hubungan mereka baru saja dimulai lagipula senyum manis istrinya masih membayang di pelupuk mata Max.
***
Max pulang lebih awal, sudah tidak bisa menahan malu melihat hampir semua karyawannya memandangnya dengan mata geli menahan tawa. Tentu saja tidak ada yang berani menertawakannya secara langsung. Max berencana berbicara pada istrinya segera. Namun saat membuka pintu dan berjalan memasuki rumahnya terlihat sudah ada beberapa orang duduk di ruang tamunya.
Istrinya tampak menghampirinya dengan senyum manis. Dan beberapa orang yang duduk di ruang tamunya tampak terpaku melihat penampilannya. sampai...
hmmmpft prrutht...Jay menyemburkan teh yang ia minum pada Billy yang saat itu duduk di depannya dan tertawa terbahak bahak...
__ADS_1
"Milly apa suamimu baru saja pergi ke Carnaval. hahahaha...awh." Jay mengelus pahanya yang di tepuk Elianora. Sepertinya mereka datang untuk menjenguk Milly saat mendengar berita Milly masuk Rumah Sakit.
"Milly apa kau yang memilih kan baju untuk suamimu?" tanya Elianor. Milly menganggukkan kepalanya terbersit rasa bersalah di hatinya. sepertinya dia salah memilihkan baju untuk sang suami melihat reaksi Jay yang terbahak-bahak tadi.
.
.
.
.
" Maafkan aku, kau seharusnya tidak memakainya." Milly meremas kedua tangannya sambil menundukkan kepalanya. Beberapa saat lalu tamu-tamunya baru saja meninggalkan kediaman mereka.
" Bukankah aku sudah bilang akan memakai apapun yang kau pilihkan."
"Tapi..."
"Sudahlah aku tidak apa-apa, besok kau harus menyiapkan baju untukku seperti pagi ini."
"Maaf, se-sebenarnya aku buta warna. Aku tidak bisa mengenali beberapa warna." ucap Milly lirih, ia bersiap menerima kemarahan sang suami. Namun, Max malah memeluknya erat.
"Terima kasih sayang, setidaknya kau mau terbuka dan jujur padaku. Aku ingin kita perlahan saling mengenal." Max tersenyum lega setidaknya pemikiran buruk bahwa istrinya sengaja mempermalukannya ternyata tidak benar.
"Terimakasih karena kau tidak marah, tapi kenapa kau masih memakainya. Kau kan bisa menggantinya, hari ini kau pasti sangat malu..ya Tuhan, maafkan aku Max." Milly benar-benar merasa sangat bersalah.
"Besok bantu aku, aku akan menandai bajumu seperti bajuku. Biar hal seperti ini tidak terjadi lagi."
__ADS_1
"Oh, Jadi begitu caramu memadukan semua bajumu."
" Tidak semua, hanya setelan kerja saja."