
milly menyelesaikan pekerjaannya hari itu dengan sempurna. merapikan meja menumpuk map-map menjadi satu dan tumpukan itu sudah mendarat dengan aman di meja kerja bosnya. senyum terkembang di bibirnya yang tipis.
dengan langkah riang Milly melangkahkan kakinya menuju toilet. mengeluarkan lipstik dan bedak untuk memperbaiki make up sederhananya. ia ingin tampil sempurna di hadapan kakaknya.
" kau sudah mau pulang?." lanny teman sekantornya namun beda divisi bertanya.
"ehmmm, sudah jam pulang kantor dan tugas ku sudah selesai." sahut milly sambil memasukkan kembali bedak dan lipstiknya.
"kau akan berkencan?! biasanya kau tidak berdandan. pasti lelaki ini istimewa."
" sangat...sangat...istimewa"
" oh ya ampun, pasti banyak pria yang akan patah hati!"
"oh lanny, kau ini yang benar saja." seru milly sambil tertawa renyah. Milly tidak pernah merasa ada lelaki yang mau mendekatinya lebih dari sebuah pertemanan. yah, setidaknya ia yang membuat batasan itu.
namun di sisi lain lanny sangat tau betul bahwa banyak karyawan pria yang sebenarnya menaruh hati pada milly namun takut kehilangan sosok gadis periang dan murah senyum itu bila di tolak dan menyebabkan ketidaknyamanan di tempat mereka bekerja. karna d kantor ini Milly adalah penghibur bagi semua orang bahkan di saat deadline sekalipun. senyum dan clotehannya membuat suasana hidup.
tak sedikit pria yang coba mendekati Milly. namun, saat hubungan mereka sudah agak lebih dekat, pria-pria itu merasa Milly menarik diri dan berubah menjadi sosok yang asing.
Milly gadis cantik dengan tubuh semampai. rambut coklatnya panjang dengan potongan rambut sederhana. mata coklatnya selalu berbinar seolah hidupnya penuh dengan kebahagiaan. pembawaannya selalu ceria, jarang terlihat murung dan sedih. tapi, siapa yang tahu!
sekalipun lanny teman dekatnya di kantor ini. ia merasa ada beban yang tidak mau di bagi gadis murah senyum itu.
" jadi,..siapa pria beruntung itu?!" lanny sudah tidak tahan untuk bertanya.
__ADS_1
sambil tersenyum dan merapikan rambutnya, milly berkata..
"kakakku.."
***
The Kings Hotel
taxi yang di naiki Milly berhenti di sebuah hotel mewah yang sangat terkenal. rambut coklat panjangnya terurai lembut menyentuh punggungnya. menggunakan stelan kerja berwarna coklat susu, sepatu hak 5cm yang tidak begitu nyaman ia pakai. karna, sejujurnya ia lebih nyaman menggunakan flat shoes.
Milly menaiki lift, langsung menuju restoran hotel dan mengedarkan pandangannya ke arah meja. dan melihat lelaki tampan berambut pirang sedang melambaikan tangan kearahnya. senyum merekah di bibirnya, ia sangat merindukan kakak nya. sangat!
mereka berpelukan sejenak melepas rindu. kemudian, duduk saling berhadapan. meja mereka dekat dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan di luar hotel, dan tertutup sekat kaca di tiap meja sehingga ada sedikit privasi bila berbincang.
setelah menanyakan kabar masing-masing alex memulai bertanya.
"ehmmm...setidaknya saat ini aku cukup bahagia."
Milly melihat sedari tadi kakaknya merasa tidak nyaman. meremas kedua tangannya dan kadang menunduk. seolah ingin mengatakan sesuatu namun ragu.
" pesanlah sesuatu, kita sudah sangat lama tidak makan malam bersama." Axel berkata sambil tersenyum dan melambaikan tangan memanggil pelayan dan mereka pun memesan makanan.
" ada apa?!.... kakak, apakah kau punya masalah?!"
"iya masalah besar! dan hanya kau yang bisa membantuku..." sejenak ragu alex tidak meneruskan kalimatnya.
__ADS_1
" tentu saja aku pasti akan membantumu!"
" kau yakin?!"
Milly menganggukkan kepalanya dengan mantap. mana mungkin dia tidak membantu saudaranya yang sedang dalam kesulitan.
apalagi kakaknya, orang yang sangat ia sayangi. benar bukan?!
***
" Apa!"
Milly memandang wajah kakaknya terkejut luar biasa. ia sungguh tidak percaya! air mata sudah berjatuhan dari pelupuk matanya. basahi pipinya. sesekalia ia memijit pelipisnya dan menghapus air matanya.
" kakak...yang benar saja!"
Milly mulai menangis sesenggukan sambil menatap kertas bertuliskan kupon permintaan. yah, kupon yang selalu ia berikan pada kakaknya setiap sang kakak berulang tahun. karna hanya itu yang dapat ia berikan. namun kakaknya tak pernah sekalipun menggunakan kupon itu. saat itu, kakaknya hanya mengatakan akan menggunakannya saat benar-benar membutukan. karna kupon itu sangat berharga. sekarang, entah mengapa ia menatap ngeri pada kertas-kertas itu.
alex mengusap kasar wajahnya. campuran antara sedih melihat adiknya menangis dan persoalan penting yang memang sangat mendesak. alex sangat membenci situasi yang membuatnya dilema dan harus memilih pilihan yang sulit. kalau saja ada cara lain! ia bahkan ingin memukul dirinya sendiri karna sudah membuat adiknya meneteskan airmata. demi Tuhan! Milly sudah banyak menderita.
Milly berjalan dengan langkah cepat menuju pintu resto. sambil sesekali menghapus air matanya, dan sesenggukan kecil masih meluncur di bibirnya.
brugh!
Milly tidak sengaja menubruk sosok lelaki didepannya, menatap nanar sosok itu dan seketika airmatanya mengalir lagi. tergesa berlari pulang, meninggalkan lelaki yang menjadi penyebab kemalanganya.
__ADS_1
" ya ampun, apa yang kau lakukan pada wanita itu Max!"
Maximus lyod, menatap tak percaya pada Denver temannya. matanya mengisaratkan ketidakpedulian. hanya saja wanita tadi tampak tak asing baginya. tapi, siapa?!