
setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, Max merebahkan tubuhnya di. ranjang hotel. masih ada sisa waktu 3 jam lagi menemui klien ayahnya.
Maximus lyod Anak pertama pemilik L Company. perusahaan di bidang konstruksi itu tidak berkembang baik karna ayahnya tidak begitu cakap menilai orang. membuat perusahaan ayahnya di ambang kebangkrutan. dan sebagai anak ia harus membantu. setidaknya itu yang ia lakukan sekarang. meskipun, sebenarnya ia sudah punya perusahan sendiri yang lebih besar dari milik sang ayah.
sebenarnya bisa saja dia menyuntikkan aliran dana ke perusahaan kecil milik ayahnya ini dengan mudah. namun, itu bukan solusi yang Max pilih. tikus di perusahaan ayahnya masih bersembunyi dan makan dengan rakus. setidaknya tikus itu harus di singkirkan terlebih dahulu. hingga kelak hendry adiknya bisa meneruskan usaha ayah mereka.
tok...tok...tok...
Max membuka pintu kamar hotelnya. disana berdiri Danver sahabat sekaligus orang kepercayaannya.
"semuanya sudah siap Max."
" Bagus, jangan ada kesalahan sedikitpun yang membuat mereka curiga."
" jangan khawatir, semua akan berjalan sesuai rencana. bersiaplah, setengah jam lagi kita bertemu di restoran."
" aku ingin masalah ini secepatnya selesai setidaknya sebelum bulan depan harus sudah selesai. kau paham maksud ku kan." Max mencoba menekankan kata-katanya.
" oh tentu saja bos. bulan depan kau akan menikah dengan gadis impian mu!, itu sebabnya hampir tiap hari kau mengganggu ku dengan urusan perusahaan paman yang sedikit menyita waktu." denver tersenyum simpul. mengingat bos sekaligus sahabatnya ini tergila-gila pada Clara tunangannya.
__ADS_1
senyum simpul terukir di wajah Max. senyum yang jarang sekali singgah di wajahnya.
***
brugh!
seorang wanita menabrak Max di pintu restauran. wanita cantik itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, menangis dan berlari pergi meninggalkannya. beberapa pasang mata melihatnya. memang apa salahnya, Max tidak peduli dengan pandang orang lain yang seolah menyalahkannya.
entah mengapa wajah wanita itu seperti pernah ia lihat sebelumnya.
"ya ampun, apa yang kau lakukan pada wanita itu Max!"
Maximus lyod, menatap tak percaya pada Denver temannya. sambil menggerakkan kedua bahunya keatas.
Max memberikan tatapan tak peduli pada temannya itu. ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. menendang tikus yang nyaris menghancurkan perusahaan ayahnya dan fokus pada pernikahannya yang tak lama lagi.
bergegas ia mengajak denver memasuki restoran.
saat melangkah memasuki restoran dari kejauhan nampak seseorang yang sangat familiar, sedang terburu-buru keluar dari restoran.
__ADS_1
" bukankah itu Alexander?!." denver bertanya pada Max dengan keheranan.
"sepertinya benar, apa yang dia lakukan di sini? bukankah perusahaannya di london?!"
Max bertanya-tanya. apa yang di lakukan calon kakak iparnya itu.
" kita bahas nanti Max, mereka sudah menunggu kita."
Max mengangguk setuju dan berlalu menuju meja yang sudah mereka pesan untuk menemui klien kunci mereka.
***
sudah dua hari Max berada di kota ini. hari ini adalah hari terakhirnya. semua masalah perusahaan ayahnya telah selesai tikus sudah di tempatkan di tempat semestinya. yaitu penjara. tidak ada kompromi untuk penjahat dan kriminal karna Maximus lyod sangat tidak suka bila dipermainkan.
Max menikmati makan siangnya sendiri. sedangkan denver sedang mempersiapkan segala keperluan untuk kepulangan mereka kembali.
"maafkan kakak sayang." sebuah suara yang tak asing mengusik Max.
"baiklah aku akan mengabulkan permintaan kakak. meskipun, sebenarnya aku lebih suka kakak menyuruh ku malakukan hal yang lain saja. apakah ini juga permintaan-nya." suara lembut dan sedih seorang wanita, yang bisa d pastikan bukan suara Clara calon istrinya. mengingatkannya pada sosok seorang gadis di masa lalu Max.
__ADS_1
masa lalu yang ingin ia lupakan. kejadian yang tidak mengenakkan.